Aturan Kode Etik DKPP Dinilai Perlu Ditata Ulang
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Aturan Kode Etik DKPP Dinilai Perlu Ditata Ulang

Senin, 10 Agustus 2020 | 21:03 WIB
Oleh : Robertus Wardi / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Ramlan Surbakti, mengusulkan aturan kode etik yang ada di Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) perlu ditata ulang. Pasalnya, ada campur-aduk antara hukum positif dan aturan kode etik yang terjadi selama ini.

Baca Juga: Jokowi Akan Cabut Keppres Pemberhentian Evi Novida

"Kode etik harus dirumuskan ulang. Harus dipisahkan hukum postif dengan kode etik," kata Ramlan dalam diskusi bertema 'Quo Vadis Lembaga Penegakan Kode Etik Pemilu' di Jakarta, Senin (10/8/2020).

Ia menanggapi pemberhentian Evi Novida Ginting Malik dari komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU). Evi diberhentikan berdasarkan putusan DKPP tanggal 18 Maret 2020. Tidak terima atas pemberhentiannya, Evi lakukan gugatan ke PTUN sehingga menang.

Ramlan melihat ada banyak aturan-aturan hukum positif yang masuk ke wilayah kode etik yang terjadi selama ini. Apalagi, jika anggota DKPP hanya berlatar belakang sarjana hukum dan tidak pernah menjadi anggota KPU atau Bawaslu.

Anggota DKPP yang tidak punya pengetahuan cukup tentang Pemilu dan lembaga penyelenggara menempatkan dirinya seperti seorang hakim. Persidangan yang digelar juga layaknya persidangan seperti di pengadilan. Padahal masalah kode etik, ada yang bersifat personal dan tidak bisa diputuskan hitam-putih atau benar-salah seperti di pengadilan.

Baca Juga: KIPP Dukung Pembentukan Pengadilan Khusus Pemilu

"Masalah pelanggaran etik harus dilihat konteksnya. Misalnya kalau ada pernyataan penyelenggara yang bersifat internal dan terbatas, kan tidak bisa langsung diputuskan bersalah. Kecuali kalau dinyatakan di depan umum," jelas Guru Besar pada Universitas Airlangga Surabaya ini.

Kedepan, dia menyarankan agar aturan-aturan dari hukum positif yang sudah masuk dalam peraturan DKPP agar dihapus. Aturan harus terbatas pada masalah kode etik penyelenggara pemilu. Dia juga meminta agar persidangan DKPP tidak seperti di pengadilan. Persidangan harus bersifat dialog dan klarifikasi.

Selain itu, Ramlan meminta agar calon anggota DKPP harus pernah menjadi anggota KPU atau Bawaslu. Kemudian memiliki pengetahuan (knowledge) yang lebih tinggi dari anggota KPU dan Bawaslu. Minimal kemampuannya setara dengan anggota KPU dan Bawaslu yang sedang menjabat. Jika tidak, lembaga DKPP tidak punya wibawa. Putusan yang dihasilkan juga tidak berkualitas unggul karena keterbatasan pengetahuan anggota DKPP.

Sementara Guru Besar dari Universitas Indonesia (UI), Topo Susanto mengemukakan pengalaman yang terjadi selama ini adalah DKPP terlalu ketat mengatur pelanggaran etika khususnya terkait profesionalitas. Misalnya, Bawaslu mengeluarkan sebuah putusan. Kemudian tidak silaksanakan KPU karena mungkin ada acuan lain seperti putusan Mahkamah Konstotusi (MK) atau Mahkamah Agung (MA). Karena tidak menjalankan putusan Bawaslu itu, lalu dianggap melanggar kode etik.

Baca Juga: Evi Novida Menang Gugatan, Ini Jawaban DKPP

"Ini kan tidak benar. Karena tidak jalankan putusan lalu dianggap melanggar etik. Putusan apa-apan itu," ujar Topo.

Dia memegaskan, jika masalah etik misalnya perzinahan, selingkuh, melanggar sumpah jabatan, perjudian dan sebagainya, bisa langsung dikenakan aturan kode etik. Tetapi tekait profesionalitas, tidak bisa masuk perlanggaran etika. Dia setuju agar kedepan, perlu tata ulang aturan kode etik.

"Agar tidak terjadi tumpang-tindih dan para penyelenggara pemilu dihukum karena profesionalitasnya," tutup Topo.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Dukung Jokowi-Prabowo untuk Pilpres 2024, M Qodari: Indonesia Akan Maju

M Qodari optimistis Indonesia akan maju apabila Jokowi-Prabowo berpasangan pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (pilpres) 2024.

POLITIK | 17 September 2021

Saksi Kubu Moeldoko Dukung AHY Sebagai Ketum Partai Demokrat

Saksi dari kubu Moeldoko dihadirkan dalam sidang gugatan terhadap kepengurusan Partai Demokrat dengan ketua umum (ketum) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

POLITIK | 17 September 2021

Pilkades Serentak di Kabupaten Tangerang Akan Digelar 10 Oktober 2021

Pilkades serentak di Kabupaten Tangerang akan digelar pada 10 Oktober 2021.

POLITIK | 17 September 2021

Gabung Partai Emas, Sonny Tulung Dipercaya Jadi Wakil Ketua Umum

Sonny Tulung dipercaya untuk menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Emas.

POLITIK | 17 September 2021

Ahmad Basarah: Pernyataan Pangkostrad Letjen Dudung Konteksnya Toleransi Kebangsaan

Ahmad Basarah menilai pernyataan Pangkostrad Letjen Dudung Abdurachman, konteksnya toleransi kebangsaan.

POLITIK | 17 September 2021

Relawan Optimistis Sandiaga Uno Maju Capres 2024

Sandiaga Uno berpeluang untuk maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (pilpres) 2024.

POLITIK | 17 September 2021

Upaya Golkar Menang Pemilu 2024, Airlangga Hartarto: Lakukan Pendekatan Kultural

Airlangga Hartarto meminta seluruh kader Golkar untuk melakukan pendekatan kultural kepada masyarakat sebagai upaya pemenangan Pemilu 2024.

POLITIK | 17 September 2021

Gibran Puji Anies Baswedan, Politikus PDIP Singgung Filosofi Kepemimpinan Jawa

Gibran Rakabuming Raka memuji Anies Baswedan terkait penanganan Covid-19. Politikus PDIP Ahmad Basarah menilai pujian itu sebagai suatu kewajaran.

POLITIK | 17 September 2021

Berduka Atas Gugurnya Nakes di Papua, Puan Kecam Keras Aksi Teror KKB

Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tenaga kesehatan (nakes), Gabriela Meilan akibat penyerangan KKB di Kiwirok

POLITIK | 16 September 2021

Menteri Tjahjo Pecat PNS yang Bolos Setahun

Menteri PAN dan RB Tjahjo Kumolo memecat PNS yang bolos setahun.

POLITIK | 16 September 2021


TAG POPULER

# KKB


# Trending Topic


# Update Covid-19


# Vaksin Nusantara


# Erick Thohir



TERKINI
Aset Rp 6 Triliun, Liabilitas Bumiputera Rp 68 Triliun

Aset Rp 6 Triliun, Liabilitas Bumiputera Rp 68 Triliun

EKONOMI | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings