Harga Sewa Rumah untuk Ekpatriat Naik 30% Per Tahun

 Harga Sewa Rumah untuk Ekpatriat Naik 30% Per Tahun
Rumah contoh Relife Greenvile Cileungsi ( Foto: IMM/Investor Daily )
/ FER Selasa, 9 Juli 2013 | 07:50 WIB

Jakarta - Lembaga Research Colliers International mengungkapkan pertambahan jumlah ekspatriat atau warga negara asing yang bekerja di Indonesia meningkatkan aktivitas bisnis properti terutama di kawasan residensial seperti Jakarta Selatan.

"Saat ini jumlah ekspatriat terus bertambah, terlihat dari data kantor imigrasi," kata Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam konferensi pers tentang laporan sektor properti kuartal II tahun 2013 di Jakarta, Senin (8/7).

Menurut Ferry Salanto, semakin banyaknya warga negara asing yang bekerja juga mengakibatkan banyaknya pencarian terhadap perumahan yang memiliki standard kualitas yang tinggi selama dua tahun terakhir.

Beberapa kawasan yang memiliki standar tersebut antara lain terletak di sejumlah daerah tertentu terutama di Jakarta Selatan seperti Kebayoran Baru, Pondok Indah, Kemang dan Cipete.

"Keterbatasan lahan di daerah tersebut juga menjadi isu utama," katanya.

Dari data Colliers, harga sewa rumah dalam mata uang dolar AS di Jakarta Selatan beragam seperti di Kebayoran Baru mencapai 2.500-15.000 dolar AS per tahun, di Pondok Indah 3.500-15.000 dolar AS per tahun, di Kemang 3.000-7.000 dolar AS dan di Cipete 2.000-7.000 dolar AS.

Selain itu, terdapat pula daerah lainnya di Jakarta Selatan seperti di kawasan Pejaten yang harga sewa per unitnya mencapai 1.500-7.000 dolar AS per tahun dan di Cilandak yang harga sewa per unitnya mencapai 2.000-7.000 dolar AS per tahun.

Di Jakarta Selatan, ujar dia, kawasan yang paling diminati ekspatriat adalah Pondok Indah antara lain karena kedekatannya dengan lokasi kerja dan sejumlah sekolah internasional.

Ferry juga mengemukakan harga sewa untuk perumahan bagi ekspatriat cenderung mengalami kenaikan sebesar 20-30 persen dibanding tahun sebelumnya.

"Isu utama bagi pasar perumahan ekspatriat adalah kurangnya perumahan bagus yang memenuhi persyaratan ekspatriat," katanya.

Ia memaparkan para ekspatriat tersebut umumnya bekerja di beragam sektor yang mencakup di bidang perbankan, teknologi informasi, energi, hingga perusahaan minyak multinasional.

Sumber: ANT