Salat Sebagai Mikraj

Fuad Mahbub Siraj.

Salat Sebagai Mikraj
22 Mei 2018 | 10:39 WIB

Oleh: Fuad Mahbub Siraj

Salat adalah momentum audiensi manusia dengan Tuhan. Kesempatan untuk memperbarui, memperbaiki, memperteguh,dan menyempurnakan hubungan dengan-Nya melalui pengagungan, pujian, syukur, permohonan, dan curhat mengenai segala urusan dalam segala aspek kehidupan. Allah SWT berpesan dalam Alquran,“Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan dengan salat; ini sungguh berat, kecuali bagi mereka yang khusyuk.” (QS 2:45)

Demikian sentralnya posisi salat dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW bersabda,“Perbuatan seorang hamba Allah yang mula-mula diperhitungkan pada hari kiamat adalah salat. Jika salatnya baik, baik pula semua amalnya, dan jika buruk, buruk pula amal lainnya.” (HR Thabrani)

Salat adalah untuk mengingat Allah SWT. Bila seseorang senantiasa ingat kepada Allah SWT, maka ia akan tenang dalam menjalani kehidupan dan menghadapi segala dinamika serta problematikanya.

“Sungguh, Akulah Allah: tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku.” (QS 20:14)

“Sesungguhnya manusia diciptakan serbagelisah; bila ditimpa bahaya berkeluh kesah, dan bila menerima kekayaan kikir, kecuali orang yang tekun mengerjakan salat; mereka yang tetap setia mengerjakan salat.” (QS 70:19-23)

Esensi salat tertuang dalam sebuah hadis qudsi yang diriwayatkan Rasulullah SAW dari Tuhannya sebagai berikut,“Aku membagi salat antara Aku dan hamba-Ku, dan baginya apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan Alhamdu lillahi rabbil-alamin, Aku berkata, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Jika ia mengucapkan Ar-rahmanir-rahim, Aku berkata,‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ Jika ia mengucapkan Maliki yaumiddin, Aku berkata,'Hamba-Ku telah memuliakan dan pasrah kepada-Ku.” Jika ia mengucapkan Iyyaka na’budu wa'iyyaka nasta’in, Aku berkata,‘Inilah bagian-Ku dan bagian hamba-Ku; baginya apa yang ia minta.’ Dan jika ia mengucapkan Ihdinash-shirathal-mustaqim, shirathal-ladzina an’amta ‘alaihim ghairil-maghdhubi ‘alaihim waladh-dhallin, Aku berkata,'Ini untuk hamba-Ku dan baginya apa yang ia minta'.” (HQR Muslim)

Tidak sempurna salat seseorang tanpa membaca Al-Fatihah. Salat niscaya dilaksanakan dengan khusyuk. Peliharalah selalu semua salat dan salat pertengahan dan berdirilah di hadapan Allah dengan sekhusyuk hati. (QS 2:238)

Ikrar yang mesti diulang-ulang oleh setiap mukmin dan diresapkan dalam hati, pikiran, dan perasaannya ialah,“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidup dan matiku demi Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya.” (QS 6:162)

Rasulullah SAW meriwayatkan dari Tuhannya dalam hadis qudsi,“Aku hanya akan menerima salat dari seseorang yang rendah hati karena keagungan-Ku, tidak rewel pada ciptaan-Ku, tidak terus-menerus durhaka kepada-Ku; menghabiskan waktu siangnya untuk mengingat-Ku, menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan yang membutuhkan bantuan, dan para janda serta orang yang kena musibah. Aku akan melindunginya dengan kemuliaan-Ku.” (HQR al-Bazzar)

Setiap mukmin patut memanjatkan doa dan memohon kepada Allah SWT setiap saat,“Tuhan, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan salat, juga keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku. Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orangtuaku, dan orang-orang beriman pada hari diadakan perhitungan.” (QS 14:40-41)



© Copyright 2019 - Beritasatu All Right Reserved