Formappi: Jabatan Tambahan Membawa Prabowo Kembali Bersinar

Formappi: Jabatan Tambahan Membawa Prabowo Kembali Bersinar
Presiden Joko Widodo didampingi Menhan Prabowo Subianto setibanya di bandara Tjilik Riwut untuk meninjau perkembangan Food Estate dan penanganan COVID-19, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis, 9 Juli 2020. (Foto: Istimewa)
Robert Wardy / WM Senin, 13 Juli 2020 | 19:56 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti dari Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lusius Karus melihat penambahan tugas kepada Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto sebagai Ketua Ketahanan Pangan Nasional sangat strategis dijadikan sebagai panggung politik. Jika Prabowo berhasil dengan jabatan tambahannya, akan membuat citra politiknya kembali bersinar.

"Ia akan mendapat apresiasi dan ini modal penting jika ke depannya Prabowo mau mengkapitalisasinya.
Demikian juga jika Prabowo gagal tentu akan juga ikut menentukan langkah politiknya ke depan," kata Lusius, kepada Beritasatu.com,  di Jakarta, Senin (13/7/2020).

Ia melihat dari sisi Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi), penunjukan Prabowo untuk program ketahanan pangan terlihat tidak tepat.

Hal itu karena Prabowo adalah menteri urusan pertahanan nasional. Yang diurus Prabowo sebagai Menhan adalah soal-soal pertahanan negara seperti masalah strategi pertahanan, persenjataan, dan lain-lain.

Namun Presiden Jokowi punya kewenangan untuk memberikan tugas tambahan kepada menteri tertentu. Sebagai Presiden, Jokowi bisa melakukan hal itu untuk kepentingan efektivitas kabinetnya.

"Yang menarik dari kekuasaan presiden itu adalah ketika urusan yang menjadi kewenangan Menteri Pertanian, justru dipindahkan ke menteri pertahanan.

Tentu Jokowi yang paling tahu. Namun bisa diduga-duga alasannya," jelas Lusius.

Dia menduga, bisa jadi Jokowi membaca ketidakmampuan menteri terkait sehingga menunjuk menteri lain untuk program khusus yang dianggap perlu langkah khusus. Bisa juga Jokowi menunjuk Prabowo atas pertimbangan politik. Menteri Pertanian yang ada mungkin tak sejalan dengan misi politik Jokowi sehingga memutuskan program ketahanan pangan dipimpin Prabowo.

"Jika Prabowo berhasil, Jokowi akan diuntungkan karena ia yang memberikan tugas itu kepada Prabowo. Sebaliknya jika gagal, Jokowi akan mendapatkan kredit minus lebih banyak," tegas Lusius.

Dia melihat pendekatan politik dengan kubu Prabowo tidak serta-merta mengabaikan figur-figur potensial lain seperti Anis Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil dan sebagainya. Mereka semua bagi Jokowi adalah masa depan yang penting untuk didekati sejak sekarang ini. Kondisi itu akan membuat Jokowi secara politisi diterima berbagai kelompok.

 



Sumber: BeritaSatu.com