Sadar Potensi Di-bully, Ini Pernyataan Lengkap Megawati soal Milenial, Isu PKI, hingga Demo Anarkistis
Logo BeritaSatu

Sadar Potensi Di-bully, Ini Pernyataan Lengkap Megawati soal Milenial, Isu PKI, hingga Demo Anarkistis

Rabu, 28 Oktober 2020 | 18:16 WIB
Oleh : Markus Junianto Sihaloho / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Momentum peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober hari ini jadi momentum buat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri berbicara mengenai politik aktual. Megawati menyampaikan pertarungan kepentingan politik para elite sampai tantangan agar para orang muda Indonesia melakukan refleksi diri sehingga bisa lebih hebat dibanding para pemuda Indonesia pendiri bangsa.

Hal itu disampaikan Megawati saat peresmian sejumlah kantor partai di daerah lewat virtual, Rabu (28/10/2020). Megawati sejak awal menyadari bahwa pernyataannya soal orang muda Indonesia akan keras dan kemungkinan akan dibully di media sosial.

Awalnya, Megawati berbicara soal pentingnya membangun bangsa dan negara agar Indonesia bisa bertahan sepanjang masa, untuk anak dan cucu. Pengalaman negara lain yang lebih maju seperti Amerika Serikat dan Tiongkok harus dipelajari oleh orang-orang Indonesia.

"Suatu masa kalian (kita, red) juga habis, pensiun. Pasti akan ada turunan, anak keturunan kita. Masa negara yang sudah merdeka 75 tahun ini tidak bisa bersaing dengan negara-negara lain?" kata Megawati.

"Kita mesti jangan jadi kuper, buka diri ke dunia. Anak muda kita aduh, saya bilang sama presiden, jangan dimanja. Generasi kita generasi milenial. Saya mau tanya hari ini apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa viral," kata Megawati lagi.

Namun ironisnya, dijelaskan Megawati, saat ini Indonesia justru masih berkutat dengan isu-isu tak benar yang sengaja diviralkan. Dia mencontohkan tuduhan bahwa dirinya, PDIP, hingga Presiden Joko Widodo adalah PKI (Partai Komunis Indonesia, red).

Dibeberkan oleh Megawati, ayahnya Bung Karno adalah pendiri republik. Sama dengan sang ayah, ibunya Megawati, Fatmawati, juga pahlawan nasional. Megawati sendiri tiga periode menjadi anggota DPR, pernah menjadi presiden dan wakil presiden. Megawati juga menerima berbagai penghargaan, termasuk gelar doktor kehormatan dari berbagai kampus dalam negeri maupun luar negeri.Tak mungkin dirinya bisa mencapai itu semua bila dirinya adalah anggota PKI.

"Maksud saya tidak untuk sama sekali untuk menyombongkan diri. Tapi ini fakta pengalaman hidup, ngapain orang zaman gini masih ngomongin PKI? PKI buktikan dong. ada aturannya jangan hanya untuk membohongi rakyat," ujar Presiden RI Kelima itu.

"Lama-lama saya kesal. Saya nanya acara ini bisa viral apa tidak? Viral oke. Saya yang ngomong ini, nanti kalian lihat kalau saya di bully, lawan. Masa presiden kelima RI dibilang PKI? Terus Pak Jokowi, pilihan rakyat langsung lho. Kecuali presiden tidak langsung, ada kemungkinan. Ini rakyat langsung lho, dua kali, kita pengusungnya, mau lagi dibilang katanya turunan bapak ibunya tak jelas. Bayangkan presiden RI (dibegitukan, red)," beber Megawati.

Fenomena lainnya adalah demonstrasi yang belakangan sangat marak. Menurut Megawati, aturan hukum membolehkan demonstrasi. Pasca reformasi 1998 setelah runtuhnya Orde Baru, Indonesia masuk ke dalam alam demokrasi. Namun ditegaskannya, demonstrasi bukan berarti boleh melakukan aksi perusakan fasilitas publik.

"Kurang apa saya bilang pada mereka yang mau demo-demo, ngapain sih kamu demo-demo. Kalau tak cocok, pergi ke DPR. Di sana ada yang namanya rapat dengar pendapat. Itu terbuka bagi aspirasi," kata Megawati.

"Masya Allah, susah-susah bikin halte-halte Transjakarta, enak aja dibakar, emangnya duit lo? Ditangkap tak mau, gimana ya. Aku sih pikir lucu banget nih Republik Indonesia sekarang," tambahnya.

Megawati lalu bertanya kepada Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP PDIP yang juga mantan gubernur Jakarta, yang ada di sebelahnya. Yang ditanyakan adalah biaya untuk membangun sebuah halte. Djarot menjawab biayanya sekitar Rp 3 miliar.

Mengetahui itu, Megawati mengatakan biayanya saat ini kemungkinan lebih besar karena pengaruh inflasi.

"Kalau ibu-ibu, patokannya harga emas gitu. Mana mungkin lagi sekarang kalau mau dibenerin itu Rp 3 Miliar cukup? Coba bayangkan. Itu rakyat siapa ya? Itu yang namanya anak-anak muda, saya ngomong gini itu dalam Sumpah Pemuda loh," kata Megawati.

"Ya bayangin jaman dulu kok bisa ya pemuda, karena tertekan, karena belum merdeka, dia sampai berani bikin sumpah. Ayo kalau kalian hari ini bisa bikin sumpah kayak begitu. Saya suka terkagum-kagum kok. Waduh pikirannya jaman dulu loh, sampai boleh bersatu bikin sumpah. Eh jaman penjajahan, mereka ditangkep lah. Nah sekarang ini sudah merdeka, dirusak sendiri. Gimana ya?"

"Kalau banyak yang mau jadi presiden, silahkan. Itu adalah hakmu. Tetapi ingat kamu hidup di sebuah negara yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sabar saja lah, ntar juga datang 2024, kita tanding lagi. Coba bayangkan sampai saya mikir mau jadi apa ini orang Indonesia, sudah lupa yang namanya sejarah," pungkasnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Pusako Beri 4 Catatan Penting untuk Timsel KPU dan Bawaslu

Direktur Pusako Fakultas Hukum Universitas Andalas Feri Amsari memberikan empat catatan pentinu bagi Tim seleksi calon anggota KPU dan Bawaslu.

POLITIK | 17 Oktober 2021

Jelang Sumpah Pemuda, Ini Pesan Basuki Tjahaja Purnama untuk Generasi Muda

BTP pun berpesan kepada generasi sekarang agar tidak berhenti menolong orang karena menolong orang adalah sebuah kesempatan yang belum tentu dapat terulang.

POLITIK | 17 Oktober 2021

Dave Laksono: Kosgoro 1957 Siap Menangkan Airlangga Hartarto pada Pilpres 2024

Dave Laksono menegaskan Kosgoro 1957 mendukung Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto maju sebagai capres pada Pilpres 2024.

POLITIK | 17 Oktober 2021

Sahabat Ganjar Gelar Aksi Kemanusiaan di 4 Kota di Jabar

Sahabat Ganjar, relawan pendukung Ganjar Pranowo menggelar aksi kemanusiaan di 4 kota di Jawa Barat, yakni Kuningan, Cirebon, Indramayu dan Karawang.

POLITIK | 17 Oktober 2021

Sekjen Partai Gelora: Kultur Umat Islam Indonesia Sejatinya Moderat

Sekjen Partai Gelora Indonesia, Mahfuz Sidik mengatakan, kultur umat Islam Indonesia adalah moderat, namun, politik kerap memicu ekstremisme pemikiran.

POLITIK | 17 Oktober 2021

PDIP: Rocky Gerung Bodohi Diri Sendiri

Ketua DPC PDIP Kota Tangsel Wanto Sugito menanggapi enteng tuduhan Rocky Gerung yang mengatakan Puan Maharani dan Ganjar Pranowo itu bodoh

POLITIK | 17 Oktober 2021

Junimart Sarankan Rocky Gerung Segera Cuci Muka

Politikus PDIP, Junimart Girsang, menyarankan agar Rocky Gerung segera bangun dari mimpinya lalu cuci muka dan memperhatikan kondisi di sekitarnya.

POLITIK | 17 Oktober 2021

Tidar Gelorakan Suara Milenial Gerindra Menang 2024

Tunas Indonesia Raya menggelorakan semangat memenangkan Partai Gerindra pada Pemilu 2024 mendatang.

POLITIK | 17 Oktober 2021

Ketum Partai Emas Konsolidasi dengan Kader di Jawa Timur

Konsolidasi bersama para kader digelar Ketua Umum Partai Emas Hasnaeni di Jawa Timur (Jatim).

POLITIK | 17 Oktober 2021

Ketua DPR: Jangan Ada Kompromi untuk Prokes Karantina

Ketua DPR Puan Maharani mengingatkan agar aturan karantina bagi siapa pun yang baru datang dari luar negeri dijalankan secara tegas

POLITIK | 16 Oktober 2021


TAG POPULER

# Kasus Covid-19


# Piala Thomas


# Kereta Cepat


# Merah Putih


# Formula E



TERKINI
Rektor IPB: Badan Pangan Nasional Harus Bisa Wujudkan Kemandirian Pangan

Rektor IPB: Badan Pangan Nasional Harus Bisa Wujudkan Kemandirian Pangan

NASIONAL | 9 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings