Ramadan dan Penghargaan Tugas Domestik
Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Ramadan dan Penghargaan Tugas Domestik

Selasa, 11 Mei 2021 | 17:38 WIB
Oleh : AB

Oleh: Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah*

Menjalani hari-hari di bulan Ramadan selama pandemi Covid-19 tentu merupakan pengalaman yang berbeda dengan masa sebelumnya. Kita tidak lagi leluasa menghabiskan waktu di masjid, surau, atau musala, untuk beribadah tadarus dan tarawih bersama-sama. Pun kita harus membatasi diri dari kegiatan ibadah di masjid yang bersifat individual, seperti iktikaf, zikir, dan salat malam. Meskipun pandemi telah membatasi ruang gerak umat Islam, tetapi semangat ibadah umat Islam di bulan Ramadan tidak surut sedikitpun. Kita masih bisa memaksimalkan ibadah meskipun dilakukan di dalam rumah.

Terdapat hikmah lebih ketika ibadah Ramadan dilakukan di rumah. Misalnya, salat tawarih dan tadarus berjemaah yang sebulan penuh dilakukan bersama keluarga memberi manfaat lebih pada hubungan anak, orang tua, dan suami istri. Anak-anak memiliki waktu beribadah lebih banyak bersama orang tuanya. Anak-anak bisa belajar langsung dari contoh baik (uswah hasanah) yang dilakukan ayah dan ibunya dalam beribadah. Kesadaran ini akan mendorong orang tua menjadikan bulan Ramadan di masa pandemi sebagai momentum transfer tradisi dan kebiasaan baik untuk membentuk akhlak karimah keluarga.

Beribadah di rumah juga menguatkan hubungan batin suami dan istri, sehingga menjadi semakin erat. Kegiatan ibadah yang lebih intens dilakukan bersama akan membangun nilai spiritualitas Islam yang semakin menguatkan makna dan kualitas relasi di antara keduanya.

Pentingnya memperbanyak ibadah di bulan Ramadan tentu memiliki dasar yang sangat kuat, baik dari Al-Qur'an maupun hadis. Bulan Ramadan menjadi bulan pilihan yang sangat istimewa. Qs Al Qadar secara tegas menyatakan bahwa di bulan Ramadan-lah Al-Qur'an diturunkan, para malaikat dan para nabi turun ke bumi.

Secara khusus, Ibnul ‘Arabi menguatkan istimewanya bulan Ramadan dengan memaknai malam turunnya Al-Qur'an atau malam lailatulqadar sebagai malam yang penuh kemuliaan, karena ia menjadi malam yang lebih baik dari seribu bulan lainnya (Qs Al Qadar:3).

Di dalam hadis, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira bahwa umat yang berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt, maka ia akan mendapatkan pengampunan dari dosa-dosanya terdahulu. Selama Ramadan, Allah telah menebarkan rahmat dan ampunan-Nya bagi seluruh alam semesta.

Dalam memaknai ibadah di bulan Ramadan, umat Islam berlomba-lomba melakukan ibadah yang dapat meningkatkan hubungan manusia dengan Allah (habl minallah). Salat, zikir, dan iktikaf, merupakan contoh ibadah yang paling sering kita dengar dilakukan umat Islam. Seakan-akan, membangun dan meningkatkan hubungan manusia dengan Allah saja sudah cukup untuk membekali diri kita menjalani kehidupan di dunia ini.

Pandangan dan kesadaran diri semacam itu penting direfleksikan kembali. Mengapa? Karena perhatian dan kepedulian pada hubungan antarmanusia (habl minannas) sejatinya menjadi esensi dari bukti keimanan dan kedekatan kita kepada Allah Swt. Salah satu indikator rasa syukur manusia kepada Allah diukur melalui seberapa berterima kasihnya kepada manusia.

Sebagian umat Islam telah menyadari pentingnya membangun hablum minannas di samping hablum minallah. Rasa kepedulian kepada manusia lain mewujud pada sikap positif untuk lebih banyak bersedekah dan berbagi harta dengan kaum duafa selama Ramadan. Akhlak ini merupakan tindakan mulia yang penting dilakukan umat Islam. Menolong anak yatim dan menyayangi fakir miskin menjadi alternatif pilihan dalam membumikan nilai spiritualitas dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Namun, pernahkah kita berpikir bahwa meringankan beban tanggung jawab perempuan dalam melakukan kerja-kerja domestik sejatinya merupakan wajah dari nilai kepedulian yang hakiki?

Selama Ramadan, bekerja di kantor mengalami adaptasi. Jam kerja dikurangi tanpa ada konsekuensi pada gaji yang diterima. Sejumlah keringanan diberikan, bahkan terdapat sejumlah keistimewaan dalam berbagai bentuk, termasuk THR. Meskipun demikian, masih saja terdengar adanya pemakluman atas menurunnya kinerja selama atau berbagai alasan pembenar, meski hal ini tidak tepat. Istimewanya perlakuan selama Ramadan di kantor yang menunjukkan penghormatan pada bulan suci Ramadan telah memengaruhi kebijakan pada apresiasi kerja di ranah publik.

Jika di perkantoran ada perlakuan istimewa, situasi sebaliknya justru terjadi di dalam rumah. Sebagaimana ruang publik, ranah domestik juga mengalami adaptasi setiap kali bulan suci Ramadan datang. Adanya sahur dan buka puasa menjadi bagian penting yang berkontribusi pada perubahan ritme kerja di dalam rumah.

Tuntutan adanya menu istimewa di setiap buka puasa dan sahur mengadaptasi peran yang harus dilakukan, termasuk sahur yang harus disiapkan di sepertiga malam berakhir. Wajah perubahan pada ranah domestik justru menunjukkan jam kerja yang lebih panjang terjadi selama Ramadan.

Di masa pandemi, berkumpulnya keluarga dalam rumah, bekerja dari rumah, belajar dari rumah berkonsekuensi pada semakin tingginya peran penting perempuan, terutama ibu/istri. Hadirnya Ramadan di masa pandemi dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi bersama dalam mengapresiasi bertumpuknya peran di ranah domestik.

Meningkatkan sensitivitas dan kepedulian pada tugas-tugas di dalam rumah yang selama ini lebih dominan dilakukan perempuan merupakan wujud nyata dalam merawat hablum minannas. Tanpa harus keluar rumah, merawat nilai kemanusiaan dapat dilakukan dari dalam rumah kita sendiri. Melibatkan diri, turut serta melakukan peran domestik, dan mengambil peran dalam meringankan tugas rumah tangga, merefleksikan kepedulian yang sejati.

Turut berkontribusinya anggota keluarga, terutama suami dan anak laki-laki, berdampak pada lebih ringannya peran dan tugas perempuan selama Ramadan di masa pandemi. Hal inilah contoh nyata nilai ketakwaan yang membumi dalam tindakan konkret sebagaimana ungkapan Rasulullah bahwa orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik dalam memperlakukan istri dan keluarganya. Jika tidak kita mulai dari sekarang, lalu kapan lagi? Wallahu a’lam bi ash showab.

*Bendahara Umum LP Ma'arif NU PBNU




BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS