Kebocoran Frekuensi Udara RI Neraka Bagi Pilot Asing

Kebocoran Frekuensi Udara RI Neraka Bagi Pilot Asing
Alexander Yablontsev (kiri), pilot pertama di dunia yang menerbangkan Sukhoi Superjet 100. Foto diambil dalam joy flight pertama dari Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta. Pesawat itu hilang dari radar dalam joy flight kedua. FOTO: Sergey Dolya
Sabtu, 12 Mei 2012 | 21:44 WIB
Pilot asing menyebut Indonesia sebagai neraka karena kebocoran frekuensi radio dan telepon genggam.

Pilot Senior Garuda Indonesia, Jeffrey Adrian mengungkapkan pilot asing acapkali menyebut wilayah udara Indonesia sebagai neraka.

"Pilot atau pesawat asing kalau memasuki wilayah penerbangan Indonesia bilang kalau kita masuk ke neraka," kata Jeffrey, dalam sebuah diskusi yang digelar di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/5).

Menurut cerita Jeffrey, pilot asing menyebut Indonesia sebagai neraka karena kebocoran frekuensi radio dan telepon genggam. Kebocoran frekuensi itu menyebabkan siaran radio maupun pembicaraan telepon kerap terdengar dari cockpit pesawat di udara.

"Kita sering dengar lagu dangdut, drama, jaz kalau masuk ke daerah tertentu. Pembicaraan tertentu antara orang per orang juga terdengar. Malah saya  pernah dengar sex phone di atas (diruang kemudi pesawat)," kata  Jeffrey.

Kebocoran ini, kata Jeffrey, sangat mengganggu karena  para pilot harus ekstra konsentrasi mendengarkan petunjuk dari Air  Traffir Control (ATC).

Ditambahkan Jeffrey, selain menggangu instruksi dari ATC, kebocoran frekuensi ini juga menyebabkan terjadinya blank spot. "Sudah masuk pintu neraka, harus konsentrasi penuh mendengarkan petunjuk dari ATC," tandas dia.