Lippo Karawaci, Pengembang dengan Pendapatan dan Rasio Utang Terbaik

Lippo Karawaci, Pengembang dengan Pendapatan dan Rasio Utang Terbaik
Kawasan Lippo Karawaci. ( Foto: Istimewa )
Farid Firdaus / AB Kamis, 12 September 2019 | 10:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menjelang akhir kuartal ketiga 2019, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) terus mencatatkan kinerja positif. Berdasarkan perkiraan, Lippo Karawaci diproyeksikan menjadi perusahaan pengembang dengan pendapatan tertinggi sekaligus rasio utang terendah pada 2019.

Secara keseluruhan, enam indikator utama menunjukkan kinerja cemerlang LPKR sebagai yang terbaik di antara para pengembang. Enam indikator tersebut adalah revenue, recurring revenue, assets, debt to equity ratio (DER), number of malls, dan average trading volume. Hal ini tak lepas dari rights issue yang dilakukan Lippo pada Juni 2019 lalu yang berhasil meraup dana segar sebesar US$ 787 juta atau Rp 11,2 triliun, dan membuat Lippo merajai bisnis properti Tanah Air.

Head of Research Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi mengatakan kinerja positif LPKR sejalan dengan tren bisnis sektor properti yang positif. "Apalagi dari segi bunga juga saat ini masih kompetitif dan ekonomi secara makro juga masih cukup baik," kata Lanjar saat dihubungi, Rabu (11/9).

Ia menambahkan, raihan dana rights issue yang didapat LPKR juga menjadikan struktur permodalan lebih kuat sehingga bisa lebih ekspansif. Selain itu, LPKR juga dianggap lihai dalam membaca arah bisnis dengan menggandeng berbagai partner strategis. Dukungan konsumen yang terus percaya dengan berbagai inovasi LPKR juga menambah kekuatan perusahaan tersebut.

LPKR diproyeksikan akan membukukan pendapatan senilai Rp 13,5 triliun sepanjang tahun 2019, naik 22% dari Rp 11,057 triliun di tahun sebelumnya. Pendapatan LPKR meningkat pesat di saat beberapa pengembang lain bahkan tidak mampu menyamai pendapatan tahun 2018.

Misalnya, pengembang Ciputra (CTRA) yang merupakan pengembang terbesar kedua di Indonesia diperkirakan hanya membukukan pendapatan sebesar Rp 7,4 triliun di tahun 2019, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 7,7 triliun. Agung Podomoro (APLN) mengalami hal yang sama dengan capaian Rp 4,5 triliun, turun dari Rp 5 triliun tahun lalu.

Pengembang lain juga belum mampu mendekati LPKR meski beberapa di antaranya mengalami kenaikan. Sinar Mas Land (BSDE) diperkirakan meraih pendapatan sebesar Rp 7,2 triliun, Pakuwon (PWON) Rp 7,1 triliun, Summarecon (SMRA) Rp 5,9 triliun, Jababeka (KIJA) Rp 3,3 triliun, dan Modern Land Rp 2,7 triliun.

Dari sisi aset, LPKR juga memimpin dengan total aset mencapai Rp 58,7 triliun, disusul Sinarmas Land dengan aset Rp 54 triliun, pengembang Ciputra Rp 35,7 triliun, Agung Podomoro Rp 29,7 triliun, Pakuwon Rp 28,7 triliun, Sumarecon Rp 23,9 triliun, Modern Land Rp 16,5 triliun, dan Jababeka Rp 12 triliun.

Dari sisi recurring revenue, LPKR juga menjadi pengembang yang paling moncer, dengan proyeksi pendapatan senilai Rp 9,6 triliun. Recurring revenue LPKR hampir tiga kali lipat lebih banyak dari raihan Pakuwon di posisi kedua sebesar Rp 3,4 triliun.

Dari sisi likuiditas perusahaan, LPKR juga semakin solid. Debt to equity ratio (DER) LPKR saat ini adalah yang terbaik di antara semua pengembang pada angka 37%. Sementara itu, DER SMRA mencapai 122%, APLN 88%, MDLN 77%, KIJA 70%, dan CTRA mencapai 60%. DER LPKR yang sangat rendah menunjukkan kesehatan perseroan yang sangat baik dan kemampuan untuk berkembang di tahun-tahun mendatang.

Adapun dari sisi kepemilikan mal, LPKR juga memimpin dengan 51 mal. Sementara itu, pengembang BSDE berada di posisi kedua dengan 16 mal, APLN 13 mal, Pakuwon 7 mal, Ciputra 4 mal, dan Sumarecon 3 mal.

