Sumpah Pemuda dan Kesadaran Baru Gen Z
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Sumpah Pemuda dan Kesadaran Baru Gen Z

Minggu, 24 Oktober 2021 | 09:44 WIB
Oleh : Primus Dorimulu / ALD

Jakafta, Beritasatu.com - Umumnya orang hanya mengingat Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dan isinya yang menggugah serta memperkuat cita-cita kemerdekaan. Tidak banyak yang tahu bahwa Sumpah Pemuda adalah pernyataan sikap dari sebuah proses panjang untuk membentuk “kesadaran baru”. Kesadaran baru itu dibentuk dan digaungkan oleh generasi Z dan milenial di zamannya, setelah melewati proses diskusi panjang. Mereka adalah para pemuda dan pelajar berusia sekitar 16-25 tahun.

Generasi Z dan milenial pada zaman itu memiliki sebuah kesadaran baru bahwa Indonesia bukan hanya Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, melainkan seluruh wilayah jajahan pemerintah Hindia Belanda, dari Sabang hingga Merauke.

Diselenggarakan 30 April tahun 1926 di Batavia, Kongres Pemuda I dihadiri oleh wakil berbagai organisasi pemuda dan pelajar. Kongres itu dipimpin Mohammad Tabrani Soerjowitjitro, pemuda asal Pamekasan, Madura, berusia 22 tahun. Hasilnya, belum memuaskan, sehingga mereka menggagas Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.

Meski belum sempurna, Kongres Pemuda I menghasilkan kesepakatan, yakni mengakui dan menerima cita-cita persatuan Indonesia. Perbedaan suku, agama, ras, dan golongan bisa mereka atasi. Mereka merasa sebagai satu nation atau bangsa. Nasionalisme pun mulai berkobar dalam dada mereka, mengatasi perasaan kesukuan, kedaerahan, ras, agama, dan golongan.

Kongres Pemuda I mengusulkan agar semua pemuda bersatu dengan nama Pemuda Indonesia. Mereka menerima cita-cita “Satu Indonesia” dan berusaha mewujudkan persatuan Indonesia dan menghilangkan berbagai pandangan kedaerahan, kesukuan, keagamaan, dan golongan.

Untuk mengkristalisasi cita-cita itu, dibutuhkan pertemuan lanjutan, yakni Kongres Pemuda II yang digelar 28 Oktober 1928. Dipimpin Sugondo Djojopuspito, yang waktu itu berusia 23 tahun, Kongres Pemuda mengikarkan Sumpah Pemuda yang dalam ejaan Van Ophuijsen sebagai berikut:

“Pertama, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.”

Sedangkan Sumpah Pemuda dalam ejaan saat ini:
* Pertama, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
* Kedua, Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
* Ketiga, Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.

Naskah Sumpah Pemuda dan risalah pertemuan dicatat dengan apik oleh Mohammad Yamin, yang saat itu berusia 25 tahun, dan dipercaya sebagai sekretaris kongres. Digembelng oleh keadaan sebagai orang terjajah, generasi Z dan para milenial waktu itu sudah berpikir jauh melampaui zamannya.

Para pemuda yang berkumpul pada Hari Sumpah Pemuda di Batavia, antara lain, Sunario, Johannes Leimena, Soegondo Djojopuspito, Sumarsono, Djoko Marsaid, Sapuan Saatrosatomo, Zakar, Antapermana, Moh Sigit, Muljotarun, Mardani, Suprodjo, Siwy, Sudjito, Maluhollo, Muhammad Yamin, Suwondo, Abu Hanafiah, Amilius, Mursito, Tamzil, Suparto, Malzar, M Agus, Zainal Abidin, Sugito, H Moh Mahjudin, Santoso, Adang Kadarusman, Sulaiman, Siregar, Sudiono Pusponegoro, Suhardi Hardjolukito, Pangaribuan Siregar, Amir Syarifuddin Harahap, Wage Rudolph Supratman, S Mangoensarkoro, Katjasungkana, dan Mohammad Roem.

Sumpah Pemuda dan Kesadaran Baru Gen Z

Acara Kongres Pemuda menggunakan tiga lokasi, yakni Gedung Katholieke Jongenlingen Bond (kini Sekolah Santa Ursula), Gedung Oost-Java Bioscoop Jalan Medan Merdeka Utara (yang kini sudah tiada), dan Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat. Pada masa itu, museum ini sempat menjadi tempat tinggal para pemuda dari berbagai wilayah Nusantara.

Para pemuda berasal dari berbagai daerah dan menamakan diri mereka Jong Java, Jong Soematra, Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Batak Bond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi, Jong Timoreesch Verbond, Perhimpoenan Peladjar Indonesia, dan banyak lagi. Wilayah yang jauh dari Batavia seperti Timor juga mempunyai utusan. Jong Timoreesch Verbond bertujuan mempererat tali persaudaraan di kalangan pemuda pelajar yang berasal dari Karesidenan Timor, wilayah yang pada masa itu mencakup seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini ditambah Sumbawa Barat, Sumbawa, Dompu, dan Bima.

Politik Etis
Memasuki tahun 1900-an, saat Ratu Juliana memimpin Kerajaan Belanda dan Van Deventer menjabat Gubernur Jenderal Hindia Belanda, mencuat sebuah kesadaran baru. Belanda sadar bahwa Hindia Belanda, negeri terjajah, tidak boleh terus-menerus hanya dieksploitasi tanpa ada balas jasa. Balas jasa itu diejawantahkan lewat Etische Politiek atau Politik Etis. Pada tahun 1899 ada motto “de Eereschuld” atau utang kehormatan. Utang kehormatan itu dibalas lewat pendidikan.

Pendidikan pada masa Hindia Belanda dimulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Sekolah pribumi dibedakan dari sekolah Eropa. Untuk sekolah Eropa ada Europesche Lager School (ELS), dan untuk pribumi ada Hollandesche Inlandche School (HIS), keduanya SD tujuh tahun.

Siswa ELS melanjutkan pendidikan ke Hogere Burger School (HBS). Sekolah lanjutan selama lima tahun itu setara SMP dan SMA. Sedangkan pribumi yang belajar di HIS, melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang setara SMP, dan Algemeene Middelbare School (AMS) yang setara SMA. Kemudian ada pendidikan tinggi seperti STOVIA (sekolah kedokteran), Land Bouw School (sekolah pertanian), Recht Hoge School (sekolah hukum), dan Technise Hoogeschool School (sekolah teknik).

Bung Karno, misalnya, masuk sekolah Eropa sejak sekolah dasar, yakni ELS setelah sempat di Eerste Inlandse School dan HIS. Itu dimaksudkan agar ia lebih mudah masuk HBS. Setelah menamatkan HBS di Surabaya, 1921, Soekarno ke Technise Hoogeschool te Bandoeng, sekolah yang kemudian dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB). Soekarno meraih gelar insinyur pada 25 Mei 1926, di usia 25 tahun.

STOVIA, School tot Opleiding van Indische Artsen, atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera, yang kemudian menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, menghasilkan banyak dokter yang aktif di politik. Tokoh pergerakan Indonesia seperti Dr Sutomo, Tjipto Mangunkusomo, Wahidin Sudirohusodo, dan Johannes Leimena berasal dari STOVIA. Sekolah hukum dan sekolah dokter menyumbang banyak tokoh pergerakan.

Bersama sejumlah rekannya, Wahidin Sudirohusodo, dokter asal Surakarta yang saat itu berusia 56 tahun, mendirikan Budi Utomo, organisasi para pelajar untuk mencerdaskan bangsa, pada 20 Mei 1908. Organisasi yang diketuaui oleh Dr Soetomo ini mendapatkan banyak dukungan dan menjadi salah satu motor Sumpah Pemuda. Tanggal 20 Mei dikenang sebagai hari kebangkitan nasional.

Ki Hajar Dewantara, mahasiswa STOVIA yang pada saat itu berusia 19 tahun, sempat bergabung di Budi Utomo, pada 20 Mei 1908. Namun, kemudian, ia mendirikan Indische Partij bersama Tjipto Mangunkusumo dan Douwes Dekker. Ki Hajar Dewantara dikenal sebagai tokoh pendidikan. Salah satu ajarannya yang terkenal adalah “Ing ngarsa sung tulodo. Ing madya mangun karsa. Tutwuri handayani”. Maknanya: Di depan memberikan teladan, di tengah menggelorakan semangat, dan dari belakang memberikan dorongan”. Tanggal 2 Mei, hari kelahiran tokoh bernama asli Suwardi Suryoningrat itu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Sumpah Pemuda dan Kesadaran Baru Gen Z

Meskipun tidak ikut Sumpah Pemuda di Batavia, karena pada 1928 usianya di atas 26, Soekarno mempunyai kesibukan sendiri. Pada tahun 1926, ia mendirikan Algeemene Studie Club di Bandung. Selanjutnya pada 4 Juli 1927, ia bersama tokoh nasional seperti Tjipto Mangunkusumo, M Sartono, Iskaq, Tjokrohadisuryo, dan Mr Sunaryo mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Tujuan partai baru ini jelas: mewujudkan kemerdekaan Indonesia sepenuhnya saat itu juga. “Merdeka sekarang, sekarang, dan sekarang,” demikian motto mereka.

Dinilai lebih mampu menghimpun massa, Soekarno didaulat menjadi ketua PNI. Dari pertemuan ke pertemuan, massa meningkat dan lagu Indonesia Raya karya WR Supratman selalu dinyanyikan. Setahun kemudian, PNI dibekukan pemerintah Hindia Belanda.

Semangat “Satu Indonesia”
Tidak boleh ada pihak yang mengklaim lebih berjasa dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Semua pihak —apa pun suku, agama, ras, dan golongan— terlibat dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia. Setiap pihak berkontribusi penuh dalam upaya mewujudkan Indonesia merdeka. Tidak boleh ada pihak yang menganggap kelompok lain hanya warga indekos.

Kongres Pemuda II di Batavia dihadiri oleh utusan dari berbagai organisasi pemuda di Hindia Belanda waktu itu. Ada Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan Jong Timoreesch Verbond.

Pada Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928, hadir sejumlah wakil etnis Tionghoa, antara lain, Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok, dan Tjio Djien Kwie. Peranan pemuda keturunan Tionghoa juga cukup besar. Gedung tempat dibacakan Sumpah Pemuda merupakan asrama pelajar kepunyaan seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kok Liong. Gedung di Jl Kramat Raya 106, Jakarta Pusat, itu kini diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Para milenial dan generasi Z masa itu larut dalam semangat “Satu Indonesia”. Semangat Satu Indonesia itulah yang terus digemakan oleh para tokoh pergerakan, di antaranya Soekarno.

Dalam salah satu pidatonya, Bung Karno mengatakan: “Dari Sabang sampai Merauke”. Empat kata itu bukanlah sekadar satu rangkaian kata ilmu bumi. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekadar menggambarkan satu geographisch begrip. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekadar satu geographical entity.

Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu national entity. Ia adalah pula satu kesatuan kenegaraan, satu state entity yang bulat-kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologis, satu ideological entity yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun, – satu entity of social-consciousness like a burning fire.

Bung Karno selama hidupnya membela habis-habisan persatuan dan tiada henti menggelorakan semangat persatuan. “Hei pemuda dan pemudi Indonesia! Berapakah jumlahmu? Jawablah, kami hanya satu,” kata presiden RI pertama itu.

Kesadaran Baru
Setiap era punya tantangan tersendiri. Jika tantangan utama generasi Z dan kaum milenial pada paruh pertama abad ke-20 adalah penjajahan, tantangan para pemuda di usia yang sama di paruh pertama abad ini adalah kesenjangan sosial, korupsi, narkotika, radikalisme berbasis ideologi agama, separatisme, global warming, dan persaingan di bidang teknologi.

Kesenjangan sosial terjadi karena minimnya kebijakan yang memberikan akses kepada masyarakat bawah untuk naik kelas. Sementara kaum elite yang memiliki aset dan berbagai sumber daya terus memupuk kekayaan dengan “penetesan” yang minim.

Tingkat kesenjangan sosial di Indonesia bisa dilihat dari pengeluaran 20% (54,4 juta) penduduk Indonesia paling atas yang mencapai 45,9%. Sedangkan pengeluaran 40% (108,8 juta) penduduk menengah dan bawah (108,8 juta), masing-masing, hanya 36,4% dan 17,8%.

Sekitar 20% kelompok menengah berpotensi turun ke level bawah jika terjadi kehilangan pekerjaan. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sekitar 66,7% warga Indonesia tergolong rentan miskin. Disebut rentan karena pendapatan kelompok menengah mudah merosot ketika kehilangan pekerjaan. Mereka tidak memiliki aset produktif yang bisa menghidupi mereka saat tidak lagi bekerja.

Risiko kehilangan pekerjaan cukup besar di era digitalisasi. Pekerja yang tidak memiliki keterampilan, keahlian, dan integritas akan tersingkir. Penduduk Indonesia yang masuk kategori miskin absolut pada Maret 2021, demikian data BPS, mencapai 27,54 juta atau 10,14% dari total penduduk. Sedangkan mereka yang hampir miskin sekitar 105,6 juta. Angka itu terkonfirmasi oleh data kelompok penerima bantuan iuran (PBI) BPJS Kesehatan per Juni 2021 mencapai 133,1 juta atau 49% penduduk Indonesia. Pandemi Covid-19 ikut mendongkrak jumlah penduduk miskin.

Jika garis kemiskinan dinaikkan, jumlah penduduk miskin absolut akan lebih besar lagi. Pada survei penduduk miskin Maret 2021, yang dijadikan garis kemiskinan adalah pengeluaran per orang dalam sebulan sebesar Rp 472.525. Dari jumlah itu, porsi pengeluaran untuk makanan mencapai 74%. Ukuran kemiskinan masih didominasi pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan fisik minimum, bukan kebutuhan hidup minimum.

Jumlah penduduk miskin absolut terbesar masih ada di perdesaan, yakni sekitar 13,1% dari total penduduk. Sedang penduduk miskin absolut yang tinggal di perkotaan 7,9% dari total penduduk. Banyak kementerian dan lembaga yang mengurus perdesaan, tapi penduduk desa masih tetap miskin.

Angka kemiskinan berkaitan erat dengan lapangan pekerjaan dan lahan garapan. Kemiskinan tidak terelakkan jika petani tidak punya lahan garapan dan para pencari kerja tidak memperoleh pekerjaan. Penduduk miskin akan tetap besar jika angka pengangguran terbuka dan setengah pengangguran tinggi. Kemiskinan sulit ditekan jika penduduk usia produktif tidak memiliki keterampilan, keahlian, dan kompetensi.

Terdapat 139,8 juta angkatan kerja Indonesia pada Februari 2021. Dari jumlah itu, sekitar 8,8 juta atau 6,3% adalah pengangguran terbuka. Sedang penduduk yang bekerja 131 juta orang. Dari jumlah itu, 78 juta atau 59,6% berada di sektor informal. Pandemi Covid-19 menyebabkan sekitar 19 juta orang mengalami penurunan pendapatan akibat pemotongan gaji bagi sektor formal dan kehilangan kesempatan membuka usaha bagi pekerja sektor informal.

Penduduk miskin umumnya bekerja di sektor pertanian. Data BPS per Maret 2021 menunjukkan, penduduk miskin absolut yang berada di perdesaan mencapai 15,4 juta, sedang di perkotaan 12,2 juta. Kemiskinan di perdesaan terkait dengan penguasaan lahan. Sebagian besar warga perdesaan tidak memiliki lahan garapan yang cukup.

Petani di Jawa umumnya buruh tani. Sedangkan yang memiliki lahan sendiri, kepemilikan mereka umumnya di bawah 0,3 ha. Mau ditanam apa dengan lahan di bawah 3.000 meter untuk bisa menghidupi keluarga?

Dalam persentase, penduduk miskin terbanyak ada di Papua dan Nusa Tenggara. Tetapi, dalam angka nominal, penduduk miskin terbanyak ada di Jawa (14,7 juta), Sumatera (6 juta), serta Bali dan Nusa Tenggara (2,1 juta). Sebagian besar penduduk miskin di tiga wilayah ini berada di perdesaan yang tentu saja pekerjaannya adalah bertani.

Dalam pada itu, kita melihat betapa perusahaan swasta memiliki ribuan hingga jutaan hektare lahan sawit di Sumatera dan Kalimantan. Pada akhir 2019, perkebunan sawit di Indonesia mencapai 14,3 juta ha. Seluas 8,5 juta ha dikuasai perkebunan besar dan hanya 5,8 juta ha milik rakyat. Indonesia adalah produsen sawit terbesar dunia dengan produksi sekitar 40,56 juta ton 2018.

Wacana reforma agraria belum dilaksanakan dengan baik. Masih jauh lebih banyak petani yang tidak memiliki lahan yang cukup, terutama di Jawa. Pemerintah harus memastikan bahwa setiap keluarga petani memiliki lahan, minimal 2 ha. Petani Jawa yang tidak memiliki lahan perlu ditransmigrasikan ke wilayah yang jarang penduduk, misalnya Papua.

Meski hampir 50% penduduk adalah warga miskin, Indonesia memiliki banyak orang kaya, yang masuk kategori high networth individual (HNWI) maupun yang ultra HNWI (UHNWI). Merujuk MGM Research 2019, melaporkan, pada tahun 2018 terdapat 756 orang Indonesia memiliki kekayaan di atas US$ 30 juta (setara Rp 426 miliar dengan kurs Rp 14.200 per dolar AS) atau termasuk golongan UHNWI. Sebanyak 401 UHWNI bermukim di Jakarta.

Knight Frank Wealth Report 2019 melaporkan, pada tahun 2015, HNWI di Indonesia 14.730 orang. Mereka memiliki kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara Rp 14,5 miliar. Pada 2020, jumlah HNWI Indonesia bertambah menjadi sekitar 21.430 orang. Meski dalam situasi pandemi Covid-19, kekayaan mereka terus bertumbuh. Diperkirakan, pada tahun 2025, HNWI Indonesia meningkat 110% menjadi 45.063.

Sedangkan jumlah orang superkaya atau UHNWI Indonesia naik dari 516 orang tahun 2015 menjadi 673 individu tahun 2020. Pada tahun 2025, jumlah UHNWI akan mencapai 1.125 orang.

Produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia pada Desember 2020 sebesar Rp 56,9 juta atau US$ 3.912 dan dengan level itu Indonesia masuk kategori negara berpendapatan menengah-bawah (middle lower income country). Sempat menembus US$ 4.000 per kapita tahun 2018-2019, PDB per kapita Indonesia kembali berada di bawah level US$ 4.000 akibat kontraksi ekonomi selama 2020 hingga kuartal pertama 2021. Dengan PDB per kapita di atas US$ 4.000, Indonesia sempat dimasukkan ke kelompok negara berpendapatan menengah-atas (middle up income country).

Selain masuk negara berpenghasilan menengah-bawah, distribusi pendapatan di Indonesia tidak merata. Kesenjangan ekonomi cukup tinggi seperti terlihat pada rasio gini yang mencapai 0,399 pada September 2020. Sedang pada Maret 2021, rasio gini Indonesia meningkat ke 0,401. Pandemi membuat orang kaya bertambah kaya, dan yang miskin semakin miskin.

Di tengah kesenjangan yang kian melebar, korupsi jalan terus. Para penyelenggara negara terus melakukan tindak pidana korupsi. Selama ada KPK, 2003, hingga saat ini, sudah 1.291 kasus korupsi yang diungkapkan. Kasus memalukan ini melibatkan menteri, anggota DPR RI, gubernur, bupati, wali kota, anggota DPRD I, dan DPRD II. Dari kasus korupsi yang diungkapkan oleh KPK itu terdapat 144 kepala daerah, di antaranya 22 gubernur dan 122 bupati dan wali kota. Mereka dicokok KPK.

Ada pejabat negara, menteri dan kepala daerah, yang korupsi dana perlindungan sosial untuk rakyat yang terpukul pandemi Covid-19. Para penyelenggara kehilangan kepekaan sosial. Pada masa lalu, Ketua DPR RI tersandung masalah korupsi dan divonis penjara. Saat ini, Wakil Ketua DPR RI sedang menjalani proses penyidikan oleh KPK.

Selama pandemi, peredaran narkotika di Indonesia justru kian marak. Hampir setiap pekan ada berita penangkapan para pengedar narkotika dan penyergapan para pengguna yang sedang pesta narkotika. Sekitar 29% dari pengguna narkotika yang mencapai 4 juta lebih adalah pelajar dan mahasiswa. Pesta narkotika terjadi di sejumlah kampung.

Laporan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) per 24 Juni 2021 mengungkapkan, sekitar 275 juta penduduk bumi menggunakan narkotika pada 2020. Pengguna narkotika diperkirakan meningkat 11% hingga 2030. Hasil survei penyalahgunaan narkotika oleh BNN dan LIPI tahun 2019 menunjukkan bahwa angka prevalensi penyalahgunaan narkotika di Indonesia mencapai 3,4 juta orang. Selama pandemi, pengguna narkotika diperkirakan meningkat.

Radikalisme berbasis ideologi agama meningkat sejak awal reformasi, 1998. Radikalisme itu berawal dari intoleransi yang ditanamkan di keluarga, rumah ibadah, dan sekolah. Sangat disayangkan, intoleransi berkembang di lembaga pendidikan, dari SD hingga universitas. Intoleransi inilah yang kemudian berkembang menjadi radikalisme dan aksi terorisme serta untuk mewujudkan negara agama.

Ciri khas radikalisme berdasarkan ideologi agama bisa dilihat dari pernyataan mereka yang dengan mudah “mengkafirkan” sesama yang berkeyakinan lain. Sesama yang seagama pun diberikan label kafir jika tidak sejalan dengan pandangan mereka. Kelompok intoleran ini menggalang kekuatan dan bergerak mewujudkan negara khilafah. Kaum takfiri, yakni mereka yang mudah mengkafirkan sesama, terus berkembang di Indonesia.

Di Papua, gerakan separatisme terus hidup. Warga di pedalaman Papua belum merasa sebagai warga Indonesia. Selain karena belum cukup dilayani oleh pemerintah, kelompok bersenjata yang berjuang memisahkan diri dari NKRI lahir dan besar di pedalaman Papua.

Tantangan besar lainnya bagi generasi Z dan milenial adalah bumi yang kian panas akibat eksploitasi alam yang berlebihan dan tingginya penggunaan energi fosil. Pemanasan global memicu perubahan iklim yang ekstrem dan bencana demi bencana. Pandemi Covid-19 disinyalir sebagai salah satu dampak global warming. Dampak lainnya adalah terancamnya tempat tinggal dan lahan pertanian.

Pembangunan berkelanjutan menjadi tema penting yang harus menjadi perhatian generasi muda karena merekalah pemilik masa depan. Wacana environmental, social, and governance (ESG) kini menggema di seluruh penjuru dunia. Perusahaan yang tidak menjalankan ESG akan diboikot, baik produknya maupun sahamnya di bursa saham.

Generasi Z adalah mereka yang berusia 8-23 tahun, sedangkan milenial adalah penduduk berusia 24-39 tahun. Pada akhir 2020, jumlah generasi Z sebanyak 75 juta atau 28%, sedangkan milenial 69,4 juta atau 25,8% dari total penduduk. Kedua generasi ini menjadi penentu masa depan bangsa. Generasi Z dan milenial yang masih duduk di bangku sekolah perlu diberikan pendidikan karakter bangsa dan budi pekerti.

Kedua generasi ini diharapkan memiliki kesadaran baru. Kesadaran akan mendesaknya upaya mengurangi kesenjangan sosial, kesadaran akan pentingnya gerakan antikorupsi dan antinarkotika, kesadaran akan pentingnya toleransi dan ideologi implementasi ideologi Pancasila, kesadaran akan pentingnya ESG, dan kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Kedua generasi ini jangan kalah dari generasi Z dan milenial abad lalu yang mampu mengikrarkan dan menggaungkan Sumpah Pemuda.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Jokowi Bujuk Basuki Beli Sepatu Buat Naik Motor

Jokowi membujuk Basuki Hadimuljono untuk membeli sepatu berbahan kulit.

POLITIK | 30 November 2021

Simulasi Pilpres, Prabowo-Puan 67,7 Persen

Pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani (Prabowo-Puan) sebagai calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) meraih 67,7 persen.

POLITIK | 30 November 2021

Survei Lanskap, Prabowo Subianto Teratas

Elektabilitas Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mencapai 23 persen dalam survei yang dilakukan Lembaga Survei dan Analisa Kebijakan Publik.

POLITIK | 30 November 2021

Baleg: Revisi UU PPP Harus Dilakukan

Wakil Ketua Baleg DPR Achmad Baidowi menegaskan revisi UU PPP harus dilakukan. Setelah itu, pemerintah dan DPR akan mengubah UU Cipta Kerja.

POLITIK | 30 November 2021

Fadel Muhammad: MPR Kecewa dengan Kinerja Kemenkeu

Wakil Ketua MPR Fadel Muhammad menyatakan pihaknya kecewa dengan Kementerian Keuangan.

POLITIK | 30 November 2021

Zulkifli Hasan Bakal Jadi Menteri, PAN: Kita Tunggu Nanti

Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan disebut-sebut bakal menjadi menteri.

POLITIK | 30 November 2021

Puan: Perbaikan UU Cipta Kerja Dilakukan dengan Cepat

Ketua DPR Puan Maharani menegaskan DPR akan segera menindaklanjuti putusan MK terkait UU Cipta Kerja.

POLITIK | 30 November 2021

Jadi Anggota Banser, Erick Thohir Komitmen Jihad untuk NKRI

Erick Thohir menegaskan siap mewakafkan pikiran, energi dan kemampuan untuk NKRI.

POLITIK | 30 November 2021

Bedah Buku Goenawan Mohamad, Inspirasikan Anak Muda

Goenawan Mohamad dianggap sosok yang selalu memberikan inspirasi kepada kalangan muda dalam setiap tulisannya.

POLITIK | 30 November 2021

MPR Terima DIPA TA 2022 dari Presiden Jokowi

Ketua MPR Bambang Soesatyo bersama pimpinan kementerian/lembaga menerima DIPA tahun anggaran 2022 dari Presiden Jokowi.

POLITIK | 29 November 2021


TAG POPULER

# Ameer Azzikra


# Omicron


# Bens Leo


# Cristiano Ronaldo


# Infeksi Lever



TERKINI
Pekan Depan, TOD Lebak Bulus Dibangun

Pekan Depan, TOD Lebak Bulus Dibangun

MEGAPOLITAN | 12 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings