Anggota DPR: Idulfitri Kokohkan Kepatuhan untuk Sempurnakan Kemenangan
JEDA

Anggota DPR: Idulfitri Kokohkan Kepatuhan untuk Sempurnakan Kemenangan

12 Mei 2021 | 16:15 WIB
Oleh: Bernadus Wijayaka

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi VIII DPR KH Maman Imanulhaq mengatakan, makna Idulfitri saat ini adalah mengokohkan kebersamaan dan kepatuhan untuk menyempurnakan kemenangan di tengah pandemi Covid-19.

Menurut dia, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (12/5/2021), Idulfitri memiliki arti kembali kepada fitrah kemanusiaan yang mengacu kepada tiga nilai utama.

Yang pertama adalah keimanan, kedua kebaikan, dan ketiga keindahan. Maka pada konteks Idulfitri tahun ini, umat Islam harus memaknainya agar nilai-nilai keimanan dengan konteks memberikan rasa aman, baik kepada diri sendiri, maupun kepada orang lain.

Caranya adalah mengokohkan kebersamaan dan kepatuhan dengan memakai masker, menjaga jarak dan juga selalu untuk mencuci tangan, untuk menyempurnakan kemenangan di hari fitri.

“Itulah sesungguhnya hakikat dari pada Idulfitri karena kalau kita memiliki pemahaman yang rasa aman maka itu akan terjadi kebaikan di tengah masyarakat. Kebaikan yang diharapkan pada saat ini adalah tidak menyebarnya Covid-19,” ujarnya.

Tentu, lanjut Kang Maman, nilai-nilai kebaikan itu harus menjadi prinsip utama umat Islam dalam merayakan Idulfitri.

“Kita masih diberi umur oleh Allah SWT, kita masih diberi kesempatan untuk menikmati Idulfitri walau dalam keterbatasan. Keindahan Idulfitri bukan terletak pada nilai kerumunan atau pertemuan, tetapi justru pada hakekat kebersamaan dan persaudaraan,” kata Wakil Sekretaris Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Kebahagiaan
Selain itu, kemenangan pada Idulfitri sesungguhnya terletak pada kemampuan untuk meraih kebahagiaan dan itu hanya bisa dicapai atas tiga hal.

Pertama adalah tazkiyatun fafsi atau penyucian diri, tidak boleh ada iri, dengki, tidak boleh ada dendam, tidak boleh ada penyebaran hoax tidak boleh ada fitnah. Juga tidak boleh ada upaya untuk merancang perilaku radikalisme atau terorisme karena orang yang hatinya suci akan selalu mencintai sesama dan mencintai negeri.

Yang kedua, kata Maman, kebahagiaan dan kemenangan itu dicapai dengan zikir yang banyak menyebut nama Allah. Hal ini sebenarnya menjadi momentum penting ketika memakai masker untuk menutup mulut, maka itu menjadi tanda bahwa tidak boleh berbohong, tidak boleh memfitnah, memprovokasi, menyebarkan hoax, dan juga mengumbar janji yang tidak akan bisa dipenuhi.

Yang ketiga yaitu melakukan salat. Salat menjadi inti utama dalam ajaran Islam di mana orang yang melakukan salat akan dijauhkan dari nilai-nilai fahsya dan mungkar nilai-nilai kejelekan.

“Maka orang yang rajin salat tidak akan pernah dia berani untuk mencaci maki, memfitnah saudaranya sendiri. Ia akan selalu menciptakan nilai-nilai perdamaian dan keselamatan,” ungkap pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka ini.



Sumber: ANTARA


BAGIKAN
GALERI