BAKTI Sewa Satelit Nusantara Satu Selama Lima Tahun

BAKTI Sewa Satelit Nusantara Satu Selama Lima Tahun
PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) menggelar konferensi pers persiapan peluncuran Satelit Nusantara Satu, di Jakarta, Rabu, 23 Januari 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Rabu, 23 Januari 2019 | 20:09 WIB

Jakarta - PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) akan meluncurkan satelit baru bernama Satelit Nusantara Satu pada 18 Februari 2019. Meskipun belum mengorbit, saat ini sudah dipastikan 70 persen transponder satelit tersebut akan terisi, salah satunya akan disewa oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI).

Seperti diketahui, BAKTI pada 2022 berencana meluncurkan satelit Multifungsi dengan teknologi high-throughput satellite (HTS) atau satelit dengan karakteristik internet berkecepatan tinggi. Sambil menunggu waktu peluncuran tersebut, BAKTI memutuskan untuk menyewa satelit yang juga memiliki teknologi HTS.

"Pemerintah (BAKTI) bikin tender namanya list capacity, dan kami salah satu pemenangnya dari lima provider satelit yang ada. Saat ini sedang dalam proses finalisasi kontrak," ungkap Direktur Utama PSN, Adi Rahman Adiwoso, di Jakarta, Rabu (23/1).

Menurut Adi, BAKTI akan menggunakan layanan satelit PSN ini selama lima tahun ke depan, sampai satelit multifungsi yang sedang disiapkan pemerintah siap beroperasi.

"Selain BAKTI, ada beberapa UMKM, pengusaha internet cafe, operator telekomunikasi, dan beberapa perusahaan yang bakal menggunakan layanan Satelit Nusantara Satu," terang Adi.

Untuk menggunakan layanan satelit ini, pengguna individu bisa membeli VSAT atau stasiun penerima sinyal seharga USD 500. Nantinya biaya yang harus dikeluarkan sebesar Rp 100.000 per 1 GB atau Rp 3.500 per 300 MB.

Satelit Nusantara Satu yang semula disebut Satelit PSN VI ini merupakan satelit pertama di Indonesia yang menggunakan teknologi HTS dan teknologi Next Generation Electric Propulsion.

Adi menjelaskan, teknologi HTS tersebut akan memberikan layanan internet broadband dengan kapasitas jauh lebih besar dibandingkan dengan satelit konvensional yang saat ini ada di Indonesia, sementara Electric Propulsion membuat satelit menjadi cost effective dan efisien karena berat satelitnya menjadi sangat ringan dan tentunya menjadikan biaya investasi lebih terjangkau.

Satelit yang merupakan buatan Space System Loral (SSL) asal Amerika Serikat ini akan diluncurkan di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat menggunakan roket Falcon 9 dari perusahaan Space-X. Proyek ini menghabiskan dana sekitar US$ 230 juta.