Jokowi Akan Reshuffle Kabinet, Ini Respons PAN

Jokowi Akan Reshuffle Kabinet, Ini Respons PAN
Politisi PAN, Saleh Partaonan Daulay. (Foto: PAN)
Markus Junianto Sihaloho / WBP Senin, 29 Juni 2020 | 11:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Fraksi Partai Amanat (PAN), Saleh Partaonan Daulay, menyatakan pihaknya memahami permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kepada para menterinya untuk bekerja lebih keras dengan perspektif krisis di tengah pandemi Covid-19. PAN juga mendukung jika Jokowi melakukan perombakan (reshuffle) kabinet.

Saleh menonton video dari Sekretariat Negara yang berisi arahan presiden kepada para menterinya. Presiden menilai capaian-capaian para pembantunya belum ada yang memuaskan. Bahkan, jauh di bawah harapan presiden. Padahal implikasi kinerja jelek ini luas, termasuk tingkat ekonomi masyarakat. Presiden juga khawatir betul dengan tingkat pengangguran yang semakin tinggi. "Setelah mendengar pidato Jokowi, saya berkesimpulan bahwa Presiden sungguh-sungguh marah dan kecewa," kata Saleh, Senin (29/6/2020).

Baca juga: Jengkel dengan Kinerja Menteri, Jokowi: Bisa Saja Reshuffle

Pihaknya dapat memahami keprihatinan presiden bahwa apa yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini sudah extraordinary alias kejadian luar biasa. Sayangnya para menteri menganggap masih biasa-biasa saja. Titik itu yang menyebabkan presiden kesal dan marah. "Apa yang disampaikan presiden itu menurut saya adalah benar. Sangat wajar dan tepat jika presiden marah. Tugas beliau adalah mengevaluasi kinerja para pembantunya. Jika ada yang tidak memuaskan, presiden yang berhak memberikan teguran dan peringatan," ulas Saleh.

Lebih lanjut, Saleh mengatakan pihaknya juga memperhatikan ketika Presiden Jokowi sudah menyebut akan melakukan apa pun. Termasuk melakukan reshuffle kabinet. Bagi PAN, hal ini merupakan sinyal bahwa presiden sudah merasakan ada yang tidak beres dalam kabinetnya.

PAN menyadari sepenuhnya bahwa persoalan evaluasi dan reshuffle kabinet adalah hak prerogatif presiden. Jika memang merasa perlu melakukan perombakan, bisa dilakukannya kapan saja dan tidak akan ada yang bisa menghalangi.

“Saya melihat bahwa fokus presiden adalah penyelamatan 267 juta warga negara. Dan itu disebut beberapa kali dalam pidato. Untuk itu, presiden rela melakukan banyak hal. Termasuk reshuffle dan mengeluarkan payung hukum yang diperlukan," pungkas Saleh.



Sumber: BeritaSatu.com