Teknologi Sehati TeleCTG Ingin Bantu Turunkan Angka Kematian Ibu

Teknologi Sehati TeleCTG Ingin Bantu Turunkan Angka Kematian Ibu
In-House Bidan Sehati TeleCTG, Bidan Erna (kiri) bersama Founder Sehati TeleCTG, dr Ari Waluyo, SpOG (kanan) memperkenalkan alat TeleCTG untuk membantu memantau kesehatan ibu hamil, di Jakarta, Rabu, 23 Januari 2019 ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Rabu, 23 Januari 2019 | 20:18 WIB

Jakarta - Tingginya angka kematian ibu melahirkan masih menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh Indonesia. Hal ini salah satunya berkaitan dengan kualitas pelayanan kesehatan yang didapatkan oleh ibu hamil, misalnya keterlambatan mendeteksi faktor-faktor risiko.

Berbagai inovasi juga telah dilakukan untuk mengatasi persoalan ini, baik oleh pemerintah maupun pihak swasta. Salah satunya yang dilakukan oleh Sehati TeleCTG. Perusahaan inovasi kesehatan ini menciptakan aplikasi Bidan Sehati dan Ibu Sehati sebagai panduan ibu dalam menjalankan kehamilan, serta menciptakan aplikasi dan hardware berbasiskan Internet of Things (IoT) dengan nama TeleCTG yang dapat membantu ibu untuk mengecek keadaan kandungan dengan dokter kandungan secara jarak jauh, sehingga pelayanan kesehatan dapat dilaksanakan di mana saja dan kapan saja.

"Aplikasi mobile dan alat TeleCTG yang dikembangkan oleh anak bangsa ini merupakan solusi kesehatan yang saling terintegrasi dalam pemantauan kesehatan ibu dan janin. Ini merupakan upaya kami dalam usaha mengatasi angka kematian ibu, kematian bayi, dan stunting bagi pasien yang terdeteksi dengan faktor risiko," terang CEO dan Founder Sehati TeleCTG, dr Ari Waluyo, SpOG, di Jakarta, Rabu (23/1).

Aplikasi Bidan sehati dijelaskan Ari seperti halnya buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang didigitalisasi. Data-data ibu hamil bisa terekam secara digital di aplikasi tersebut, sehingga bisa memudahkan kerja bidan dalam upaya pencegahan kesakitan dan kematian ibu dan bayi melalui deteksi faktor risiko tinggi.

Data-data yang dimasukkan bidan terhubung langsung ke alat TeleCTG, kemudian data tersebut akan dikirim ke pusat konsultasi yang saat ini berada di Jakarta dan Bandung. Dokter kandungan di pusat konsultasi nantinya akan menganalisa data ibu hamil yang diberikan bidan dan memberikan rekomendasi secara real time kepada bidan, misalnya apabila ada faktor-faktor risiko yang perlu mendapatkan intervensi.

Ari menjelaskan, TeleCTG merupakan pengembangan teknologi dari alat Cardiotocograpgy (CTG), sehingga harganya lebih terjangkau, portabel atau bisa dibawa ke mana saja, dan dapat terhubung langsung dengan dokter di pusat konsultasi.

"TeleCTG juga bisa digunakan untuk mencatat detak dan irama jantung bayi, memonitor gerakan janin, dan mencatat kontraksi ibu hamil. Hasilnya ini bisa dianalisa langsung oleh dokter kandungan di pusat konsultasi kami," terang Ari.

Sedangkan untuk aplikasi Ibu Sehati, aplikasi ini lebih banyak berisi panduan umum dan informasi terkait kehamilan yang perlu diketahui para ibu, tips kehamilan mingguan, jadwal kunjungan ke dokter dan laboratorium, serta jurnal elektronik.

TeleCTG sudah mendapatkan izin edar sejak November 2018. Saat ini pemanfaatan alat tersebut sedang dalam tahap pilot project di 14 puskesmas yang ada di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Akhir tahun 2019, rencananya alat ini juga akan diekspor ke negara Filipina dan Vietnam.



Sumber: BeritaSatu.com