Hendak Berwisata atau Joging? Baca Dulu Apa Kata Ketua Gugus Tugas Covid-19

Hendak Berwisata atau Joging? Baca Dulu Apa Kata Ketua Gugus Tugas Covid-19
Doni Monardo. (Foto: BNPB)
Markus Junianto Sihaloho / JEM Kamis, 18 Juni 2020 | 12:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo, menyatakan pihaknya sedang menyiapkan sejumlah kebijakan mengenai pembukaan wilayah terkait industri pariwisata.

Sejauh ini, Gugus Tugas sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, beserta para kepala daerah.

Dari Gugus Tugas sendiri, usulannya adalah kegiatan pariwisata dibagi menjadi dua bagian, yakni kegiatan berisiko rendah dan kegiatan berisiko tinggi.

"Untuk kegiatan pariwisata dengan risiko yang rendah, mungkin bisa dimulai tetapi dengan syarat daerah dan para pengelola kegiatan pariwisata harus siap dulu. Itu pun baru boleh dimulai setelah ada izin dari kementerian terkait," kata Doni Monardo dalam rapat dengan Komisi X DPR, Rabu (17/6/2020).

Bagi Gugus Tugas, dalam kelompok itu adalah utamanya yang bersifat wisata alam yang tidak menimbulkan kerumunan. Jadi sifat wisatanya adalah pendekatan terhadap ekosistem. Wilayahnya mencakup daerah pegunungan dan taman nasional.

"Kami tetap harus berhati-hati karena tidak ingin kedatangan sejumlah pihak yang tidak mendapatkan suatu cara penanganan yang baik," imbuhnya.

Nah untuk pariwisata dengan risiko tinggi, pihaknya sudah bicara dengan sejumlah pejabat daerah seperti gubernur Bali. Orang daerah sendiri, termasuk Bali, justru berharap agar pariwisata tidak dibuka dulu.

Oleh Gugus Tugas, aspirasi itu lalu disampaikan kepada Kementerian Pariwisata agar menyiapkan konsep pariwisata berbeda untuk wilayah seperti Bali. Terutama dalam konteks menyaring dan menentukan siapa-siapa saja yang boleh mengikuti kegiatan pariwisata di Bali.

"Terutama tentunya orang yang secara kesehatan itu memang sehat," kata Doni.

Untuk itu, maka infrastrukturnya harus terlebih dahulu dilengkapi. Misalnya pelabuhan dan bandara harus dilengkapi mesin tes PCR yang lebih banyak, sehingga ketika wisatawan datang, langsung ketahuan siapa yang sakit dan siapa yang tidak.

"Kami yakin dengan kehati-hatian, akan dapat memberikan kepercayaan kepada banyak orang, baik dari dalam maupun luar negeri, yang pada akhirnya nanti memilih tujuan wisata yang selama ini menjadi harapan banyak pihak," katanya.

Sejauh ini, para kepala daerah sudah berinisiatif mengamankan wilayahnya masing-masing. Seperti di Bintan, Kepulauan Riau, pihak Pemda menyadari bahwa kesiapan infrastruktur belum terjamin, sehingga wisatawan belum diizinkan masuk.

Untuk kegiatan kegiatan olahraga, Doni mengatakan sebenarnya termasuk kegiatan dengan risiko rendah. Terkecuali olahraga seperti sepakbola dan basket yang rawan sentuhan fisik.

"Selama olahraga itu tidak menimbulkan risiko bagi masyarakat, maka tentunya tidak ada alasan bagi kita untuk melarang. Seperti halnya kegiatan perorangan yang bisa dilaksanakan secara rutin setiap hari, setiap saat bahkan untuk joging, untuk jalan di taman. Karena olahraga jadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam penanganan Covid," ulasnya.



Sumber: BeritaSatu.com