Hunian Co-Living Diminati Masyarakat Urban

Hunian Co-Living Diminati Masyarakat Urban
CEO Kamar Keluarga Charles Kwok (kanan) dan COO Kamar Keluarga Ferry Lukas (kiri) sedang menujukkan cara pemesanan kamar melalui website kamarkeluarga.id saat berada di salah satu unit Kamar Keluarga yang ada di daerah Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 8 Oktober 2019 | 14:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living semakin banyak diminati masyarakat urban. Namun saat ini belum banyak pengembang atau pengelola yang membuat konsep properti seperti co-living.

Senior Associate Director Colliers International, Ferry Salanto, mengungkapkan konsep ini mirip seperti kos-kosan dimana fasilitas umum dapat dipakai bersama. Dan peluang ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang dan pengelola dalam mengembangkan bisnisnya.

"Kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, sementara pasokannya belum banyak. Saya lihat potensi ini cukup baik bagi pengembang dan pengelola yang ingin bermain dibisnis ini,” ujar Ferry dalam keterangan persnya yang diterima Beritasatu.com, Selasa (8/10/2019).

Baca Juga: Jaya Real Property Bidik Kalangan Milenial

Hal itu dapat dilihat dari jumlah pekerja kelas menengah yang tinggal di tengah kota belum banyak. Sebab kebanyakan pemain apartemen atau hunian sewa di tengah kota lebih diperuntukan bagi kelas memengah atas. Sehingga kelas menengah bawah lebih memilih hunian berupa kos-kosan. Sayangnya, kos-kosan yang ada saat ini konsepnya pun belum sesuai harapan para pekerja.

"Dari sisi bangunan, ada pengelola yang mengklaim properti yang dikelolanya itu co-living, tapi konsepnya masih seperti apartemen biasa, belum ada sesuatu yang mencirikan kalau itu co-living," jelasnya.

Oleh karena itu, lanjut Ferry, potensi dan peluang bisnis untuk menciptakan hunian co-living masih terbuka lebar. Terlebih, opsinya bisa bermacam-macam. " Contohnya developer yang bangun, terus menjual ke investor untuk disewakan. Atau developer mendirikan satu bangunan untuk co-living lalu dikelolanya sendiri. Bisa juga bangunan co-living dibangun terus ditawarkan ke operator untuk pengelolaan. Potensi bisnisnya besar, dan bisnis ini biasanya hidup dari penyewaan,” terang Ferry.

Baca Juga: Kamar Keluarga Tawarkan Peluang Passive Income

Salah satu pemain bisnis co-living dengan harga terjangkau yang ada saat ini adalah PT Hoppor International atau yang lebih dikenal dengan nama Kamar Keluarga.

CEO Kamar Keluarga, Charles Kwok mengatakan pihaknya telah melihat potensi ini sejak beberapa tahun lalu. Ia melihat bahwa masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep co-living sangat besar.

Adapun konsep co-living dijalankan oleh Kamar Keluarga yakni yang memiliki ekosistem terpadu dengan jaringan yang luas, layanan lengkap, dan harga yang terjangkau. Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga ada sebanyak 2.041 di 75 lokasi strategis dan gampang diakses oleh transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.

"Kami memanfaatkan teknologi berbasis web dan aplikasi untuk memberikan fasilitas dan pelayanan, sehingga seluruh kebutuhan end to end pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja,” kata Charles.

Menurut Charles, ada lima pilar bisnis yang dikembangkan oleh Kamar Keluarga. Pertama, pilar BOT (build operate transfer). Di pilar ini, Kamar Keluarga membantu pemilik tanah membangun properti dan nantinya menggunakan sistem bagi hasil.

Baca Juga: Investasi Properti di Tahun Politik Masih Dilirik

Pilar kedua yaitu Kamar Keluarga (KK) Aset. Dimana Kamar Keluarga membantu para investor pemula yang belum pernah berbisnis properti, dalam hal mencari, membangun dan mengelola properti hingga menghasilkan Return of Investment (RoI) yang memuaskan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sektor properti di Indonesia.

Lalu yang ketiga, Kamar Keluarga hanya menjadi operator. Kamar Keluarga mengelola seluruh lahan yang sudah dijadikan kos dan menerapkan konsep co-living di kosan tersebut. Lalu pilar keempat, yaitu Kamar Keluarga Development yang ahli dalam membangun rumah minimalis, efektif dan efisien sehingga harga terjangkau dapat memanfaatkan lahan yang tersisa. Lahan sisa tersebut dapat dijadikan rumah minimalis atau bangunan lain guna mendorong para generasi milenial untuk memiliki properti pribadi di masa depan.

Dan pilar kelima yaitu Kamar Keluarga Vertikal. Memanfaatkan ruang yang ada untuk dijadikan bisnis baru, seperti binatu, warung, atau tempat makan. "Lengkapnya konsep yang kami tawarkan itu membuat investor dapat memilih sesuai kebutuhannya. Dan itu yang membuat kami berkembang dengan cepat karena investor diuntungkan,” tutup Charles.



Sumber: BeritaSatu.com