2018, Properti Kian Menarik dan Prospektif

2018, Properti Kian Menarik dan Prospektif
Project properti terbaru dari PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN), Podomoro Park di Bandung, Jawa Barat, hunian dengan konsep alam yang dibangun di atas lahan seluas 100 hektar ( Foto: istimewa )
Edo Rusyanto / EDO Senin, 15 Januari 2018 | 15:37 WIB

 

Jakarta – Pengembang menilai sektor properti kian menarik dan prospektif pada 2018. Bahkan, bagi konsumen dinilai sebagai tahun yang tepat untuk membeli properti hunian.

Menurut AVP Marketing PT Agung Podomoro Land Tbk (APL) Agung Wirajaya, seiring berjalannya waktu nilai investasi di sektor properti akan terus meningkat. Begitu pula dengan pasokannya, meskipun ada kemungkinan proyek yang direncanakan rampung 2018 akan bergeser ke 2019 karena melihat perkembangan pasar.

“Daya beli masyarakat pada 2018 akan meningkat dan lebih tinggi dari tahun 2017. Hal itu ditandai dgn perekonomian global yang kian membaik. Dan, harga komoditas di dalam negeri yang juga sudah mulai naik dari sebelumnya,” ujar dia, kepada Investor Daily, saat dihubungi dari Jakarta, akhir pekan lalu.

Karena itu, tegas dia, pasar properti akan sedikit lebih bergairah tahun ini dan kini merupakan kesempatan yang tepat untuk membeli properti. “Baik untuk dihuni atau dipakai sendiri maupun sebagai sarana investasi,” kata Agung.

Dia mengatakan, tingginya permintaan di bidang properti serta stabilnya pertumbuhan ekonomi, membuat Indonesia menjadi incaran para investor properti. Selain itu, pengembangan kawasan berbasis moda transportasi massal juga diperkirakan semakin marak.

Menurut Agung, indeks harga properti akan mengalami pertumbuhan pada tahun ini, sementara indeks suplai properti juga diperkirakan mengalami pertumbuhan pada akhir 2018.

Agung menambahkan, pertumbuhan suplai tersebut itu berasal dari proyek yang dibangun tahun lalu, namun tidak rampung dan akhirnya bergeser pada 2018. “Kami menyikapi kondisi itu salah satunya dengan mempersiapkan proyek baru tahun 2018 yaitu Podomoro Park Bandung. Proyek ini primary target market-nya untuk para end user atau pengguna. Selain itu, kami juga mulai mempersiapkan pola/skema penjualan untuk investasi,” ujar dia.

Podomoro Park Bandung, tambahnya, akan diluncurkan kuartal I-2018. Pengembangan tahap pertama akan rampung akhir 2021.

 

 

KPA Moderat

 

Sementara itu, Agung melihat bahwa konsumen akan mencari perumahan tipe klaster, terutama di wilayah satelit kota besar dengan akses menuju pintu tol dan sarana transportasi massal. Di sisi lain, seiring tumbuhnya suku bunga untuk kredit pemilikian apartemen (KPA), maka akan terjadi pertumbuhan yang moderat pada hunian jenis apartemen.

“Kepuasan masyarakat terhadap pertumbuhan sektor properti akan membuat optimisme konsumen dalam membeli rumah pada masih tetap tinggi," sambung Agung.

Saat ini, jelas dia, selain di Bandung, APL juga menggarap hunian tapak Orchard Park di Batam yang kini memasuki tahap serah terima. Sedangkan Orchard View (apartemen) Batam mulai serah terima pada kuartal II-2020. Lalu, Podomoro City Deli Medan (apartemen) serah terima dimulai kuartal I-2018.

Kemudian, Borneo Bay Residences Balikpapan (apartemen) mulai serah terima kuartal II-2018. Podomoro Golf View Cimanggis (apartemen) mulai serah terima di kuartal IV-2018, Grand Madison at Podomoro City (apartemen) mulai serah terima kuartal IV-2018, dan Grand Taruma Karawang (rumah) sudah dan sedang proses serah terima.

“Selain itu, Vimala Hills (villa) sudah dan sedang serah terima, sementara Vimala View (condominium) mulai serah terima kuartal II-2020,” papar Agung.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto, sebelumnya, mengatakan, ada pergeseran preferensi konsumen dalam membeli apartemen mulai akhir 2017. Jumlah konsumen yang melakukan pembayaran tunai bertahap mulai berkurang dan beralih ke KPA.

Data Colliers memperlihatkan bahwa pada 2013, pembeli yang membayar secara tunai bertahap mencapai 63%, KPA 16%,, dan tunai keras 21%. Sedangkan pada 2017, komposisi tunai bertahap turun menjadi 50%, KPA naik menjadi 32%, dan tunai keras 18%.

"Hal ini disebabakan aturan aturan pelonggaran loan to value, ada yang 15% turun ke 10%. Bahkan, ada golongan tertentu yang bisa 5%," ujar dia.

Menurut dia, para pemangku kebijakan harus segera meninjau kembali kedua kebijakan yang bisa merangsang aktivitas pasar hunian yakni pelonggaran loan to value (LTV) dan penurunan suku bunga kredit. Hal ini juga, kata Ferry, untuk mendorong end user atau first home buyer memiliki hunian di kota besar. “Suku bunga menjadi faktor penentu bagi konsumen untuk membeli properti saat ini,” kata Ferry.



Sumber: Investor Daily