Sains di Balik Avengers: Endgame, Apakah Time Travel Mungkin?

Sains di Balik Avengers: Endgame, Apakah Time Travel Mungkin?
Mark Ruffalo pemeran Hulk berpose bersama para penggemar di pemutaran perdana "Avengers: Endgame" di Los Angeles, California, 22 April 2019. ( Foto: Reuters )
Dina Fitri Anisa / FMB Rabu, 15 Mei 2019 | 10:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah menghebohkan jagat perfilman karena telah berhasil menduduki posisi kedua film terlaris sepanjang masa, Avengers: Endgame kini menjadi perbincangan hangat di kalangan ilmuwan. Bagaimana tidak? Salah satu jantung cerita dalam film ini membahas tentang time travel atau perjalanan waktu, yang cukup seksi untuk ditelisik dan menimbulkan beragam spekulasi.

Avengers: Endgame memang bukan satu-satunya film yang mengangkat cerita tentang perjalanan waktu. Terdapat beberapa film lawas seperti Back to the Future dan Terminator yang memiliki konsep serupa tetapi berbeda. Merasa lebih unggul mendekati ilmu sains, film garapan Russo bersaudara ini seolah mengolok-olok film perjalanan waktu lainnya.

Menanggapi hal ini, ahli fisika dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Husin Alatas mengomentari teori perjalanan waktu yang ditempuh para Avengers dengan menggunakan Closed Timelike Curves (CTC). Teori yang menghubungkan dua waktu berbeda sehingga memungkinkan perjalanan waktu ke masa lalu.

Husin menjelaskan perjalanan waktu ke masa lalu bukanlah sebuah kenyataan. Jadi, jangan terlalu menganggap serius CTC dalam skala relatif besar. Alasanya, karena karena hukum kedua termodinamika hanya mengizinkan waktu untuk bergerak satu arah, yakni ke masa depan.

Termodinamika merupakan teori fisika yang fundamental, yang memiliki tipe-tipe hukum, termodinamika satu, dua, dan tiga. Teori ini menyebutkan bahwa alam semesta ini selalu menuju ketidakteraturan yang tingkat ketidakteraturannya terus meningkat. Jadi, bila seseorang mencoba pergi ke masa lalu, artinya ketidakteraturan itu berkurang, dan ini dilarang oleh hukum kedua termodinamika.

“Ada kemungkinan sangat kecil, tetapi masih dalam batas imajinasi. Hukum kedua termodinamika itu God's decision. Memang ini sudah peraturan yang diberikan Tuhan bahwa sudah sampai di sini batasnya Anda tidak bisa melangkah lebih jauh," jelasnya saat diskusi The Science Behind The Avenger Endgame di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Selain itu, dalam kenyataan perjalanan waktu juga terbatasi dengan adanya Grandfather Paradox. Dalam paradoks tersebut, ketika kembali ke masa lalu dan membunuh kakek, maka kakek Anda di masa sekarang akan musnah, begitupun dengan diri Anda yang tidak mungkin lahir jika tak ada kakek Anda.

Itulah gambaran pasti menurut ilmu fisika di mana perjalanan waktu ke masa lampau tidak bisa dilakukan. Akan tetapi, spekulasi di skala kuantum berbeda. Perjalanan waktu ke masa lalu diperbolehkan melalui CTC. Grandfather Paradox pun dapat dihindari karena adanya prinsip ketidakpastian dan eksistensi alam semesta paralel.

Dalam film Avengers: Endgame, War Machine memberikan saran agar tim Avengers ini kembali ke masa Thanos masih bayi untuk membunuhnya agar Thanos di masa depan tidak pernah lahir dan ada, persis seperti konsep Grandfather Paradox.

Namun, teori ini dibantah keras oleh Tony Stark dan Bruce Banner. Menurut keduanya, time travel memang tidak berjalan semudah itu. Pasalnya, saat seseorang melakukan time travel, ada hukum fisika yang berlaku. Hal ini selaras dengan pendapat dua ahli fisika kuantum, Pieter Kok dan Matthew Szydagis.

Berdasarkan pemaparan ini, Joe Anthony Russo dalam Avengers: Endgame mencoba menggunakan pemahaman lain terkait Grandfather Paradox dan perjalanan waktu, yaitu Many Worlds Theory (MWT) yang digunakan oleh David Deutsch.

MWT ini berpendapat bahwa saat seseorang melakukan time travel, akan timbul realitas baru yang sama sekali tidak mengubah realitas yang sudah ada di masa kini. Pemahaman ini yang lalu digunakan oleh tim Avengers untuk memperbaiki segala hal yang sudah dihancurkan oleh Thanos.

Tim Avengers yang tersisa ini nantinya akan melakukan perjalanan waktu melalui quantum realm, mengambil infinity stones, memperbaiki keadaan, dan mengembalikan kembali infinity stones tersebut ke tempat asalnya tanpa merubah banyak realitas yang sudah terjadi.

“Mereka mengubah realitas di alam semesta paralel lainnya dengan membuat alur waktu atau timeline baru. Bahkan jika terdapat kemungkinan untuk menghindari Grandfather Paradox, tetapi mereka tetap tidak dapat menghindar dari hukum termodinamika kedua karena adanya proses dekoherensi kuantum,” terang Husin.

Oleh karena itu, Husen mengatakan bahwa perjalanan waktu hanya merupakan imajinasi para sutradara film. Kendati demikian, mengutip kata Albert Einstein, ia mengatakan bahwa imajinasi itu lebih penting dari pengetahuan.

"Albert Einstein pernah bilang. Imagination is more important than knowledge. For knowledge is limited, whereas imagination embraces the entire world, stimulating progress, giving birth to evolution," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan