SEED Kembangkan Platform Blockchain di Sektor Energi Terbarukan

SEED Kembangkan Platform Blockchain di Sektor Energi Terbarukan
Co-CEO SEED (Sino Eco Energy Development), Young-geun Shin, tengah menjelaskan tentang bisnis ECO yang ramah lingkungan berdasarkan teknologi blockchain. ( Foto: Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Minggu, 19 Agustus 2018 | 15:36 WIB

Jakarta - Sino Eco Energy Development (SEED) sebagai perusahaan blockchain yang bergerak dalam pengembangan eco-energy, menuai banyak perhatian dari berbagai kalangan, saat tampil dalam acara Korea Blockchain Week, yang berlangsung selama lima hari di Shilla Hotel dan Gedung Hanhwa, Seoul, Korea Selatan (Korsel) belum lama ini.

Sebagai perusahaan yang berasal dari Singapura, SEED merupakan sebuah entitas bisnis yang mengembangkan sejumlah proyek energi terbarukan dan ramah lingkungan berdasarkan teknologi blockchain.

"SEED bergerak dalam produksi energi ramah lingkungan seperti tenaga surya, tenaga angin, generator tenaga hydro kecil, penghijauan, pengembangan sumber makan, dan proyek Waste to Energy (WTE) atau pengelolaan energi sampah," kata co-CEO SEED, Young-geun Shin, saat menjelaskan visi platform bisnis SEED yang ramah lingkungan kepada Beritasatu.com, Minggu (19/8).

Menurut Young-geun Shin, walaupun menghasilkan banyak laba atas investasi, model bisnis ini biasanya sulit untuk diikuti oleh masyarakat umum karena mereka membutuhkan pengetahuan terspesialisasi, izin yang rumit, dan nilai investasi berskala besar.

"Namun, dengan menggunakan teknologi blockchain, SEED telah mengembangkan platform crowdfunding sendiri yang dapat digunakan para individu dan institusi dari seluruh dunia untuk berpartisipasi dalam investasi tersebut," jelasnya.

Selangkah lebih jauh dari konsep mata uang digital, kata Young-geun Shin, pihaknya telah membuat sebuah platform bernama SEED Farming, yang menggabungkan blockchain dengan ekonomi riil, dan memberikan model pendapatan yang matang dan berkelanjutan.

"Untuk bentuk kegiatannya, seorang individu atau sebuah organisasi dapat berinvestasi pada bisnis di SEED Farming. Dengan cara yang mudah, seseorang dapat mendapatkan laba atas investasi yang tetap pada proyek-proyek tertentu," tegasnya.

Pembangunan SEED Blockchain Center

Menurut Young-geun Shin, proyek pertama SEED Farming adalah SEED Blockchain Center, sebuah gedung berlantai 55 dengan luasan 16.600 meter persegi (m2) di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat (Jakpus). Adapun nilai total investasi untuk proyek ini, diperkirakan sebesar US$ 700 juta atau sekitar Rp 10,2 triliun.

"Proyek tersebut, rencananya akan mulai pembangunan pada tahun 2019 dan diharapkan akan selesai pada tahun 2023," jelasnya.

Selain SEED Blockchain Center, kata Young-geun Shin, pihaknya juga sedang mengembangkan sebuah aplikasi tersentralisasi bernama Planter.

"Melalui aplikasi Planter ini, para pengguna yang terbiasa jalan kaki, lari, bersepeda, atau naik tangga untuk mengurangi emisi karbon, akan mendapatkan hadiah mata uang digital bernama Zera. Layanan ini, rencananya akan diluncurkan pada Oktober mendatang," tambahnya.

Young-geun Shin mengatakan, siapapun dapat menyelamatkan bumi melalui usaha-usaha ramah lingkungan untuk mengurangi emisi karbon. Namun, banyak yang kurang memperhatikan apabila aktivitas tersebut tidak dihargai dengan keuntungan finansial.

"SEED dengan sistem hadiah dan platform bisnis yang menguntungkan, mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam aksi-aksi ramah lingkungan," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com