Pilkada di Tengah Pandemi Disebut dapat Munculkan Oligarki Baru

Pilkada di Tengah Pandemi Disebut dapat Munculkan Oligarki Baru
Ilustrasi Pilkada 2020. (Foto: SP/Muhammad Reza)
Carlos KY Paath / WM Jumat, 5 Juni 2020 | 23:32 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Indopolling Network, Wempy Hadir menyatakan Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) Serentak 2020 berbeda dengan pesta demokrasi lokal sebelumnya. Sebab pilkada kali ini digelar di tengah pandemi Covid-19.

“Demokrasi lokal di tengah pandemi bisa munculkan oligarki baru. Potensi-potensi penggunaan kekuasaan yang dilakukan kontestan petahana sangat tinggi. Negara melalui Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) punya tugas tidak mudah mengawasi ini,” kata Wempy dalam diskusi "Mengawal Demokrasi Di Tengah Pandemi, Menakar Kesiapan Pilkada Serentak 2020", Jumat (5/6/2020).

Menurut Wempy, dibutuhkan peran masyarakat sipil agar pilkada tidak dibajak kepentingan oligarki. Wempy juga menuturkan masyarakat saat ini menghadapi persoalan rumit. “Bicara ekonomi sangat pelik. Ada ungkapan masyarakat di daerah itu soal 'waspada' atau walau sedikit pasti ada. Bawaslu mesti ambil sikap tegas agar penyalahgunaan kekuasaan di tingkat lokal tidak menyebar,” ucap Wempy.

Wempy pun menyebut, “Kalau kepala daerah petahana menggunakan bansos (bantuan sosial) untuk meningkatkan popularitas, dan elektabilitas, serta memakai berbagai cara untuk merebut kekuasaan, maka demokrasi kita mengalami kemunduran. Demokrasi hanya akan melahirkan pemimpin, tapi cara-caranya tidak demokratis.”

Di sisi lain, Wempy menegaskan Pilkada Serentak 2020 menjadi sebuah keniscayaan. “Mau tidak mau harus dijalankan. Transisi kempimpinan lokal harus dijalankan, tidak boleh mandek hanya karena pandemi,” kata Wempy



Sumber: BeritaSatu.com