Menjadi Insan Kamil
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Menjadi Insan Kamil

Selasa, 11 Mei 2021 | 10:06 WIB
Oleh : AB

Oleh: Aan Rukmana*

Puasa Ramadan akan berakhir dalam beberapa hari ini. Bagi sebagian masyarakat ada yang merasa bersyukur Ramadan akan segera berakhir, tetapi sebagian lainnya merasa sedih meninggalkan bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Sebagai bulan pelatihan rohaniah tentu ada di antara kita yang lulus ujian dan ada juga yang terkendala banyak hal, sehingga pelaksanaannya tidak bisa dijalankan secara total.

Apa pun hasilnya, kita harus tetap memiliki keyakinan bahwa puasa melatih kita untuk terus berproses dari manusia awal (al-insân al-qadîm) yang penuh dosa menuju manusia masa depan yang penuh kebaikan (al-insân al-kâmil). Sebagaimana termaktub di alam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 183 bahwa yang menjadi objek undangan berpuasa adalah orang-orang yang beriman (alladzîna âmanû) menuju satu titik akhir, yaitu ketakwaan (la’allakum tattaqûn). Ketakwaan inilah salah satu ciri manusia yang sudah sampai kepada titik kualitas tertingginya.

Di dalam tradisi Islam dikenal satu istilah, yaitu al-insân al-kâmil yang dapat diartikan sebagai manusia universal atau manusia yang serba-meliputi. Al-insân al-kâmil bukanlah manusia kaleng-kaleng yang memiliki orientasi hidup semata persoalan duniawi, akan tetapi meski kakinya menginjakkan kaki di bumi, rohnya terhubung langsung dengan alam langit.

Boleh saja selama hidup ia berprofesi sebagai tukang ojek, buruh kasar, atau mungkin direktur sampai komisaris, akan tetapi itu semua tidak pernah menurunkan kualitas dirinya sebagai hamba Allah sekaligus khalifah-Nya. Sebagai hamba Allah, ia akan tunduk kepada semua ketentuan Allah atas dirinya. Ia akan mengikuti apa-apa yang diperintahkan Allah sekaligus menghindari apa-apa yang dilarang-Nya.

Hidup di bawah rida Allah adalah kebahagiaan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun, termasuk oleh segenap dunia serta segala isinya. Sebagai khalifah Allah, ia akan berperan aktif di dalam membangun peradaban dunia ke arah lebih baik lagi. Ia tidak akan berdiam diri di saat melihat kerusakan di atas muka bumi ini, sekaligus akan berjuang di dalam memelihara kehidupan yang sudah diamanatkan kepada dirinya. Ia akan menjadi pemimpin, bukan hanya untuk dirinya, juga untuk segenap alam semesta. Ia akan menghormati manusia sebagaimana ia pun akan menghormati semut-semut kecil yang berjalan di depannya. Alih-alih membuat keonaran dalam hidup ini, al-insân al-kâmil akan menjadi penyeimbang agar hidup berjalan harmonis dan seimbang.

Bagi seseorang yang sudah tercerahkan tersebut boleh jadi ia memiliki dua mata, akan tetapi kedua mata tersebut mewakili mata-mata lain yang tidak mampu memandang kehidupan dengan jernih. Ia pun memiliki dua tangan, akan tetapi dengan kedua tangannya itu ia banyak membantu tangan-tangan lain yang papa dan tak berdaya. Ia pun menjadi co-partner Sang Khalik yang terlibat aktif dalam menjalankan amanah kekhalifahannya.

Setiap malam pribadi yang istimewa ini duduk tafakur bercengkrama dengan Allah di dalam kesunyian malam. Di saat manusia lain terlelap tidur, ia justru bangun menghampiri Allah Swt. Dalam keheningan malam, ia memanjatkan doa agar diberikan kekuatan di dalam menjalankan amanah membangun dunia menjadi lebih baik lagi.

Di siang hari, ia terlibat aktif di masyarakat. Andai ia bekerja sebagai buruh pabrik sekalipun, ia akan bekerja dengan segenap hatinya. Komitmen ia bekerja bukan karena takut pada departemen SDM perusahaannya, tetapi ia memiliki komitmen langsung dengan Allah.

Andai ia menjadi pengusaha atau politisi, maka ia pun akan bekerja dengan tulus dan ikhlas dalam rangka mencari rida Allah Swt. Pantang bagi jiwa yang bekerja karena Allah untuk berperilaku koruptif, menindas sesama atau bawahan, apalagi bersikap angkuh di hadapan manusia lainnya. Ia menyadari bahwa hidup yang dijalaninya merupakan titipan dari Allah, maka sebagai titipan, kita bertugas untuk menjalankannya dengan baik sehingga ketika diminta untuk mengembalikan hidup ini, akan dikembalikan kepada Allah tanpa kekurangan suatu apa pun.

Al-insân al-kâmil memiliki kepribadian yang sangat stabil dan tenang seperti samudera yang tampak tenang di permukaan akan tetapi itu menunjukkan kedalaman jiwanya. Meski ia hidup bergulat dengan dunia, tidak pernah sedikit pun hatinya terikat oleh dunia. Ia sengaja menutup hatinya sekuat-kuatnya karena hanya ia peruntukkan untuk Allah yang sudah memberikannya kehidupan.

Selama hidup, ia hanya ingin menebar kebaikan, berbagi dengan sesama baik yang dikenalnya maupun tidak, dan yang jelas di saat dunia ini semakin gelap, ia akan tetap bercahaya seperti kunang-kunang yang terus bersinar di tengah kegelapan malam. Tidak heran jika manusia-manusia seperti inilah yang menjadi paku bumi serta alasan dari diciptakannya dunia ini.

Selama al-insân al-kâmil ini hadir di tengah-tengah masyarakat, maka kehidupan akan terus terjaga sisi kebaikannya. Sebaliknya jika kelompok ini sudah semakin hilang dan jarang, bisa jadi ini penanda bahwa dunia ini semakin tua dan sudah sampai kepada titik ujungnya. Semoga kita semua dapat menjadi al-insân al-kâmil yang melanjutkan amanat kenabian di dunia ini.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta




BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS