Kembali ke Titik Nol
JALAN PULANG

Kembali ke Titik Nol

13 Mei 2021 | 08:10 WIB
Oleh: Anselmus Bata

Oleh: Aan Rukmana*

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Suara takbir terus bergema di mana-mana. Hari ini tepat setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa umat Islam memasuki momen spesial, yaitu perayaan Idulfitri. Secara istilah, Idulfitri artinya adalah kembali ke fitrah kita yang sebenarnya atau dalam bahasa lain kita kembali ke titik nol setelah jauh melakukan perjalanan.

Mengapa kita harus kembali ke fitrah kita? Bukankah perjalanan diarahkan untuk menuju masa depan? Jika ya, mengapa harus kembali ke titik nol yang merupakan masa lalu kita?

Di dalam tradisi Islam, kembali ke fitrah atau kembali ke titik nol merupakan ajaran primordial yang mengarahkan kepada esensi hidup yang sebenarnya. Dengan kembali ke titik nol, kita akan diingatkan dengan hakikat hidup kita yang sebenarnya. Hidup yang kita jalani di dunia ini dengan berbagai pernak-perniknya tidak lebih adalah sebuah perjalanan dari Allah menuju Allah (min al-Khâlik ilâ al-Khâlik).

Dahulu sebelum roh kita dimasukan ke dalam tubuh, terjadi dialog primordial antara Allah dan roh. Dalam percakapan tersebut Allah bertanya kepada roh,“Alastu birabbikum?” yang artinya: apakah aku ini Tuhanmu?

Kemudian, roh menjawab,“Balâ syahidnâ,” yang berarti: benar kami menyaksikannya.

Ikrar roh kepada Allah pada alam azali tersebut merupakan titik awal dari segenap perjalan hidup kita di atas muka bumi ini. Jadi, apa pun jalan yang kita tempuh saat ini sebetulnya merupakan perjalanan kembali ke titik awal.

Seperti kisah bocah kecil dalam novel Alkemis karangan Paulo Coelho yang diminta sang raja untuk mengelilingi keindahan istananya dengan satu syarat: ia tetap bisa menjaga minyak yang ada di sendok yang dipegangnya. Di saat sang anak mulai berkeliling kerajaaan, berbagai keindahan yang ada di istana itu menjadikannya terpesona, sehingga ketika kembali kepada sang raja, ia lupa menjaga minyak yang dititipkan kepadanya.

Ia lupa akan tujuan awal dari diizinkannya masuk ke istana sang raja. Sikap lupa inilah yang sering kali menjauhkan kita dari kebenaran yang hakiki (al-haqq).

Kebiasaan manusia melupakan asal-usulnya dikenal dengan istilah al-ghaflah. Ketika manusia melupakan titik awal sesungguhnya, ia seperti sedang berjalan dalam ketidakpastian yang ujung dari perjalanan itu sendiri adalah ketersesatan. Tidak ada suatu perjalanan yang paling sia-sia, kecuali perjalanan tanpa tujuan. Meski sudah banyak tenaga, pikiran bahkan materi yang dikeluarkan, akan tetapi jika tanpa tujuan yang dimaksud tentu akan menjadi muspra belaka.

Allah dengan sifat kasih sayang-Nya tidak ingin hamba-hamba-Nya tersesat di dalam ketidakpastian itu. Maka, diutuslah para nabi serta berbagai ajarannya untuk mengajak manusia berjalan di jalan yang benar. Jalan yang mengajak manusia untuk senantiasa ingat Allah (dzikrullâh) kapan pun dan dalam kondisi sesulit apa pun.

Ibadah puasa yang sudah dijalani umat Islam selama satu bulan penuh merupakan bukti cinta Allah kepada manusia. Manusia senantiasa terus diberikan peringatan agar ingat asal-usulnya. Meski hidup di dunia ini akan tetapi bukan dunia inilah asal-usul manusia. Ia berasal dari Allah dan kepada Allah-lah ia kembali.

Pernyataan dalam Al-Qur’an inna lillâhi wa inna ilaihi râjiun merupakan deklarasi primordial yang menjelaskan sejelas-jelasnya akan asal-usul manusia yang sebenarnya. Penolakan atas pernyataan tersebut sama halnya pengingkaran atas fitrah kita. Kembali ke fitrah sama artinya kita meyakini dengan kesungguhan bahwa kita semua berasal dari Allah dan nanti akan kembali kepada-Nya.

Dalam momen Lebaran yang istimewa ini, boleh saja kita merayakannya dengan sukacita yang disimbolkan dengan memakai pakaian baru atau berkunjung ke sanak saudara. Satu hal yang patut diingat bahwa di tengah sukacita itu, kita sebetulnya sedang diajak untuk kembali mudik melihat asal-usul kita yang sebenarnya. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mudik ke kampung rohani dengan kemenangan (minal a’idina wal faizina). Selamat merayakan Idulfitri!

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina Jakarta



Sumber:


BAGIKAN
GALERI