Waketum Gerindra: Tak Perlu Khawatir Akan Ancaman Resesi
INDEX

BISNIS-27 434.176 (-7.64)   |   COMPOSITE 4917.96 (-75.2)   |   DBX 928.196 (-4.7)   |   I-GRADE 130.286 (-2.42)   |   IDX30 412.166 (-7.85)   |   IDX80 107.727 (-2.08)   |   IDXBUMN20 269.265 (-5.95)   |   IDXG30 115.773 (-2.53)   |   IDXHIDIV20 368.481 (-6.65)   |   IDXQ30 120.761 (-2.3)   |   IDXSMC-COM 210.292 (-3.36)   |   IDXSMC-LIQ 235.988 (-6.09)   |   IDXV30 101.893 (-2.12)   |   INFOBANK15 773.605 (-13.29)   |   Investor33 359.92 (-6.34)   |   ISSI 144.524 (-2.29)   |   JII 524.265 (-9.92)   |   JII70 177.451 (-3.41)   |   KOMPAS100 962.885 (-17.72)   |   LQ45 754.177 (-14.18)   |   MBX 1360.94 (-22.87)   |   MNC36 269.191 (-4.78)   |   PEFINDO25 256.961 (-5.33)   |   SMInfra18 232.003 (-3.35)   |   SRI-KEHATI 302.863 (-5.05)   |  

Waketum Gerindra: Tak Perlu Khawatir Akan Ancaman Resesi

Selasa, 11 Agustus 2020 | 19:20 WIB
Oleh : Hotman Siregar / RSAT

Jakarta, Beritasatu.com - Pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal kedua 2020 yang menurun hingga minus 5,32 persen tidak dapat dijadikan indikator kegagalan pemerintahan Joko Widodo, seakan-akan ekonomi nasional akan hancur. Apalagi ditambah seakan akan jika kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi minus, disebut mengalami resesi ekonomi, maka juga dianggap ekonomi Indonesia hancur.

Penurunan ekonomi nasional itu dapat dipahami, mengingat seluruh dunia menghadapi persoalan yang sama menyusul pandemi Covid-19. Tidak dapat dipungkiri pandemi Covid-19 telah mengganggu supply dan demand tidak hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Di Indonesia ada pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan di banyak negara diterapkan lock down.

"Permintaan dan penawaran barang dan jasa menurun akibat PSBB di Indonesia dan di luar negeri. Nilai ekspor dan impor kita pun jatuh,” ujar Waketum DPP Gerindra Arief Poyuono, Selasa (11/8/2020).

Arief menjelaskan, indeks pertumbuhan ekonomi tidak bisa dijadikan acuan karena gross domestic product (GDP) tidak bisa menghitung semua barang dan jasa dihasilkan sebuah negara.

“GDP hanya menghitung barang dan jasa yang dihasilkan negara dari sektor formal. Jadi ada hidden growth yang tidak dihitung,” ujarnya.

Dia mencontohkan, seseorang yang tinggal di desa dan memiliki seekor ayam yang bertelur sebanyak sepuluh butir, atau seseorang yang memiliki sepuluh ekor kambing yang masing-masing beranak dua ekor. “Itu kan juga produksi. Apakah itu dihitung oleh BPS,” jelasnya.

Konsepsi year to year untuk membandingkan kondisi perekonomian suatu negara juga keliru karena ada dimensi waktu yang hilang dan suasana sosial yang berbeda. "Tidak bisa apple to apple,” katanya lagi.

Jadi, bagaimana bila di kuartal ketiga 2020 pertumbuhan ekonomi nasional tetap minus? "Tidak usah khawatir dengan ancaman resesi, karena itu adalah cara penghitungan yang dilakukan ekonom kapitalis. Real ekonomi Indonesia tetap jalan," katanya.

Kalau program Jokowi, kata Arief, yang sudah menggelontorkan ratusan triliun rupiah untuk belanja bisa cepat digunakan. GDP kita dan lapangan kerja dari sektor formal bisa naik.

“Apalagi UKM mulai menerima dana dari komite penyelamatan ekonomi nasional yang dipimpin Pak Airlangga Hartarto. Itu jalan paling bagus. Apalagi ada subsidi untuk buruh sebesar Rp 600 ribu. Itu bentuk kepedulian Pak Jokowi terhadap kaum buruh,” ucapnya.

Arief yakin perekonomian Indonesia akan tumbuh lebih baik setelah keadaan di dunia juga normal.

“Kalau kita saja yang normal, negara lain tidak normal, tidak bisa juga perekonomian bertumbuh. Jadi tidak usah takut resesi ekonomi karena tidak apa-apa. Rakyat tidak ada yang kelaparan," tandasnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Masa Pandemi, Pemerintah Diminta Tidak Biarkan Tindakan Intoleransi

Negara melalui aparat penegak hukum tetap harus hadir dan menegakkan hukum terhadap kelompok-kelompok intoleran.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Polisi Buru Kelompok Ali Kalora yang Mengadang Pegawai Dinkes Poso

Pelaku diperkirakan berjumlah 5 orang membawa senjata api dan mengancam pegawai Dinkes Poso jika mencoba melawan.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Sultan HB X Belum Izinkan Sekolah Tatap Muka

Gubernur DI Yogyakarta, Sultan HB X, belum mengizinkan seluruh sekolah di DIY memberlakukan pembelajaran tatap muka pasien positif Covid-19 masih fluktuatif.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Mahfud: Korupsi Era Sekarang Dibangun Melalui Demokrasi

Menurut Mahfud MD, praktik korupsi di era sekarang dibangun melalui proses demokrasi.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Setelah Anji, Polisi Periksa Hadi Pranoto

Hadi Pranoto akan diperiksa terkait kasus dugaan penyebaran berita bohong atau hoax herbal Covid-19.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

MTI Ingatkan Masyarakat Antisipasi Transmisi Lokal

MTI meminta masyarakat pengguna transportasi publik untuk mengantisipasi transmisi lokal.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Kasus Djoko Tjandra, Polisi Kembali Periksa Brigjen Prasetijo Utomo

Penyidik Bareskrim kembali memeriksa Brigjen Prasetijo Utomo (PU) dalam rangkaian dugaan tindak pidana terkait skandal Djoko Tjandra.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Koopssus TNI Gelar Latihan Penanggulangan Terorisme

Latihan ini juga merupakan wujud tanggung jawab TNI untuk memberikan jaminan keamanan.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Diduga Lecehkan Polwan, Kasat Reskrim Polres Selayar Dicopot

Untuk memperjelas perkara, tengah dilakukan pendalaman oleh penyidik reskrim dan divisi propam.

NASIONAL | 11 Agustus 2020

Pilkada Serentak di Banten, Sebagian Besar Parpol Merapat ke Petahana

Pelaksanaan Pilkada serentak di empat kabupaten/kota di Banten, terlihat kecenderungan parpol mencari aman dengan merapat ke bakal calon petahana.

NASIONAL | 11 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS