Kisah Muslim di Hong Kong Menjalani Puasa di Tengah Pandemi
JEDA

Kisah Muslim di Hong Kong Menjalani Puasa di Tengah Pandemi

29 April 2021 | 22:45 WIB
Oleh: Iman Rahman Cahyadi / Iman Rahman Cahyadi

Jakarta, Beritasatu.com - Seperti halnya umat muslim di seluruh dunia, sebanyak 300.000 umat muslim di Hong Kong juga ikut merayakan bulan suci Ramadan. Sebagai kota yang menghargai keragaman, Hong Kong memiliki banyak pilihan tempat makan dan toko halal bagi para wisatawan dan umat muslim lokal. Hong Kong juga memiliki lima masjid besar yaitu Masjid Kowloon, Masjid Al Ammar, Masjid Jamie, Masjid Chai Wan dan Masjid Stanley; dan sejumlah musholla di berbagai tempat.

Umumnya, selama bulan Ramadan ini, seluruh aktivitas akan terpusat di masjid, mulai dari berbuka puasa, salat berjamaah hingga saling berbagi kebutuhan di antara masyarakat setempat. Menurut Imam Besar Hong Kong, Muhammad Arshad, situasi Ramadan di Hong Kong terasa berbeda sejak Pandemi Covid-19 melanda tahun lalu.

Tahun 2020 lalu, masjid ditutup sekitar setengah bulan Ramadan. Setelahnya, masjid dibuka namun dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, di mana para jamaah diwajibkan menjaga jarak, dan mengenakan masker selama salat di masjid.

“Ramadan tahun lalu dan tahun ini memang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, kami masih melaksanakan salat Tarawih di dalam masjid, dengan protokol kesehatan yang ketat termasuk menjaga jarak. Kami pun tidak lagi melakukan berbuka puasa di masjid di mana para jemaah akan membawa makanan dan minuman bukan hanya untuk berbuka puasa namun juga untuk dibagikan ke warga setempat. Sebelum pandemi melanda, di Masjid Raya Kowloon, setiap malamnya, salat tarawih biasanya akan diikuti sekitar 1.500 sampai 2.000 jemaah. Namun saat ini, kami hanya melaksanakannya bersama staf masjid,” ujar Imam Besar Hong Kong, Muhammad Arshad.

Imam Besar Hong Kong, Muhammad Arshad.

Pandemi juga memengaruhi restoran halal di Hong Kong dan mengubah strategi bisnis restoran selama Ramadan. Ma's Restaurant adalah restoran Tiongkok halal yang populer di kalangan Muslim, baik lokal maupun turis. Para pengunjung akan dimanjakan lidahnya dengan penganan khas masakan Tiongkok halal, mulai dari mie daging sapi ala Shanghai, Sup Goulash Daging Sapi Muda, dan berbagai pilihan dimsum.

Sebelum pandemi melanda, para pelanggan harus melakukan reservasi tempat terlebuh dahulu sekaligus memesan makanan untuk berbuka puasa. “Saat ini, dikarenakan adanya pembatasan pergerakan dan terkait dengan penerapan protokol kesehatan, kebanyakan orang merasa lebih aman untuk bersantap di rumah. Saat ini, kami mulai lebih fokus pada pengiriman menggunakan operator dan juga pengambilan sendiri oleh pelanggan, karena mereka merasa lebih nyaman saat makan di rumah mereka sendiri,” ujar Mr Ma, pemilik Ma's Restaurant.

Salah satu pelanggan Ma's Restaurant adalah Imam Baihaqi, seorang warga negara Indonesia yang bekerja di Dompet Dhuafa Hong Kong. Menurut Imam, banyak cerita menarik terjadi selama puasa Hong Kong.

“Sebelum pandemi Covid-19, salah satu tradisi kami adalah mengadakan program kampanye untuk berbagi dengan komunitas non-Muslim tentang Ramadan dan praktik puasa. Kami akan menggelar acara buka puasa dan tarawih di mana kami mengundang beberapa ustaz dan ustazah dari Indonesia untuk memberikan ceramah di aula yang kami sewa dan satu ritual besar lainnya, salat Idulfitri di taman-taman besar yang ada di Hong Kong,” ujar Imam Baihaqi.

Namun karena pandemi, banyak dari aktivitas fisik ini telah dipindahkan ke platform online

Imam Baihaqi melihat Hong Kong sangat mendukung warganya tanpa memandang latar belakang agama mereka. Hal ini pula yang menurut Imam mengapa perkembangan Islam di Hongkong begitu baik. Ia juga menyoroti bagaimana tempat wisata internasional seperti Hong Kong Disneyland dan Ocean Park telah menyediakan restoran halal dan musala.

Bagi Imam Baihaqi, puasa di luar negeri merupakan ujian sekaligus pengalaman belajar, terutama di kota yang mayoritasnya tidak berpuasa. Ia juga berbagai bagaimana merindunya akan kampung halaman di Indoneisa, terutama disaat Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Baginya, Pandemi ini telah mempengaruhi kehidupan setiap orang, termasuk kebiasaan di bulan Ramadan ini. Namun, untuk beribadah, tidak bergantung apakah kita berjemaah atau sendiri, karena tujuan dasar berpuasa Ramadan tetap sama.

Meski pada praktiknya ada banyak hal yang berubah selama bulan Ramadan di tengah Pandemi ini, namun Imam Besar Hong Kong, Muhammad Arshad mengatakan bahwa Ramadan merupakan bulan yang menyerukan umat Islam untuk berbagi dan menyatu dengan semua umat manusia secara keseluruhan tanpa memandang latar belakang agama.

“Tantangan yang ada di dalam pandemi ini telah membawa kita semua untuk membela diri terlepas dari warna kulit, keyakinan, dan negara. Ramadan mengajari kita semua untuk disiplin, bertanggung jawab pada diri sendiri, dan menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain. Tidak ada waktu yang lebih baik untuk melakukan hal itu semua selain di bulan suci Ramadan ini, tutur Muhammad Arshad, Imam Besar Hong Kong.

 

 



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN
GALERI