BPPT Dukung Program Integrasi Sapi-Sawit

BPPT Dukung Program Integrasi Sapi-Sawit
Ilustrasi sapi lokal. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / FER Kamis, 27 April 2017 | 15:39 WIB

Jakarta - Program integrasi sapi dengan sawit atau sapi-sawit sebenarnya sudah lama dicanangkan. Hanya saja ada kekhawatiran, integrasi ini ada merusak sawit.

Untuk itu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuat inovasi teknologi formula pakan berbasis limbah sawit dan teknologi pengembalaan sapi terkontrol berbasis android.

Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT, Eniya Listiani Dewi, mengatakan, teknologi Sipintar untuk formula pakan dan Sipandai untuk penggembalaan terkontrol dikembangkan BPPT untuk menjawab berbagai kekhawatiran integrasi sapi sawit.

"Ada kekhawatiran jika sapi dilepas di lahan sawit akan membuat pemadatan tanah dan timbul jamur ganoderma," katanya dalam dialog interaktif Perspektif Integrasi Sawit Sapi Dalam Mendukung Peningkatan Populasi Sapi di Indonesia, di Jakarta, Kamis (27/4).

Teknologi ini menjawab kekhawatiran itu. Bahkan, sebagai ujicoba BPPT sudah melakukannya di Kabupaten Palalawan.

Menurutnya, pemerintah menargetkan penambahan populasi sapi 3,2 juta ekor pada tahun 2017. Konsekuensi target tersebut perlu didukung pengadaan pakan dan lahan serta aplikasi teknologi yang tepat guna.

Salah satu solusi alternatif yang sangat memungkinkan peningkatan populasi sapi adalah pemanfaatan potensi perkebunan kelapa sawit. Limbah dan bagian kelapa sawit seperti tandan kosong, bungkil dan daunnya bisa dimanfaatkan untuk pakan.

"Teknologi formulasi pakan dan penambahan prebiotik untuk memperbaiki pencernaan sapi dilakukan BPPT," ucapnya.

Dengan formulasi pakan ini bobot sapi bisa bertambah 0,8 kg/hari sedangkan untuk pakan konvesional hanya bertambah 0,2 kg/hari.

Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT, Arief Arianto Hidayat, mengungkapkan, selama ini ada pemikiran bahwa potensi pakan ada di timur Indonesia tetapi di Indonesia bagian barat ada lahan sawit 11 juta hektare (ha).

Apalagi, saat ini Indonesia masih impor daging sapi, sehingga perlu meningkatkan ketersediaan daging nasional. Ketersediaan daging sapi di dalam negeri 60 persennya diperoleh dari impor dan baru 40 persennya dipasok dari dalam negeri.

"BPPT pun sedang membuat outlook pangan berbasis protein hewani hingga tahun 2045," ucapnya.

Dari formulasi pakan yang dikembangkan lanjutnya, BPPT masih menginventarisasi data based pakan kombinasi bisa dengan jagung atau sagu dan lainnya yang bisa diakses melalui android.

Ketua Umum Masyarakat Perkelapa Sawitan Indonesia, Darmono Taniwiryono, mengatakan, dari 11 juta hektare lahan sawit tersebut terbagi menjadi miliki swasta, masyarakat dan BUMN.

"Kita harus menyamakan persepsi karena di sana ada pengusaha, petani dan pemerintah," ujarnya.

Ia mengakui, potensi bagian sawit seperti daunnya saja di tahun 2014 mencapai 299 juta ton per tahun dan diproyeksikan tahun 2020 mencapai 380 juta ton. Belum lagi potensi limbah lainnya seperti bungkil. Potensi ini besar jika bisa dimanfaatkan dengan optimal.



Sumber: Suara Pembaruan