Bisnis Properti Dinilai Prospektif, Generasi Milenial Didorong Jadi Pengembang

Bisnis Properti Dinilai Prospektif, Generasi Milenial Didorong Jadi Pengembang
Direktur Bank BTN, R Mahelan Prabantarikso memberi kuliah umum di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya pada, Selasa (1/10/2019). ( Foto: istimewa / - )
Mashud Toarik / MT Selasa, 1 Oktober 2019 | 19:10 WIB

Surabaya, Beritasatu.com – Pengembangan minat generasi muda untuk bergelut di bisnis properti merupakan kunci bagi pertumbuhan sektor perumahan. Sebagai penyalur pembiayaan hunian, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) memahami kondisi tersebut.

Untuk itu, disampaikan Direktur Legal, Risk and Compliance BTN, R Mahelan Prabantarikso, BTN berkomitmen terus melakukan edukasi terhadap generasi milenial agar tertarik menjadi pengusaha properti.

Edukasi yang dilakukan, salah satunya dalam bentuk kuliah umum di kampus-kampus. Diantaranya di Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya yang digelar, Selasa (1/10/2019).

Program lain yang sangat penting menurutnya melakukan pengembangan wirausaha melalui School of Property dan Mini MBA of Property. "Hasilnya sangat efektif. D ari survei, setidaknya 70% sudah menjadi pengembang dan selebihnya banyak yang mendirikan perusahaan," ujar Mahelan sebagaimana dikutip dalam keterangan resminya.

Lebih jauh menurutnya, dari perumahan yang dibangun oleh pengusaha properti lulusan School of Property dan Mini MBA of Property telah menyumbang bisnis perumahan BTN sekitar 40% terutama rumah subsidi. Dari kontribusi yang cukup signifikan tersebut BTN pun antusias untuk memperluas program edukasi wirausaha properti ke daerah-daerah.

"Jadi kebutuhan rumah itu tidak hanya di pulau Jawa, tetapi daerah-daerah lain juga membutuhkan. Makanya kami dorong anak muda generasi milenial di luar Jawa bisa menjadi pengusaha properti," tegasnya.

Masalah perumahan tidak hanya berasal dari demand tetapi ekosistem perumahan juga perlu menciptakan supply. Terkait itu BTN aktif menjadi integrator baik dari sisi pembiayaan, menciptakan demand dan menyediakan supply.

"Dari sisi supply jumlah pengembangnya kurang banyak. Apalagi backlog yang mencapai 11,4 juta ditambah kebutuhan rumah 400.000 setiap tahunnya maka jumlah pengembang yang mencapai 5.000 sampai 6.000 masih kurang. Sehingga perlu diciptakan pengembang-pengembang baru khususnya dari generasi muda," tambahnya.

Dari prospek yang ada, lanjut dia, maka potensi untuk pengembangan wirausaha dibidang properti masih cukup besar. Apalagi jumlah pengusaha baru 2,8% dari jumlah penduduk. Sehingga perlu di dorong banyak anak muda untuk berminat menjadi pengusaha.

Sebagai catatan, sejak tahun 2016, Bank BTN concern menciptakan wirausaha muda di sektor properti. Hal ini diawali dengan program Mini MBA in Property yang digelar oleh Housing Finance Center (HFC) Bank BTN dengan Sekolah Bisnis & Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM-ITB).

Menurut Mahelan dengan berbagai pelatihan yang telah dilakukan, hingga akhir Desember 2018, HFC BTN telah mencetak 3.500 calon wirausaha muda di bidang properti.

Sedangkan dari jumlah tersebut yang berhasil mendapatkan kredit dari Bank BTN sekitar 20%-30%. “Target untuk tahun ini, kami bisa mencetak sekitar 1.000 calon developer (pengembang),” tegasnya.



Sumber: Majalah Investor