Kemudian, dari sisi average trading volume, saham LPKR juga tercatat paling banyak diperdagangkan sebanyak 80 juta lembar saham per hari, lebih banyak dibanding dengan saham pengembang lain. Saham PWON berada di posisi kedua dengan 75 juta lembar, CTRA 46 juta lembar, APLN 40 juta lembar, dan SMRA 16 juta lembar.

Menangkap Peluang Investasi
Kepala Riset Narada Asset Management Kiswoyo Adi Joe mengatakan dana rights issue yang telah diperoleh Lippo Karawaci memungkinkan perseroan bisa cepat menangkap peluang investasi di tahun depan. Pihaknya juga melihat, posisi DER perseroan masih terbilang rendah apabila dibandingkan dengan kompetitornya, seperti Agung Podomoro.

“Likuiditas Lippo Karawaci masih aman, utangnya juga tetap terjaga. Setiap emiten properti itu sebenarnya punya keunggulan masing-masing. Kekuatan Lippo itu ada pada recurring income anak usahanya, yakni PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO),” jelas Kiswoyo kepada Investor Daily, Rabu (11/9).

Menurut Kiswoyo, kelebihan Lippo Karawaci lainnya adalah mampu menangkap peluang dalam berinvestasi di real estate investment trust (REIT) atau dana investasi real estate (DIRE). Perseroan tercatat sempat mendapatkan dana segar hasil penjualan REIT tahun lalu di Singapura.

Jika di masa mendatang perseroan berencana menerbitkan REIT, lanjut Kiswoyo, tentu pengalaman perseroan tidak perlu diragukan. Setidaknya di Indonesia perseroan memiliki aset mal yang cukup menyebar dibanding kompetitornya.

Lebih lanjut, dari sisi perdagangan saham harian, Kiswoyo mencatat, frekuensi lot saham yang ditransaksi masih terbilang cukup tebal. Pihaknya mengakui, para pelaku pasar masih menunggu sektor properti untuk bangkit kembali. Saham LPKR ditargetkan menyentuh level Rp 300 sampai akhir tahun ini.

“Tahun depan, kemungkinan sektor properti mulai bangkit. Walaupun ada tekanan di sektor ini, Lippo Karawaci masih punya bisnis kesehatan melalui Siloam yang lebih stabil,” katanya.

Sementara itu, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus memproyeksikan saham LPKR akan berpotensi naik hingga ke kisaran harga Rp 350 sampai akhir tahun ini.

“Kami melihat masih ada potensi untuk mengalami kenaikan lagi untuk harga saham LPKR,” ujar Nico saat dihubungi Investor Daily, Rabu (11/9).

Lebih lanjut Nico mengatakan penurunan tingkat suku bunga merupakan salah satu sentimen yang sangat positif bagi kinerja perseroan ke depannya. “Tentunya sentimen yang sangat positif, karena berpotensi untuk mendorong daya konsumtif masyarakat, karena tingkat suku bunga yang rendah,” ujarnya.

Menurut Nico, penurunan tingkat suku bunga acuan sebanyak 50 basis poin (bps) yang dilakukan oleh Bank Indonesia tentunya akan mendorong pergerakan saham sektor properti. “Hal tersebut menjadi booster bagi saham di sektor properti,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Nico, kinerja perseroan yang aktif dalam membuat kebijakan strategis juga menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan saham LPKR akan terus terangkat. “Lippo juga terus berusaha menggandeng beberapa mitra strategis dalam melakukan pengembangan properti, hal ini yang dinilai sebagai salah satu kekuatan dari Lippo itu sendiri,” tegas Nico.

Melihat kinerja perseroan, Nico menilai secara fundamental saham LPKR memiliki prospek yang baik untuk ke depannya. “Secara fundamental Lippo dapat dikatakan baik,” ujarnya.

Dia menyarankan investor yang telah memiliki saham LPKR untuk menahan atau hold.

Senada dengan Nico, Direktur Anugerah Investama Hans Kwee juga menyatakan LPKR memiliki prospek yang cerah. "LPKR akan bagus ke depan," tegasnya.

Hans memproyeksikan buy target di angka Rp 420. Menurut dia, pergerakan saham LPKR yang terus naik dipengaruhi oleh sektor properti yang mulai berjalan kembali. "Selain itu book value-nya murah," ungkapnya. 



Sumber: Investor Daily