Agama dan Utang Eksistensial Manusia
JALAN PULANG

Agama dan Utang Eksistensial Manusia

2 Mei 2021 | 09:56 WIB
Oleh: Anselmus Bata

Oleh: Ridwan Arif*

Menurut Profesor Syed Muhammad Naquib al-Attas, istilah agama yang merupakan terjemahan dari bahasa Arab dīn (dari akar kata d-y-n) berasal dari kata dayn yang berarti utang. Lalu, apa hubungan semantik antara kata agama (din) dengan utang (dayn)?

Konsep berutang dalam konteks keberagamaan dan spiritual, jelas al-Attas, ialah manusia berutang kepada Allah, Zat yang menciptakannya, yang menzahirkan eksistensinya dan mempertahankannya dalam eksistensi tersebut. Sebelumnya ia adalah "tiada", tidak berwujud, dan kemudian baru ia berwujud.

Seseorang yang merenungkan asal-usulnya akan menyadari bahwa puluhan tahun lalu (sebelum ia ada) ia tidak ada. Ia juga tidak mengetahui tentang kemungkinan eksistensinya pada masa mendatang. Orang yang merenungkan hal ini akan mengetahui secara intuitif bahwa ia berutang kepada Allah Sang Khalik dalam penciptaan dan eksistensi dirinya.

Ia menyadari bahwa dirinya tiada berperan apa-apa dalam proses penciptaan dirinya, sejak dari sel sperma dalam setetes air lalu berubah menjadi segumpal darah (‘alaqah), kemudian menjadi segumpal daging (mudghah) lalu berkembang menjadi manusia yang sempurna.

Ia akan menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kuasa sedikit pun menciptakan panca indra bagi dirinya sendiri. Perenungan yang mendalam tentang asal-usul diri ini akan membawa seseorang kepada kesadaran bahwa utangnya kepada Allah adalah "dirinya" sendiri.

Dengan demikian, utang manusia kepada Allah ialah "eksistensi dirinya" sendiri, sebagaimana firman Allah Swt,"Wahai manusia sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang yang bertakwa.” (al-Baqarah (2) 21) Inilah salah satu alasan kenapa manusia harus beragama, karena ia berutang kepada Allah Sang Pencipta.

Dalam konteks kewujudan dirinya, utang eksistensial manusia dapat dibedakan menjadi dua. Pertama, kemunculan eksistensi dan kedua, kebertahanan eksistensi. Pengarang kitab al-Hikam, Syekh Ibn ‘Athaillah al-Sakandari menyebut yang pertama dengan "nikmat ijad" dan yang kedua, dengan "nikmat imdad". Dengan nikmat ijad, manusia keluar dari "ketiadaan" menjadi "ada".

Dengan semata-mata nikmat ijad, tidak ada jaminan eksistensi bisa bertahan lama. Mungkin saja ia akan kembali kepada "ketiadaan" sesaat setelah ia mewujud. Karena itu, diperlukan nikmat yang kedua, yaitu nikmat imdad. Dengan nikmat imdad, eksistensi manusia bisa bertahan lama.

Agar eksistensi manusia bertahan lama, Allah menyiapkan segala fasilitas yang bisa membantu kebertahanan wujud tersebut. Demi kelangsungan eksistensial manusia, Allah telah menyiapkan bumi sebagai tempat kediaman. Dari awal bumi telah didesain oleh Sang Pencipta sebagai planet yang memungkinkan adanya kehidupan.

Dia mendesain bumi yang mungkin untuk ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan yang menyediakan bahan makanan bagi manusia. Dia juga menurunkan hujan dari langit yang membantu kesuburan bumi. sebagaimana firman-Nya,“Dialah yang menciptakan bumi terhampar luas dan langit sebagai bangunan dan dia menurunkan air (hujan) dari langit kemudian dengan air tersebut dia mengeluarkan bermacam-macam buah-buahan karena rezeki untukmu. Maka, janganlah kamu menjadikan sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah (2): 22)

Sebagaimana layaknya orang berutang, manusia tentu harus membayar utangnya kepada Allah. Disebabkan utang tersebut ialah "dirinya sendiri", maka utang tersebut tentu harus dibayar dengan "dirinya" juga. Bagaimana cara membayar utang dengan dirinya? Dengan menyerahkan dirinya (islam) kepada Allah sang pemilik mutlak diri dengan penyerahan total (istislam), dan memasrahkan diri kepada-Nya.

Konsekuensi dari penyerahan diri dan kepasrahan adalah ketundukan dan kepatuhan kepada-Nya; berkhidmat dan menghambakan diri kepada-Nya dengan melaksanakan segala perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya. Sekali kita menyerahkan diri kepada Allah berarti kita telah merelakan diri kepada-Nya. Inilah inti dari agama, yaitu penyerahan diri (islam), ketundukan dan kepatuhan kepada Sang Khalik yang dilandasi keimanan kepada-Nya.

Seseorang yang menyadari utang eksistensialnya tidak akan pernah menolak untuk beragama dan tidak akan merasa berat untuk beribadah kepada Tuhannya. Ia akan beragama dengan sadar tanpa paksaan dari siapa pun. Ia akan menjadi hamba yang menyerahkan dirinya kepada Allah dengan penyerahan diri yang ikhlas dan total. Penyerahan dan pemasrahan diri yang total kepada Sang Khalik akan termanifestasi dalam pikiran, ucapan, sikap, tindakan maupun tingkah lakunya.
Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Pengajar Prodi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta

 



Sumber:


BAGIKAN
GALERI