Christianto Wibisono: Ciputra Mampu Mengatasi Konflik Kepentingan

Christianto Wibisono: Ciputra Mampu Mengatasi Konflik Kepentingan
Ciputra. ( Foto: dok )
Anselmus Bata / AB Kamis, 28 November 2019 | 12:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Konglomerat di bidang properti, Ciputra telah berpulang pada Rabu (27/11/2019) di Singapura. Salah seorang rekan almarhum, Christianto Wibisono, mengenangnya melalui tulisan yang diterima redaksi, Kamis (28/11/2019). Berikut tulisan Christianto Wibisono: 

Saya mengikuti kisah sukses Ir Ciputra dari dekat sebagai salah satu pendiri majalah Tempo 1970-1974 dan dari jauh sebagai pengelola Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI). Salah satu rahasia sukses karier Ciputra yang sangat mengagumkan bagi saya dan juga bagi pengamat ilmu politik dikaitkan dengan teori kebijakan publik yang baru saja ditelusuri oleh eks Menko Perekonomian Hatta Rajasa dalam pidato doktor honoris causa di ITB Bandung, Senin 25 Mei 2019, adalah bagaimana Ir Ciputra bisa mengatasi stigmanegatif tentang conflict of interest (konflik kepentingan, Red) dan sukses melaksanakan atas dasar win win solution seluruh stakeholders dan hasilnya survive di setiap pergantian rezim politik dan patron politik yang menaunginya.

Ir Ciputra adalah CEO PT Pembangunan Jaya, sebuah BUMD yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Pemprov DKI sejak era Gubernur Soemarno Sosroatmodjo. Sebetulnya Pemprov DKI tidak menyetor modal, hanya melimpahkan proyek pembangunan Pasar Senen ke PT Pembangunan Jaya. Pemegang saham yang menyetor modal adalah Hasyim Ning, Dasaad, Jusuf Muda Dalam (gubernur kelima Bank Indonesia), dan Sucipto S Amidarmo, tokoh AJB Bumiputera 1912. Jadi, Ciputra adalah “CEO yang dipercaya” mengelola BUMD PT Pembangunan Jaya.

Dalam pelaksanaan tugas itu, Ciputra memiliki perusahaan privat bersama dua alumni ITB, yakni Ir Budi Brasali dan Ir Ismael Sofyan, yang bergabung dalam PT Perencana Djaya sebagai biro arsitek. Nah, Ir Ciputra sukses menjadi CEO PT Jaya maupun Perencana Djaya. Dwifungsi itu sukses dengan menjalankan secara baik BUMD maupun perusahaan privatnya.

Ciputra bahkan melewati tujuh gubernur sejak Soemarno, Ali Sadikin, Tjokropranolo, Soeprapto, Wiyogo Atmodarminto, Soerjadi Soedirja, dan Sutiyoso. Ia juga sukses memperoleh proyek dan bekerja sama dengan konglomerat nasional Liem Sioe Liong dalam pengembangan Pondok Indah dan kemudian Pantai Indah Kapuk, meskipun Metropolitan Land yang menguasai kaveling Sudirman diakuisisi oleh konglomerat Murdaya Poo Ci Gwan pascakrismon 1998.

Setelah sukses dengan dwifungsi BUMD dan perusahaan profesi patungan alumni, Ciputra baru mendirikan perusahaan pribadi untuk keluarga dan anak-anaknya. Maka, sekolah manajemen di Indonesia maupun di seluruh dunia patut mempelajari bagaimana kisah sukses Ir Ciputra mengendalikan PT Pembangunan Jaya sebagai BUMD mapun PT Perentjana Djaya yang sukses tanpa terjerembab pada konflik kepentingan, bahkan terjerumus kepada penyakit umum KKN, konflik yang merugikan keuangan negara dan menguntungan orang (lain) atau diri sendiri.

Sukses inilah saya rasa yang harus ditebarkan sebagai virus agar Indonesia dan provinsi lain bisa melahirkian 34 PT Jaya lain dan Ciputra lain, termasuk 120 BUMN bisa mengklonakan keberhasilan Ciputra yang secara ajaib menyinergikan kepentingan pemerintah daerah dan perusahaan privat, sekaligus mampu mengentaskan keluarga dengan grup perusahaan milik pribadi sambil tetap menyaksikan PT Jaya dan Perentjana Djaya sukses survive dan bereksistensi pada beberapa masa kepemimpinan gubernur DKI Jakarta.

Selamat jalan Pak Ci yang sukses mengelola trifungsi entitas bisnis BUMD, profesi, dan keluarga. Karya dan kinerjanya layak mendapat gelar doktor honoris causa maupun awards, serta menjadi contoh kasus studi manajemen profesional dalam lingkup kebijakan publik. 



Sumber: BeritaSatu.com