Menghadirkan Kembali Kesucian dalam Hidup

Aan Rukmana.

Menghadirkan Kembali Kesucian dalam Hidup
24 Mei 2020 | 08:19 WIB

Oleh: Aan Rukmana*

Manusia memiliki nilai-nilai kesucian sejak awal kelahirannya. Berbeda halnya dengan makhluk lain, bahwa manusia memang diciptakan Allah sesuai fitrahnya sebagai makhluk suci. Oleh karena itu, Allah memberikan bekal kepada manusia akal agar dengannya mampu menjalani hidup seusai dengan fungsi yang sebenarnya sebagai khalifah.

Sebagai khalifah, manusia memiliki tugas khusus, yaitu membangun peradaban di atas muka bumi ini melalui reformasi bumi (ishlâh al-ardh). Maka dari itu, sudah menjadi fitrah penciptaannya bahwa manusia memiliki kecenderungan kepada yang baik. Akan tetapi seiring perjalanan waktu, potensi spiritual tersebut sering kali dilupakan, bahkan digantikan oleh perilaku-perilaku negatif dan destruktif yang pada akhirnya merugikan kehidupan manusia sendiri.

Agar manusia selalu ingat akan potensi dirinya, Allah mengutus para nabi kepada umat manusia agar mereka menyadari hakikat diri yang sebenarnya. Kesejatian manusia tidaklah berasal dari dimensi fisik yang dimilikinya, melainkan bersumber dari dimensi spiritual yang Allah tiupkan (wa nafakhtu min rûhî) pada diri manusia sejak awal penciptaannya.

Dengan dimensi spiritual ini, manusia akan terbimbing terus dalam hidupnya sehingga kelak ketika sudah selesai melaksanakan pengabdian di atas muka bumi ini dapat tetap terjaga kesuciannya. Melalui para Nabi inilah, manusia mendapatkan contoh baik (par excellence) serta teladan ideal (uswatun hasanah). Manusia tinggal mencontoh saja apa-apa yang telah dilakukan oleh para nabi, sehingga dapat terhindah dari jalan yang keliru yang berujung kepada kesesatan hidup.

Memang benar pada satu sisi manusia terdiri dan diciptakan dari unsur tanah yang secara logis manusia hidup dengan bentukan fisik. Akan tetapi, fisik bukanlah segala-galanya, karena bagaimanapun juga jika manusia hidup melulu hanya persoalan fisik saja lantas apa bedanya manusia dengan makhluk Allah lainnya, seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Sebagai pembeda dari itu semua, Allah menitipkan roh dalam fisik manusia. Dengan roh inilah, dimensi fisik yang tadinya bersifat profan berubah menjadi fisik yang mengandung kesucian. Ia menjadi suci karena di dalamnya ada roh yang memang bersumber dari Dzat Yang Maha Suci.

Untuk menjaga yang suci dalam tubuh manusia, Allah memberikan syariat kepada nabi yang harus dipelihara oleh manusia. Dengan menjalani syariat tersebut, manusia dapat terlibat langsung hidup dengan hal-hal duniawi, akan tetapi hatinya tidak pernah terpaut sedikit pun dengannya.

Manusia selalu memiliki ingatan dan kesadaran untuk kembali kepada dunia ketika dirinya berada di alam rahim. Alam yang penuh kasih sayang dan kesucian. Karena itu, manusia akan selalu terikat dengan kesucian, akan tetapi ikatan tersebut selalu dilupakan olehnya karena berbagai sebab. Agar tidak lupa manusia diberikan perintah oleh Allah untuk menjalani ibadah harian, seperti salat lima waktu, ibadah tahunan seperti menunaikan ibadah puasa di bulan suci Ramadan atau mungkin ibadah satu kali sepanjang hayat berupa naik haji ke tanah suci Makkah.

Jika manusia sungguh-sungguh menjalani semua perintah itu, manusia akan selalu terpelihara kesuciannya dan dengan demikian manusia pun akan menjadi manusia universal yang paripurna. Sebagai manusia universal (al-insân al-kâmil) dirinya akan selalu menjadi jembatan penghubung dari kehidupan sehari-hari yang sekuler menuju alam ketuhanan yang bersifat sakral. Ia akan menjadi pemimpin di atas muka bumi ini dengan adil. Manusia universal tidak akan semena-mena mengeksploitasi alam, apalagi ikut menghancurkannya.

Berbagai krisis yang terjadi saat ini, seperti merebaknya berbagai virus, tidak dapat dilepaskan dari sikap manusia yang keliru atas alam serta segala isinya. Manusia terlalu melewati batas-batas yang normal dan wajar dalam pengelolaannya. Akibatnya berbagai krisis lingkungan pun tak henti-hentinya terus berdatangan yang pada akhirnya menghancurkan tatanan kehidupan manusia itu sendiri.

Hanya dengan mengembalikan manusia kepada kesucianlah masa depan kehidupan yang lebih baik akan lahir. Tanpa itu, semuanya akan menjadi sia-siap dan menjadi muspra belaka. Minal Â’idin wal Fâizîn. Semoga kita termasuk orang-orang yang kembali dan mendapatkan kemenangan di hari raya Idulfitri kali ini, amin ya Rabb.

*Dosen Falsafah dan Agama Universitas Paramadina

 



IMSAK
WIB
SUBUH
WIB
ZUHUR
WIB
ASAR
WIB
MAGRIB
WIB
ISYA
WIB
Note: untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya

Copyright©2020 - BeritaSatu All Right Reserved.