Indonesia Harus Bersiap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Indonesia Harus Bersiap Hadapi Revolusi Industri 4.0
Pelepasan unit Arsinum _mobile_ di kantor BPPT, Jakarta, 7 Desember 2018. ( Foto: BeritaSatu Photo / Ari S. Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Senin, 17 Desember 2018 | 15:57 WIB

Jakarta - Indonesia harus siap menghadapi era revolusi industri 4.0. Oleh karenanya, saat ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah membangun laboratorium security operation center (SOC). BPPT ingin memberikan solusi teknologi pada era perubahan yang sifatnya disruptif ini.

Deputi Bidang Teknologi Informasi dan Material BPPT, Eniya Listyani Dewi, mengatakan, revolusi industri 4.0 ini selain memberikan banyak dampak positif, Indonesia pun harus membenahi diri. Utamanya dalam hal peningkatan daya saing industri, di bidang informasi dan komunikasi.

"Laboratorium SOC ini untuk menjawab kebutuhan industri 4.0. Indonesia harus siap menghadapi revolusi industri 4.0. BPPT sangat siap untuk mempersiapkan itu," katanya dalam Tech Talk: Revolusi Industri : Siapkah Indonesia? di Auditorium BPPT, Jakarta, Senin (17/12).

Eniya melanjutkan, BPPT memiliki laboratorium inovasi salah satunya SOC dan fasilitas lain yang dapat mendukung dan mengantisipasi perkembangan dunia saat ini. Embrio automatic vehicle dan internet of thing (IoT) sudah dibuat BPPT.

Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, Michael Andreas Purwoadi, mengungkapkan, laboratorium SOC ini mampu mengkarakterisasi malware dengan artificial intellegence (AI) atau kecerdasan buatan. Malware (malicious software) adalah suatu program yang dirancang dengan tujuan untuk merusak dengan menyusup ke sistem komputer.

"Teknologi yang BPPT buat akan dikembangkan dan disebarkan ke seluruh instansi dan masyarakat yang berminat," ucapnya.

Dalam kesempatan itu hadir pula praktisi dan Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali. Ia berpendapat, teknologi akan mengubah dan mempengaruhi kehidupan. Teknologi membangun manusia tetapi manusia harus tetap mengutamakan kemanusiaannya.

"Disrupsi membuat sesuatu baru, tapi banyak yang harus diantisipasi," katanya.

Suatu saat lanjutnya, bahan bakar fosil atau fosil fuel akan habis, air bersih akan habis dan menuju kelangkaan, maka manusia diwajibkan berinovasi untuk mencegah kelangkaan itu. Di samping itu, banyak gaya hidup manusia yang mulai berubah seperti belanja online, transaksi online dan berkembangnya financial technology (Fintech).

Sementara itu, Michael mengingatkan dalam situasi yang sarat teknologi ini cyber security menjadi penting, untuk keamanan  operational technology yang menyangkut mesin-mesin terotomasi, maupun information technology yang menyangkut sistem informasi pendukung proses bisnis administrasi.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE