Ramadankan Hidupmu

Ridwan Arif.

Ramadankan Hidupmu
23 Mei 2020 | 12:16 WIB

Oleh: Ridwan Arif*

Sebentar lagi Ramadan akan meninggalkan kita. Sebagai seorang mukmin tentu saja kita merasa sedih. Sedih karena akan berpisah dengan bulan agung yang di dalamnya banyak terdapat peluang dari Allah Swt untuk para hamba-Nya. Peluang untuk mendapatkan ampunan dan suci dari segala dosa. Peluang untuk mendapatkan ganjaran amal yang berlipat ganda serta peluang mendapatkan waktu yang berkualitas, yaitu malam qadar. Sementara itu tidak ada jaminan bahwa kita akan bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan.

Jika seorang muslim mengetahui dan menghayati makna Ramadan, tentu ia tidak terlalu bersedih. Walaupun Ramadan sudah berlalu, Allah Swt masih memberi peluang kepada hamba-Nya untuk meraih faedah Ramadan, meningkatkan kualitas dirinya, dan mendapatkan maghfirah serta rahmat-Nya.

Sebagaimana jamak diketahui, puasa bukan hanya sebuah ritual tanpa makna dan tujuan. Sejatinya Ramadan adalah momen latihan (training) spiritual untuk mengantarkan seorang muslim menjadi insan yang bertakwa. Selama Ramadan, seorang muslim dilatih untuk melakukan pengendalian diri (hawa nafsu), menaklukkan jiwa rendah agar ia tidak menawan akal budi manusia yang akan menyebabkannya jatuh ke jurang kehinaan dan kebinasaan. Disebabkan Ramadan adalah momen training, maka berhasil atau tidaknya training tersebut hanya bisa dilihat setelah berlalunya bulan ini, sebagaimana haji yang mabrur hanya bisa dinilai dari perilaku seseorang setelah pulang ke tanah airnya.

Ibadah Ramadan bisa dikatakan berhasil jika seseorang bisa mempertahankan esensi ibadah Ramadan setelah berlalunya bulan tersebut seperti senantiasa mampu melakukan pengendalian diri, sehingga menahan diri dari hal-hal yang dilarang Allah Swt sebagai esensi dari ibadah puasa; senantiasa istikamah dalam mengisi waktunya dengan berbagai ibadah sunah, seperti tilawah Al-Qur’an, qiyamul lail, salat sunah duha, serta puasa-puasa sunah. Ringkasnya, ibadah Ramadan dianggap berhasil apabila ia sukses mengantarkan seorang muslim menjadi pribadi bertakwa.

Sebaliknya, jika berlalunya Ramadan seseorang malah kembali ke tabiat asalnya. Tidak mampu mengendalikan hawa nafsu, masih memelihara sifat-sifat tercela, seperti dengki, cinta dunia, tamak dan sebagainya, gagal menjaga anggota-anggota tubuh dari perbuatan dosa, merasa malas melakukan amal ibadah, maka ini indikator ibadah Ramadannya tidak berhasil.

Ramadan memang akan segera berlalu. Namun, jika kita memahami makna Ramadan, sepanjang tahun bisa menjadi Ramadan. Sebagaimana pernyataan seorang tokoh sufi terkenal, al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyful Mahjub, esensi puasa adalah menahan diri dari segala larangan Allah Swt. Karena itu orang yang senantiasa menjaga diri dari larangan Allah Swt, hakikatnya adalah sedang berpuasa. Dengan demikian orang tersebut seolah-olah selalu berada di bulan Ramadan.

Sebaliknya walaupun seseorang menunaikan ibadah puasa, tetapi jika ia gagal menjaga dirinya dari perbuatan dosa, maka seolah-olah ia tidak berada di bulan Ramadan karena ia tidak mendapatkan apa-apa dari bulan agung ini, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,“Betapa banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan dahaga."

Ketika berada di bulan Ramadan kita dituntut menghidupkannya dengan berbagai macam amal ibadah. Ketika Ramadan berlalu, kita dituntut untuk me-ramadan-kan hidup kita dengan senantiasa istikamah menghayati makna Ramadan, mengendalikan diri dari hawa nafsu, menjaga diri dari perbuatan-perbuatan dosa, dan istikamah mengisi waktu kita dengan berbagai amalan sunah yang akan mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Hidupkan Ramadan dan Ramadankan hidupmu!
Wallah musta’an.

 

*Dosen Universitas Paramadina Jakarta



IMSAK
WIB
SUBUH
WIB
ZUHUR
WIB
ASAR
WIB
MAGRIB
WIB
ISYA
WIB
Note: untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya

Copyright©2020 - BeritaSatu All Right Reserved.