Idulfitri, Pesan Kemaslahatan Alam Raya

Gushamka.

Idulfitri, Pesan Kemaslahatan Alam Raya
25 Mei 2020 | 16:18 WIB

Oleh: Gushamka*

"Ayahku wafat dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah SAW. Lalu, ibuku menikah dengan orang lain. Mereka mengambil rumahku, juga memakan hartaku. Jadilah aku seperti yang engkau saksikan ini, telanjang, kelaparan, sedih dan hina. Ketika tiba hari raya, aku melihat teman sebayaku bermain. Aku jadi tambah sedih. Lalu aku menangis," cerita seorang anak (as-shibyaan) yang didapati Rasulullah tetkala beliau hendak melakukan salat Idulfitri.

Mendengar cerita itu, hati Rasulullah SAW langsung terketuk dan seketika dihinggapi kesedihan. Rasulullah pun lantas berkata,"Wahai Nak, maukah kamu jika aku jadi ayahmu, Aisyah jadi ibumu, Fathimah jadi saudara perempuanmu, Ali jadi pamanmu, Hasan dan Husein menjadi saudara lelakimu?"

Jawaban Nabi Muhammad itu pun membuat anak tersebut terkejut. Ia tidak menyangka bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah baginda Rasulullah SAW. Sang anak pun bersukacita.

Sekelumit kisah pilu ini megilustrasikan betapa Idulfitri bukan sekadar perayaan kemenangan ritual belaka, pengakhiran dari puasa satu bulan, tetapi di situ Idulfitri mengirim pesan kemanusiaan, bahkan kepada orang yang tidak (belum) berkewajiban puasa. Idulfitri mengirim pesan hak pangan, hak sandang, hak perlidungan, hak pemeliharaan atau pendidikan serta hak kesehatan kepada seluruh umat manusia.

Makna yang paling sederhana tetapi mendasar bahwa Iid bermaka kembali, fithr bermakna makanan. Idulfitri secara sederhana berarti kembali (boleh) makan pagi, siang, seperti semula.

Idulfitri dapat dinarasikan sebagai pesan pertama dan utama adalah "Hari Pangan Sedunia". Perayaan Idulfitri ditandai (didahului) dengan keprihatinan perihal pangan, yakni berpuasa, kepedulian terhadap persediaan pangan sebagai prasyarat keberlangsungan hidup umat manusia.

Kita tahu bahwa keutamaan Ramadan adalah karena Al-Qur'an sebagai petunjuk segala manusia tanzil ke bumi dengan bahasa manusia (bahasa Arab) kepada Rasulullah, Muhammad SAW. Tonggak petunjuk ini sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai asupan otak/qalb/fuad pembangun peradaban harus diimbangi dengan perencanaan distribusi pangan yang tidak monopolistik.

Oleh karenanya, puasa sebagai simbol pengaturan pangan, diakhiri dengan Idulfitri dengan kewajiban zakat makanan (zakat fitrah), sebagai momentum deklarasi bahwa tidak ada seorang pun tidak mendapatkan hak pangan. Selamat Idulfitri, perayaan hari pangan sedunia.

Sebagai mafhum versusnya, pesan kedua Idulfitri adalah mengecam dan menolak perusak kehidupan. Perusak kehidupan itu adalah fitnah, kebencian, hoax. Dalam Al-Qur'an, kata fitnah dan derivasinya disebutkan tak kurang dari 87 kali di berbagai surah. Masing-masing memiliki arti yang berbeda disesuaikan dengan struktur kalimat dalam ayat.

Rujukan makna perbuatan fitnah paling populer adalah pada Surah Al Baqarah. Saking dahsyatnya kadar perusakan perbuatan ini, kata fitnah lebih sadis dibanding perbuatan pembunuhan, oleh Allah disebut hingga lebih dari sekali. Pertama, pada ayat 191 berbunyi,“Wal fitnatu asyaddu minal qatli." Artinya,"Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan."

Kedua, pada ayat 217 berbunyi,“Wal fitnatu akbaru minal qatli.” Artinya,"Sedangkan fitnah lebih dahsyat daripada pembunuhan." Dan sebaliknya, qaulun ma'ruufun wa maghfiratun khairun min shadaqatin yatba'uhaa adzaa (perkataan bagus dan permaafan lebih utama daripada sedekah yang diikuti dengan kata-kata yang menyakitkan).

Ketika kita belajar tentang makhluk hidup (biologi), ada salah satu hal penting dalam proses neurotransmiter. Pada saat kita memikirkan sesuatu, terjadi proses pelepasan neurotransmiter oleh satu neuron dan mengikat molekul neurotransmiter dengan reseptor (penerima) pada neuron lain. Konfigurasi yang terbentuk akan berbeda ketika kita memikirkan sesuatu, baik atau buruk.

Kira-kira apa yang terjadi ketika kita berpikir untuk berbohong, merekayasa sesuatu yang salah, sehingga terlihat seperti benar atau sebaliknya? Proses neurotransmiter akan mengirim sinyal semua alat indra dan terus ke seluruh tubuh. Secara berantai sinyal itu sampai ke semua bagian tubuh kita (wajah, mata, mulut, lidah, tangan, kaki dan seterusnya).

Lalu, apa artinya? Ketika kita berpikir dan merasa yakin untuk mampu berbohong (antikehidupan), itu sebenarnya hanya ilusi dan tipuan belaka. Semua yang pernah kita pikirkan, katakan, dan lakukan akan terekam secara alamiah dan terungkap pada waktunya, juga secara alamiah. Sekarang atau nanti, di dunia atau akhirat, itu hanya soal momen. Momen itu telah terpatri dan pasti akan kita lalui. Masihkah kita perlu berdusta dan memfitnah?

Pesan ketiga Idulfitri adalah tambahnya Ketaatan. Ibn al-Qayyim al-Jauzi, mengatakan: laisal 'iid liman labisal jadiid, wa innamal 'iid liman tha'atuhuu taziid (bukanlah berhari raya dengan pakaian baru, sesungguhnya berhari raya itu bagi orang bertambah ketaatannya).

Ketaatan dipaparkan dalam Al-Qur'an (An-Nisa: 59): taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kembali pada proses semula, bahwa ketaatan itu bertransformasi dalam ibadah sebagai tujuan awal penciptaan jin dan manusia.

Ada berbagai perspektif pemaknaan ibadah. Perspektif ibadah pada dasarnya adalah "proses menjadi" (to be), menjadi hamba/bukan tuhan. Kata ibadah adalah isim masdar (kata benda asal), fiil-nya (kata kerjanya): abada - ya'budu. Secara harfiah berarti penghambaan. Secara istilah dalam fiqh/syariah adalah melaksanakan perintah Tuhan.

Menurut pemahaman akidah, ibadah adalah sebuah proses. Proses apa? Proses penyadaran diri menjadi diri yang sadar bahwa diri ini bukan Tuhan, juga bukan bagian dari Tuhan. Proses penyadaran diri bahwa diri ini bagian dari alam. Karena itu, ibadah adalah proses pemahaman dan penyadaran diri bahwa kita itu non-tuhan (bukan tuhan), tetapi kita ini alam yang dalam praktik kehidupan berlaku hukum-hukum alam. Dari pengertian ini bentuk ibadah bermacam-macam. Intinya proses penyadaran diri dan proses pemahaman diri bahwa kita bagian dari alam, yang tunduk pada hukum-hukum alam untuk menebar cinta kasih pada alam semesta.

Idulfitri adalah Iid Mubarak. Kembali dalam keberkahan, kesejahteraan. Ini pesan keempat dari Idulfitri. Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi menyebutkan, berkah memiliki dua arti. Pertama, tumbuh, berkembang, atau bertambah, dan kedua, kebaikan yang berkesinambungan.

Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah ialah kebaikan yang banyak dan abadi. Dalam keseharian kita sering mendengar kata “mencari berkah”, bermaksud mencari kebaikan atau tambahan kebaikan, baik kebaikan berupa bertambahnya harta, rezeki, maupun berupa kesehatan, ilmu, dan amal kebaikan.

Lalu apa kunci keberkahan? Kembali pada basis awal bahwa Ramadan bulan berkah karena Ramadhan bulan Al-Qur'an.

1. Keberkahan diraih bila kita menempuh kehidupan dengan kemelekan (bukan dengan kebutaan) terhadap Al-Qur'an. Al-Qur'an jelas-jelas petunjuk (hudan) bagi segenap manusia. Al-Qur'an mengentaskan kegelapan menuju cahaya (minadhdhulumaat ilannuur). Jika tidak mau menghiraukan Al-Qur'an pasti buta, dan kebutaan ini akan berlanjut dalam kehidupan lebih lanjut. Ini jelas tidak mendatangkan keberkahan: dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (Al-Isra' 17 : 72)
2. Keberkahan ditandai dengan kehidupan yang tidak sempit, selalu cerdas, dan selalu menambah kebaikan pada sesama. Al-Qur'an menyatakan, orang-orang yang lalai dengan Al-Qur'an, akan mengalami kehidupan yang sempit (dengan kata lain tidak berkah). Periksa pernyataan Al-Qur'an: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Berkatalah ia,"Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (Ta Ha 20: 126)

Allah berfirman,"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (Ta Ha 20 : 126)

Mau berkah? Pelajarilah dan pahami Al-Qur'an. Gaungkan bulan Ramadan tidak sekadar syahrus-shiyaam, tetapi terlebih syahrul Qur'an. Dan pada gilirannya tepat kita sebut sebagai syahrul barakah, yang keberkahannya akan melimpah pada bulan-bulan berikutnya.

Keempat pesan itu merupakan ide besar Ilmillah kalam qadim yang termanifestasi pada Muhammad SAW berserta alam raya. Oleh karena itu sesungguhnya kemaslahatannya bukan hanya pada letak manusia saja, tetapi juga alam semesta. Al-Qur'an berposisi sebagai manual book-nya ide besar kemaslahatan yang berpihak pada nilaii-nilai tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), i’tidal (keadilan), barakah (kesejahteraan), akhlaq, dan membentuk konfigurasi kemaslahatan alam raya. Melalui Idulfitri, tidak ada alasan sesungguhnya bagi manusia mengekspolitasi alam dan memeluk oligarki kekuasaan, sebab hal itu bertentangan dengan nilai fitri manusia. 

*Wakil Ketua LP Ma'arif NU PBNU

 



IMSAK
WIB
SUBUH
WIB
ZUHUR
WIB
ASAR
WIB
MAGRIB
WIB
ISYA
WIB
Note: untuk wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya

Copyright©2020 - BeritaSatu All Right Reserved.