Masih Ada Menteri Bekerja di Bawah Ekspektasi Presiden

Masih Ada Menteri Bekerja di Bawah Ekspektasi Presiden
Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Foto: Biro Pers Kepresidenan)
Yeremia Sukoyo / YUD Minggu, 12 Juli 2020 | 19:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo berharap agar para menterinya dapat bekerja luar biasa untuk menghadapi berbagai permasalahan yang tengah dihadapi Indonesia. Salah satunya terkait penanganan pandemi virus corona atau Covid-19.

Keinginan Jokowi agar para menteri dapat bekerja luar biasa dimaksudkan untuk mempercepat serapan stimulus. Namun demikian, Presiden Jokowi melihat ada menteri yang bekerja di luar harapannya.

"Kekecewaan Jokowi bukan tanpa alasan. Masih ada menteri yang bekerja di bawah ekspektasi presiden. Padahal presiden sudah memberikan segala-galanya, untuk melawan corona, termasuk kebijakan yang dipermudah. Tapi cara kerjanya seperti biasa-biasa saja," kata pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, di Jakarta, Minggu (12/7/2020).

Teguran Presiden Jokowi tidak hanya sekali terjadi, yakni pada 18 Juni 2020 lalu. Namun, kekesalan Jokowi juga kembali ditunjukkan dengan menyebut work from home (WFH) pejabat seperti cuti pada 7 Juli 2020.

"Mungkin masih dilihat tidak ada yang luar biasa. Saya melihat kemarahan Jokowi merupakan puncak eskalasi kekecewaan presiden yang melihat menterinya bekerja biasa-biasa saja," ucapnya.

Saat ini, menurutnya, ada menteri yang mulai menunjukkan keseriusannya bekerja untuk rakyat. Menteri ada yang mulai nampak bekerja luar biasa, walaupun secara keseluruhan belum terlihat.

"Sekarang menteri sudah menunjukkan keseriusannya, seperti mempersiapkan ketahanan pangan untuk jangka panjang. Namun bagi sebagian lagi masih belum ada yang nampak signifikan," kata Adi.

Dirinya meyakini, jika masih ada menteri yang bekerja biasa-biasa saja, maka Jokowi memang akan melakukan perombakan atau reshuffle kabinet. Diprediksikan reshuffle kabinet paling cepat akan dilakukan pada Oktober 2020, atau tepat satu tahun pemerintahan periode kedua Jokowi.

"Jika kondisi ini masih terus terjadi, paling cepat Oktober di satu tahun pemerintahan jokowi, atau di akhir tahun Desember ada reshuffle. Namun, hal itu tentu saja setelah melewati berbagai penilaian presiden," kata Adi Prayitno.



Sumber: BeritaSatu.com