Rindu Ramadan
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Rindu Ramadan

Rabu, 21 April 2021 | 10:54 WIB
Oleh : AB

Oleh: Yanto Bashri*

Judul tulisan ini dipinjam dari sebuah lagu Rindu Ramadan yang pernah dipopulerkan oleh Rafika Duri pada 2013. Syair lagu tersebut, antara lain berbunyi: sejenak mari kita renungkan, setelah kita beribadah Ramadan, masihkah adakah getar hati yang rindu, Ramadan janganlah, jangan segera berlalu.

Seperti digambarkan dalam Rindu Ramadan, dalam sejarah umat Islam, kedatangan bulan Ramadan selalu disambut penuh sukacita. Misalnya disebutkan: ya Rabi yang maha Kuasa, tambahkanlah setahun umur hamba, tahun depan kembali hamba puasa, manisnya iman, ibadah tiada tara.

Masyarakat kita memiliki ragam budaya menyambut datangnya Ramadan, misalnya punggahan atau naik derajat di Sumatera Utara, padusan atau mandi niat membersihkan di Jawa, malamang di Sumatera Barat, atau memasak lemang dari beras ketan, suru maca yaitu membaca doa sebelum puasa di Bugis Makassar, nyadran atau membersihkan kuburan, ruwahan, dandangan, dan masih banyak lagi.

Di era kemajuan teknologi, budaya sambut Ramadan berkembang dalam bentuk pembuatan pamflet dan stiker digital yang dikirim (share) ke media sosial pribadi, bahkan tidak jarang juga dalam bentuk video yang disebar di YouTube. Di sejumlah stiker sering terlihat foto pribadi atau keluarga lengkap dengan peci dan baju muslim.

Meski telah menjadi fenomena baru masyarakat perkotaan, budaya-budaya unik dijalankan masyarakat itu masih dapat kita saksikan di kampung hingga sekarang. Akibatnya, kita saksikan budaya lama dan baru hadir dalam kehidupan yang secara signifikan memperkuat nilai Ramadan, bukan sekadar pamer budaya.

Di tengah dinamika keagamaan, budaya itu dapat dimaknai sebagai simbol tingkat religiositas. Ramadan memang memiliki banyak atribut penting, misalnya bulan keberkahan, kesucian, dan keampunan. Ramadan bagi umat Islam memiliki banyak keistimewaan.

Salah satu keistimewanya adalah turunnya Al-Qur’an pada lailatulqadar yang berarti malam penentuan atau malam kepastian. Disebut demikian karena malam tersebut Allah Swt benar-benar menurunkan Al-Qur’an ke muka bumi. Pada malam penentuan itu, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an adalah malam yang lebih baik daripada seribu bulan (alfi syahr). Para malaikat bersama roh turun ke bumi membawa rahmat, berkah, dan magfirah (QS 97:1-5).

Keistimewaan lain adalah perintah puasa sebulan penuh, tua atau muda. Puasa dimulai dari terbit fajar hingga matahari terbenam bermakna tidak hanya sebagai proses “pelepasan diri” dari kesibukan sehari-hari bersifat duniawi, tetapi lebih dari itu puasa merupakan perjuangan serius manusia untuk mengartikulasikan dirinya dalam konteks “transendensi kedirian” dan “transendensi ketuhanan”.

Dalam puasa ada proses tarbiah (pendidikan) sebagai jalan memanusiakan diri atau penyadaran terhadap hakikat dirinya sebagai manusia. Ibarat perjanjian kerja, puasa merupakan kontrak spiritual yang harus dijalankan manusia untuk membersihkan hati dan menjernihkan pikiran dari keserakahan dan kerakusan duniawi.

Ada pula yang menyebutkan bahwa puasa adalah riyâdlah ruhâniyah (olah rohani) yang bersifat pribadi. Saking pribadinya sehingga tidak ada orang lain yang mengetahui kecuali dirinya dan Tuhan saja. Daya juang dalam olah rohani akan ditentukan seberapa kuat niat manusia untuk menahan lapar dan rasa haus. Maka, meski sanggup menahan haus dan lapar, tetapi niatnya salah, tidak memperoleh pahala.

Perut kosong dari makanan akan membersihkan pikiran, menyucikan hati, dan menyelesaikan tugas lebih mudah. Sebaliknya, jika perut terlalu kenyang akan membuat orang cepat mengantuk dan tidak bisa berpikir jernih.

Budaya sambut Ramadan yang dominan dalam masyarakat oleh sebagian lain disebut bukan tradisi Islam. Sebaliknya, sebagian umat Islam secara kronis dihinggapi masalah internal, seperti takfiri, bidah, dan penguatan kelompok (asabiyah). Hasilnya, budaya yang berkembang tidak mencerminkan nilai-nilai Islam sesungguhnya, tetapi cenderung fanatis karena didasarkan pada padangan teks standar pendek (short standard textbook)

Dengan demikian, umat Islam turut menyumbang kemerosotan citra Islam dalam beberapa tahun terakhir. Muhamad Ali dalam Muslim Diversity: Islam and Local Tradition in Java and Sulawesi Indonesia memberi catatan penting. Pertama, masyarakat menempatkan secara terpisah antara Islam dan tradisi. Hasilnya, Islam praktis seolah sebagai lawan Islam idealis dan normatif. Tidak ada Islam petani, pedagang, mistik, cendekiawan, dan lainnya jika tradisi ditempatkan secara praktis.

Kedua, Islam cenderung dilihat dalam oposisi biner (binary opposition), seperti tradisionalisme-modernisme, legalisme-mistisisme, dan lainnya. Dalam hal ini seolah-olah tidak ada wilayah abu-abu. Kategorisasi biner semacam ini tentu saja sangat membantu memberikan pemahaman, tetapi perlu diingat bahwa kategorisasi dapat berfungsi sebagai penyederhanaan, bukan sebagai cermin realitas yang sempurna.

Apa yang harus dilakukan umat Islam jika Ramadan ditempatkan sebagai bulan suci dan penuh berkah untuk memperoleh pengampunan? Selain cara pandang, ada beberapa aspek lain tradisi keagamaan yang perlu jadi perhatian. Namun, mengingat posisi tradisi yang krusial untuk keagamaan substantif, keterbukaan dalam cara pandang patut menjadi prioritas.

Meminjam kerangka Alexandre Paquin-Pelletier (2019) bahwa umat Islam di Indonesia boleh jadi mengalami peningkatan signifikan dari sisi kuantitas dibandingkan dengan umat Islam di dunia, seperti Malaysia, Singapura, atau negara-negara Arab lainnya. Umat Islam Indonesia telah terwadahi baik dan lebih efektif menunaikan salat berjemaah, haji, dan zakat. Namun, umat Islam menghadapi masalah yang memerlukan perhatian serius dari berbagai kalangan. Kebanyakan masalah pokok itu terkait erat dengan tradisi agama, terutama memahami makna jihad dan orientasi pragmatis surgawi, seperti yang terjadi di Makassar dan Jakarta beberapa pekan terakhir.

*Wakil Sekretaris LP Ma’arif NU PBNU, penulis buku Dinamika Politik NU Era Presiden Gus Dur




BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS