Jernang, dari Hutan Indonesia ke Industri Herbal Tiongkok

Jernang, dari Hutan Indonesia ke Industri Herbal Tiongkok
Pertemuan pembahasan lanjutan kolaborasi riset BPPT, Tiongkok, dan mitra industri, Selasa 12 November 2019. ( Foto: SP/Ari Supriyanti Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Rabu, 13 November 2019 | 15:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keragaman tumbuhan di Indonesia memiliki beragam manfaat, salah satunya sebagai bahan baku herbal. Pengobatan dengan herbal dan obat tradisional ini pun udah lama dilakoni Tiongkok. Jernang (dragon blood) asal Indonesia pun menjadi salah satu bahan baku penting dalam herbal tersebut. Jernang dalam herbal Tiongkok diyakini bisa menyembuhkan luka, pereda sakit, melancarkan peredaran darah dan penghentian pendarahan.

Di alam, jernang banyak ditemukan di hutan yang memanjang dari Lampung hingga Aceh. Penduduk sekitar hutan mengenal jernang hanya sebatas obat untuk diare. Padahal jernang bernilai ekonomis jika kualitas ditingkatkan karena laku di pasar ekspor.

Menangkap peluang tersebut, riset bioteknologi pun dikembangkan agar jernang tidak hanya sebatas diambil dari alam tapi dapat dibudidaya. Dengan begitu, jernang bisa menjadi salah satu mata pencaharian yang menjanjikan bagi penduduk di sekitar hutan.

Bersama dengan lembaga riset Tiongkok, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) serta sejumlah mitra industri menjalin kolaborasi riset bioteknologi untuk mengembangkan bahan baku obat herbal dari jernang yang merupakan tumbuhan asli Indonesia.

Direktur Pusat Teknologi Bioindustri BPPT, Asep Riswoko mengatakan, kerja sama dengan institusi riset Tiongkok ini dilakukan selain terkait pengembangan bahan baku obat herbal juga untuk riset enzim pakan ternak dan bahan baku aktif untuk obat.

"Dalam kegiatan riset ini kami kolaborasi dengan Zhejiang University, Vland Biotech dan mitra kolaborasi lainnya," katanya di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Dari kerja sama riset ini, Tiongkok akan mentrasfer pengetahuan budidaya jernang dan enzim untuk pakan ternak. Apalagi jernang menjadi salah satu komponen bahan penting yang dipakai sebagai bahan baku obat herbal di Tiongkok. Tumbuhan ini masih banyak ditemukan di hutan di wilayah Lampung hingga Aceh namun belum ada teknologi yang bisa untuk membudidayanya.

Lewat kerja sama riset diharapkan bisa ditemukan cara budi daya yang bisa dilakukan masyarakat sehingga bisa menaikkan perekonomian bangsa dari nilai ekspor yang dihasilkan. Dengan begitu, nantinya masyarakat tidak hanya bergantung pada pengambilan di alam. Bahkan menurut Asep nilai ekspor jernang di Indonesia bisa mencapai US$ 10 juta per tahun.

nantinya, kolaborasi riset jernang melibatkan PT Nudira Sumberdaya Indonesia dan Zhejiang Conba Pharmaceutical Co. