Fachry Ali: Kampus Kehilangan Tradisi Ilmiah
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Sarasehan Tahun Emas Prisma

Fachry Ali: Kampus Kehilangan Tradisi Ilmiah

Sabtu, 4 Desember 2021 | 21:40 WIB
Oleh : Willy Masaharu / WM



Jakarta, Beritasatu.com – Kepala Program Penelitian LP3ES (1985-1989) Fachry Ali berpendapat, kampus semakin kehilangan tradisi ilmiah sebab jurnal ilmiah kini seperti kehilangan pembaca.

“Jurnal ilmiah Prisma setelah selama 50 tahun meneguhkan tradisi intelektual di Indonesia, kini bisa dianggap kehilangan audiens, bukan karena Prisma tidak lagi menjadi ujung tombak pemikiran intelektual di Indonesia, namun karena salah satu pilar ilmiah yakni kampus semakin kehilangan tradisi ilmiah. Otomatis Prisma mengalami situasi lingkungan yang tidak mendukung,” kata Fachry Ali, dalam webinar 50 Tahun Usia Prisma (Peluncuran Edisi Khusus Prisma di Usia 50 Tahun), di Jakarta, Sabtu (4/12/2021).

Fachry menerangkan, Herbert Feith dulu menyebutkan Prisma lah satu-satunya jurnal pemikiran yang dibaca oleh lebih dari 10.000 pembaca setiap bulan, namun di tengah situasi de-intelektualisasi saat ini Prisma masih bisa survive, tentu sesuatu yang luar biasa.

“Prisma dulu memang tidak selalu disukai penguasa, tetapi kekuasaan juga harus menaruh hormat kepadanya. Tak lain karena kekuasaan juga butuh referensi dan menjadi pusat intelektual yang menyokong ide modernisme pluralis,” katanya.

Karenanya, menyadari pentingnya wadah intelektual yang menjadi basis pemikiran dan dibaca banyak kalangan, kata Fachry, para menteri orde baru setuju dengan sistem gagasan yang disampaikan Prisma, dan ikut menulis di Prisma.

“Uniknya, beberapa Menteri orde baru juga berasal dari lingkungan Prisma sendiri, antara lain, Billy Joedono, Dorodjatun Kuntjorojakti. Jelasnya, ketika itu ada simbiosis kuat dalam lingkungan sosial politik Prisma dengan para aktor pengambil keputusan di masa itu. Posisi Prisma sebagai agent intelektual semakin dihormati,” katanya.

Dosen Universitas Paramadina Atnike Sigiro berpendapat, Prisma berhasil mencatat secara konsisten problema-problema yang tak kunjung selesai dari sejarah perkembangan Indonesia sejak awal orde baru. “Tetapi para generasi penerusnya harus menyadari munculnya tantangan-tantangan zaman baru, disrupsi dan revolusi 4.0 yang mengubah bagaimana produksi pengetahun dilakukan,” katanya.

Dikatakan Atnike, dulu sumber informasi intelektual bisa jadi hanya lewat Prisma namun kini telah semakin instan. Ada info online setiap saat, infografis, data online dan lainnya yang bisa diakses publik secara luas dari berbagai topik.

Selain itu, lanjutnya, tantangan lain dari kalangan yang ingin membangun sebuah kritisisme yang bukan hanya sebagai budaya pop, adalah tantangan dari akreditasi. Insan akademis utamanya, lebih memilih menulis di jurnal yang telah memilihi akreditasi nasional ketimbang menulis di jurnal non akreditasi seperti Prisma.

Redaktur senior Prisma Vedi R Hadiz menyatakan, selama 50 tahun, meski sempat absen 11 tahun, Jurnal Pisma berhasil memotret sejarah sosial, politik dan ekonomi Indonesia. Dengan membaca Prisma, khalayak dapat memahami perdebatan intelektual yang terjadi di Indonesia terutama terkait masalah pembangunan, dampak pembangunan, siapa yang secara tidak adil menikmati hasil pembangunan dan lain-lain hal.

“Ben Anderson mencatat, Prisma adalah upaya dari para generasi muda intelektual Indonesia pada era 1970an yang “menyusun” semacan blue print bagi masa depan Indonesia, terutama setelah berdirinya orde baru. Prisma terlihat sangat pro pada modernisasi, liberalisasi namun berbungkus pluralisme.
Tetapi ideologi liberalisme-pluralisme yang mengusung modernisasi pada akhirnya di era ‘73-‘74 tersingkir dengan mulai dibangunnya arsitektur politik orde baru yang dibidani oleh Ali Murtopo dan sekutunya, yang sifatnya malah lebih statis korporatis, otoritarian. Praktis, liberalisme ketika itu tidak lagi punya tempat,” kata Vedi.

Fachry Ali: Kampus Kehilangan Tradisi Ilmiah

Kemudian, lanjutnya, terjadi perkembangan menarik, di mana akibat dari otoriterisme dan narasi sejarah yang dibangun orde baru memunculkan sikap kritisisme terhadap orde baru. Diwakili oleh para pegiat NGO termasuk Prisma dan LP3ES.

Sementara itu, Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Indonesia Timur pada Kabinet Gotong Royong, Manuel Kaisiepo menerangkan, secara historis, Prisma dan LP3ES sebetunya berjalan beriringan dengan konsolidasi kekuasan pada awal-awal orde baru.
Era 70 dan 80 an menjadi masa emas penerbitan dan peneguhan poisis intelektual Prisma di hadapan kekuasaan orde baru. Namun, Prisma menjadi semakin surut pada era 90an bersamaan dengan lengsernya Suharto,” katanya.

Dia melanjutkan, Prisma dan LP3ES juga para intelektual muda ketika itu menaruh harapan besar pada pemerintahan orde baru yang menjanjikan kehidupan demokrasi yang lebih baik ketimbang era sebelumnya. Narasi pembaharuan, modernisasi, dan demokratisasi menjadi ikon orba. Tapi ada satu hal, yakni tesis Samuel Huntington yang dirilis pada era akhir 60an dan awal 70an bahwa stabilitas politik sangat diperlukan sebagai prasyarat pembangunan ekonomi. Hal itulah yang kemudian menjadi panutan para ideolog orde baru yang mencanangkan stabilitas sebagai salah satu dari trilogi arah pembangunan yang ditetapkan kekuasaan kala itu.

“Selain itu, idealisasi pemikiran Parsonian dari sosiolog Talcott Parson yang menekankan bahwa pembangunan hanya dilakukan jika ada harmonisasi dalam masyarakat, ikut menjadi panutan dari para perencana pembangunan orde baru. Teori Huntington dan Parson kala itu juga menjadi amat populer di berbagai fakultas ilmu-ilmu sosial di Indonesia.

Penulis senior Nasir Tamara berpendapat, persoalan sustainability sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu titik lemah dari regenerasi Jurnal Pemikiran Prisma. Dibandingkan dengan satu jurnal ilmiah di Perancis yang juga sama-sama berusia 50 tahun sekarang dan berhasil melakukan regenerasi, persoalan regenerasi di lingkungan Prisma harus menjadi titik tekan untuk kesinambungan ke depan.
“Kekosongan 11 tahun Prisma pascareformasi meneguhkan adanya masalah kesinambungan regenerasi tersebut. Seorang Daniel Dakhidae (alm) harus turun gunung untuk kembali melanjutkan penerbitan Prisma. Padahal Ia sempat menyatakan bahwa Prisma adalah masa lalu yang menjadi simbol dari kekuatan intelektualisme di Indonesia,” kata dia.

Prisma, terangnya, juga semakin kehilangan kajian sosialisme, sementara salah seorang punggawanya dulu alm Soejatmoko juga berbasiskan pemikiran yang kuat pada ide-ide sosialisme. Begitu pula dengan kajian soal-soal perempuan. “Terasa benar Prisma amat kurang mengetengahkan gagasan-gagasan soal perempuan. Demikian pula kajian tentang ide-ide Mohammad Arkoun yang membawa pikiran-pikiran dekonstruksi Jacques Derrida, tak cukup berkembang di Prisma. Padahal saat ini perbincangan soal agama dan hubungan dengan politik identitas menjadi semakin penting kembali dibahas,” kata dia.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Kepala Otorita IKN, KSP: Presiden Punya Banyak Nama dan Kriteria

Presiden Joko Widodo punya banyak nama dan kriteria untuk calon Kepala Otorita di Ibu Kota Nusantara (IKN).

POLITIK | 21 Januari 2022

PAN Usulkan Kepala Otorita IKN Nusantara Tak Terafiliasi Parpol

PAN mengusulkan agar Presiden Jokowi mengangkat kepala Otorita IKN Nusantara bukan orang yang terafiliasi dengan partai politik.

POLITIK | 21 Januari 2022

5 Mobil Arteria Dahlan Miliki Pelat Nomor Sama, Begini Respons MKD DPR

MKD DPR merespons persoalan pelat nomor polisi 5 mobil milik anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan, yang nomornya sama.

POLITIK | 21 Januari 2022

Senin, DPR Gelar Rapat Tentukan Jadwal Pemilu 2024

DPR akan menggelar rapat untuk menentukan jadwal Pemilu 2024 pada Senin (24/1/2022).

POLITIK | 21 Januari 2022

Berpeluang Jadi Kepala Otorita IKN, Ridwan Kamil Enggan Berandai-andai

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil enggan berandai-andai. Hal ini terkait peluangnya menjabat kepala Otoritas Ibu Kota Negara Nusantara.

POLITIK | 21 Januari 2022

Irwan Ajak Kader Partai Demokrat di Kaltim Berkoalisi dengan Rakyat

Ketua DPD Partai Demokrat Kalimantan Timur Irwan mengajak seluruh kader PD di Kaltim untuk berkoalisi dengan rakyat.

POLITIK | 21 Januari 2022

Survei: Hadapi Pandemi dengan Baik, Airlangga dan Golkar Berpeluang di 2024

Peran Airlangga Hartarto dalam menangani pandemi Covid-19 dengan baik membuatnya serta Partai Golkar berpeluang pada Pemilu serta Pilpres 2024 mendatang.

POLITIK | 20 Januari 2022

Komisi III DPR: Anggaran BNN ke Depan hingga Rp 5 Triliun

Komisi III DPR meminta Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk mengusulkan anggaran hingga Rp 5 triliun

POLITIK | 20 Januari 2022

Pelaksanaan Pemilu 2024, KPU Usul 14 Februari

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengusulkan agar pemungutan suara di Pemilu 2024 diselenggarakan pada 14 Februari 2024

POLITIK | 20 Januari 2022

Usul Alternatif Jadwal Pemilu 2024, KPU: 14 Februari

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengusulkan agar Pemilu 2024 digelar pada 14 Februari.

POLITIK | 20 Januari 2022


TAG POPULER

# Arteria Dahlan


# Rahmat Effendi


# IBL


# Gaga Muhammad


# Kereta Peluru



TERKINI
BPBD: 239 Rumah di 5 Kecamatan di Jember Terdampak Banjir Bandang

BPBD: 239 Rumah di 5 Kecamatan di Jember Terdampak Banjir Bandang

NASIONAL | 32 detik yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings