Indonesia Kekurangan Tenaga Terampil di Bidang Nuklir

Indonesia Kekurangan Tenaga Terampil di Bidang Nuklir
Ilustrasi reaktor nuklir ( Foto: Istimewa )
Fuska Sani Evani / FER Kamis, 25 Agustus 2016 | 17:34 WIB

Yogyakarta - Sekitar 13.000 instansi di Indonesia baik bidang kesehatan maupun industri, membutuhkan tenaga terampil di bidang nuklir. Namun jumlah sumber daya manusia (SDM) terampil nuklir, belum bisa terpenuhi.

Hal itu disampaikan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Prof Djarot Sulistio Wisnubroto usai wisuda 73 lulusan Sekolah Tinggi Tenaga Nuklir (STTN) Batan di Yogyakarta, Rabu (24/8).

Menurutnya, rata-rata tenaga terampil di bidang nuklir justru bekerja di luar negeri. Bahkan, kata dia, dalam satu perusahaan, bisa mempekerjakan 10 hingga 20 tenaga terampil nuklir lulusan dari Indonesia. Sementara, lulusan yang dihasilkan Perguruan Tinggi (PT) di bidang nuklir masih minim.

"STTN, setiap tahunnya baru mampu meluluskan sekitar 70-80 sarjana terapan di bidang nuklir. Angka itu masih kurang dan sejak berdiri tahun 1985, baru meluluskan 1.300 tenaga terampil dengan Sertifikat Izin Bekerja (SIB),” katanya.

Namun, karena koridor yang ditetapkan pemerintah dan fasilitas yang terbatas, kuota mahasiswa tidak bisa diperluas. Selain itu regenerasi dosen di bidang nuklir juga terbatas.

Ditambahkan Ketua STTN, Edy Giri Rachman Putra, setiap tahun mereka baru mampu meluluskan sekitar 70 sarjana terapan. Dari jumlah itu, sekitar 90 persen diantaranya langsung terserap ke dunia kerja, baik di bidang nuklir maupun bidang lainnya.

"Tiap lulusan, sudah dilengkapi dengan SIB sebagai petugas proteksi radiasi yang merupakan syarat wajib untuk dapat bekerja di bidang radiasi dan zat radioaktif," ungkapnya.

Edy Giri menuturkan, kapasitas STTN sangat minim, dari 1.000 pendaftar, hanya mampu terima 100 orang. Setelah lulus, mahasiswa bebas menentukan pekerjaan. Tidak terikat dengan kedinasan selama menempuh pendidikan.

Sedang Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Jazi Eko Istiyanto, mengungkapkan, perlu ada kerjasama triple helic antara pemerintah, institusi pendidikan dan dunia industri untuk dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil di bidang nuklir.

"Sehingga kampus tidak hanya menghasilkan lulusan yang berkompeten di bidang akademik namun memiliki ketrampilan yang dibutuhkan pasar," tambahnya.

 





Sumber: Suara Pembaruan