Ilmuwan Belanda Ciptakan Virus Flu Mematikan

Ilmuwan Belanda Ciptakan Virus Flu Mematikan
Ilustrasi virus ( Foto: freedigitalphotos )
Minggu, 27 November 2011 | 18:57 WIB
Virus ciptaan manusia itu bisa digunakan sebagai senjata biologis jika jatuh ke tangan yang salah

Sekelompok ilmuwan Belanda memaksa menerbitkan penelitian mereka tentang virus flu baru yang sangat berbahaya, hasil rekayasa genetik yang berpotensi memusnahkan peradaban manusia.

Virus itu merupakan hasil rekayasa genetik dari H5N1 atau yang dikenal sebagai virus flu burung, dan dilaporkan lebih berbahaya karena bisa menulari jutaan orang dalam seketika.

Riset itu sendiri telah menyebabkan kontroversi dan memecah belah para ilmuwan, yang sebagian besar mengutuk tindakan mengerikan itu serta meminta agar hasil peneltian itu tidak dipublikasikan.

Virus flu burung sendiri sejauh ini telah menewaskan 500 orang diseluruh dunia dan tidak menjadi pandemi. Para ilmuwan khawatir virus ciptaan manusia itu bisa digunakan sebagai senjata biologis jika jatuh ke tangan yang salah.

Adalah Ron Fouchier, seorang virolog dari Erasmus Medical Centre, Belanda yang menjadi pemimpin sejumlah ilmuwan dalam merekayasa virus mematikan itu. Hanya dengan lima proses mutasi terhadap H5N1 mereka bisa membuat virus itu lebih menyebar lebih cepat.

Dia melakukan eksperimen dengan melibatkan musang, binatang dengan sistem pernapasan yang sangat mirip dengan manusia.

Fouchier sendiri tampaknya sudah siap menghadapi tekanan dengan menyewa seorang penasehat di bidang komunikasi untuk membantunya berhadapan dengan media.

Ia mengaku hasil rekayasanya merupakan "salah satu virus paling berbahaya yang bisa diciptakan manusia" tetapi ia tetap bersikeras ingin mempublikasikan hasil temuannya itu.

Penelitian Fouchier sendiri merupakan satu dari dua hasil penelitian yang memantik perdebatan serius terkait kebebasan ilmiah dan tentang regulasi tentang hasil penelitian yang bermanfaat bagi kesehatan manusia tetapi di saat yang sama bisa dimanfaatkan menjadi senjata bilogis.

Hasil penelitian lain yang pernah memantik kontroversi masih terkait H5N1 yang merupakan hasil riset dari University of Wisconsin dan University of Tokyo.

Kedua hasil penelitian itu kini sedang ditelaah oleh NSABB, sebuah badan nasional yang mengurus soal keamanan biologis di Amerika Serikat. Lembaga itu meminta agar hasil penelitian itu tidak dipublikasikan meski tidak punya wewenang untuk melarangnnya.

"Saya belum menemukan organisme patogenik lain yang seberbahaya virus ini. Antrax tidak ada apa-apanya jika dibanding virus ini," terang Paul Keim, pemimpin NSAAB.
Sumber: Daily Mail