Airlangga: New Normal Bagaikan Dua Sisi Mata Uang

Airlangga: New Normal Bagaikan Dua Sisi Mata Uang
Airlangga Hartarto. (Foto: Antara)
Robertus Wardi / FER Jumat, 5 Juni 2020 | 16:27 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto mengemukakan, penerapan kebijakan tatanan kenormalan baru atau new normal, bagaikan dua sisi mata uang yang sama pentingnya. Kebijakan tersebut, harus mempertimbangkan sisi kesehatan atau keselamatan masyarakat. Namun di sisi lain, roda perekonomian juga harus berjalan.

Baca Juga: Golkar Ajak Masyarakat Sukseskan New Normal

"Antara kesehatan dan sosial-ekonomi merupakan dua sisi dari sebuah koin (mata uang, red) yang tidak dapat dipisahkan,” kata Airlangga, dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Partai Golkar, Kamis (4/6/2020) malam.

Airlangga mengutip proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 yang dibuat IMF. Disebutkan tahun 2020 ini, pertumbuhan ekonomi global minus 3 persen. Untuk negara maju mencapai minus 6,1 persen, sementara negara berkembang (emerging country) minus 1, dan Amerika Serikat (AS) mencapai minus 5,9 persen.

Hanya ada tiga negara yang diperkirakan mengalami pertumbuhan postif yaitu Tiongkok 1,2 persen, India 1,9 persen dan Indonesia 0,5 persen. Dalam proyeksi tahun 2021, IMF menyebut berbagai ekonomi negara di dunia sudah masuk posisi positif.

Baca Juga: New Normal, Jokowi Salat Jumat di Masjid Baiturrahim Istana

"Posisi negara-negara lain semuanya menunjukkan negatif. Ini sudah mengindikasi bawah dunia hari ini sudah masuk resesi. Ada yang sangat dalam seperti kita lihat di kuartal pertama 2020, Hongkong sudah minus 8,9 persen. Kemudian, diantara negara-negara tersebut, Indonesia masih positif 2,97 persen bersama dengan Vietnam 3,82 persen dan Korea Selatan 1,29 persen," kata Airlangga.

Airlangga menegaskan, kebijakan new normal agar ekonomi Indonesia tidak masuk dalam pertumbuhan negatif seperti berbagai negara di dunia. Tatanan kenormalan baru dinilai sebagai adaptasi terhadap virus corona sebelum vaksin ditemukan.

"Adapun yang perlu dijaga dalam tatanan new normal adalah menggunakan masker dan jaga jarak, sering cuci tangan, pakai hand sanitizer, dan meningkatkan imunitas. Di sektor usaha dan sosial seperti pendidikan dan keagamaan harus diatur secara ketat protokol kesehatan oleh masing-masing sektor," jelasnya.

Baca Juga: Menuju New Normal, Kemampuan Faskes Wajib Dipetakan

Menurut Airlangga, pemerintah tidak mencabut kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kebijakan itu akan terus berlaku selama status pandemi Covid-19 belum dicabut oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

"Indonesia akan melakukan adaptasi yang disebut dengan normal baru. Ini merupakan langkah strategis yang merupakan rekomendasi WHO dan sudah diberlakukan di beberapa negara," tandas Airlangga.



Sumber: BeritaSatu.com