Puasa, Takwa, dan Paradigma Pendidikan

Siti Ma'rifah.

Puasa, Takwa, dan Paradigma Pendidikan
22 Mei 2020 | 11:07 WIB

Oleh: Siti Ma’rifah*

Ibadah puasa Ramadan hanya diwajibkan kepada orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. Tujuan utamanya adalah mencapai level yang lebih tinggi, yakni menjadi orang yang bertakwa. Takwa bisa berarti menjaga, menghindari, menjauhi. Ada juga yang mengartikan takut. Dengan mengambil pengertian takut, maka takwa berarti ”takut kepada Allah”.

Karena ketakutan itu, maka ia harus mematuhi segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Pengertian ini, misalnya terungkap pada salah satu ayat Al-qur'an yaitu dalam surat Ali Imran (3:102). Ayat yang mengartikan takwa dengan takut ini membuat beberapa literatur berbahasa Inggris menerjemahkan takwa sebagai God-fearing, orang yang takut kepada Tuhan. Namun, dalam Al-Qur’an, kata takut telah memiliki padanan, yaitu khasyiya dan khawf, seperti terungkap dalam surat An-Nisa (4:9).

Di situ tampak nuansa perbedaan antara takut dan takwa. Penggunaan istilah takwa dalam ayat di atas, lebih cenderung kepada suatu sikap etis atau norma yang harus dilakukan manusia. Orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk Allah justru akan dijauhkan dari ketakutan atau suasana ketakutan, sebagaimana terdapat dalam surat Albaqarah (2:38).

Dengan demikian, pangkal dari takwa adalah perintah dan larangan Allah yang ditujukan kepada manusia beriman, sehingga muncul kesadaran untuk takut akan siksa Allah apabila tidak melaksanakan segala perintah-Nya. Cara untuk menghindari siksa Allah adalah dengan melaksanakan perintah-Nya, dan senantiasa menjaga serta memelihara untuk melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.

Iman dan Ketakwaan
Istilah dan penggunaan kata takwa selalu diawali atau bergandengan dengan kata iman, seperti dalam surat Ali Imran (3:102) tentang perintah puasa. Ini menunjukkan bahwa orang bisa melaksanakan ketakwaan atas dasar keimanannya.

Dalam konteks ketakwaan bisa dipahami mengapa keimanan seseorang bisa bertambah dan berkurang. Dengan beriman dan bertakwa, Allah menjanjikan hilangnya ketakutan dan kekhawatiran untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya sebagaimana tergambar dalam surat Al-Anfaal (8:29): dan orang-orang yang bertakwalah yang mendapat kemenangan.

Karakteristik orang yang bertakwa adalah selalu berbuat baik. Misalnya, melakukan sedekah atau menghindarkan diri berkata yang menyakitkan hati orang dan mengucapkan kata-kata yang baik. Maka, orang yang bertakwa (mutakin) adalah orang yang selalu menjaga dirinya dari perbuatan dosa dengan satu pedoman dan petunjuk Al-qur’an, sehingga bisa mengembangkan kemampuan rohani dan kesempurnaan diri. Mirza Nashir Ahmad dalam terjemahan the Holy Qur’an-nya, menyebut orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki mekanisme atau daya penangkal terhadap kejahatan yang bisa merusak diri sendiri dan orang lain.

Perintah Allah untuk berbuat baik dan menjauhi larangan-Nya sejalan dengan potensi yang diberikan Allah kepada manusia, yaitu Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

Pendidikan
Potensi yang ada dalam diri manusia tentu tak bisa lepas dari pendidikan. Dalam prosesnya, pendidikan merupakan upaya mengembangkan potensi manusiawi, yakni fisik, cipta, rasa, maupun karsa, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya.

Atas dasar itu, setiap pendidikan yang sedang berlangsung untuk mengembangkan potensi diri dan memperbaiki peradabannya sudah barang tentu memiliki paradigma, yaitu suatu cara pandang pendidikan dalam memahami dunia (world view). Setiap paradigma mencerminkan cara pandang masyarakat yang melaksanakan pendidikan itu.

Oleh karena itu, masyarakat maupun negara memiliki paradigma pendidikan sesuai cara pandangnya. Berkenaan dengan paradigma pendidikan itu, bangsa Indonesia dengan masyarakat yang religius memiliki pedoman dalam rumusan Pancasila dan UUD 1945. Seharusnya dari paradigma inilah sistem pendidikan Indonesia terumuskan.

Ada empat prinsip takwa yang berimplikasi kepada pendidikan. Pertama, dasar takwa adalah Al-qur’an yang berfungsi sebagai pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Rasulullah bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk itu dengan menyucikan dan mengajarkan manusia. Tujuan yang ingin dicapai adalah pengabdian kepada Allah sejalan dengan tujuan penciptaan manusia yaitu beribadah.

Kedua, berkenaan dengan hakikat dan tujuan pendidikan, maka pada dasarnya takwa merupakan hakikat dari tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu membina manusia sehingga mampu menjalankan fungsinya dalam membangun peradaban manusia. Takwa mendorong manusia untuk memperoleh ilmu sebagai modal dalam mengembangkan potensi dirinya dan bisa bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dengan baik dan harmonis sesuai dengan kapasitas serta keahliannya.

Ketiga, nilai-nilai takwa bukan saja sejalan dengan hakikat dan tujuan pendidikan, juga harus menjadi paradigma pendidikan. Paradigma ini menyangkut dasar filosofi, arah, proses, dan tujuan pendidikan. Maka, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berparadigma takwa.

Keempat, sejalan dengan paradigma takwa, maka tujuan ideal pendidikan Islam adalah manusia sempurna (insan kamil), yaitu manusia yang memiliki keunggulan jasmani, akal, dan kalbu. Ketiga aspek potensi manusia ini tidak lain adalah manusia takwa yang secara serasi dan seimbang mesti dikembangkan melalui pendidikan.

Nilai Ilahiah
Islam menekankan bahwa pendidikan merupakan perintah kewajiban agama, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran menjadi fokus yang sangat bermakna dan bernilai dalam kehidupan manusia. Seluruh pola rangkaian kegiatan pendidikan dalam konsep Islam merupakan ibadah kepada Allah. Karena bernilai ibadah, pendidikan Islam harus bermuara pada pencapaian penanaman nilai-nilai ilahiah dalam seluruh bangunan watak, perilaku, dan kepribadian peserta didik.

Islam memberikan posisi dan derajat yang sangat tinggi kepada orang-orang terdidik. Dengan demikian, kegiatan pendidikan memegang peranan penting dan kunci strategis dalam menghasilkan orang-orang tersebut. Seluruh proses kegiatan pembelajaran dan aktivitas pendidikan dalam konsep dan struktur ajaran Islam berlangsung sepanjang hayat (life long education). Seluruh proses prembelajaran dan pola pendidikan dalam konstruksi ajaran Islam bersifat dialogis, inovatif, dan terbuka.

Untuk itu, ada beberapa hal yang menjadi masalah pendidikan Indonesia jika dikaitkan dengan paradigma takwa. Pertama, iman dan takwa baru menjadi tema besar yang masih menjadi angan-angan dalam sistem pendidikan di Indonesia dan belum menjadi paradigma sistem pendidikan kita.

Seharusnya Iman dan takwa menjadi paradigma dalam sistem pendidikan, yang kemudian diturunkan dalam rumusan sistem dan kebijakan pendidikan, baik pada aspek manajemen kelembagaan, penyusunan kurikulum dan silabus, maupun pada aspek pembinaan dan proses belajar mengajar yang Islami. Perumusan paradigma iman dan takwa dalam sistem pendidikan Indonesia merupakan tugas bersama.

Kedua, jika takwa menjadi paradigma sistem pendidikan, maka ada tiga hal yang perlu dilakukan. Pertama, merumuskan nilai-nilai takwa untuk menjadi pilar sistem pendidikan Indonesia dan memayungi setiap kebijakan pendidikan dan proses belajar mengajarnya.

Kemudian kedua, membenahi dan merumuskan kembali struktur keilmuan Islam atau ilmu-ilmu keislaman.

Ketiga, dalam merumuskan sistem pendidikan itu, iman dan takwa harus menjadi landasan filosofinya. Tentu saja, yang dilakukan bukan hanya merumuskan aspek material semata karena memang sudah lengkap sebagaimana terdapat dalam Al-qur’an dan As-Sunnah, tetapi secara metodologis harus dirumuskan dalam satu bangunan konsep yang jelas tentang iman dan takwa yang akan dijadikan sebagai paradigma pendidikan.

Dan dalam menghadapi Covid-19 yang sekarang melanda dunia, termasuk Indonesia, sikap takwa tercermin dalam sikap yang ditunjukkan dengan iman, imun, aman, dan amin.

*Wakil Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PBNU

 



IMSAK
WIB
SUBUH
WIB
ZUHUR
WIB
ASAR
WIB
MAGRIB
WIB
ISYA
WIB
Note: untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya

Copyright©2020 - BeritaSatu All Right Reserved.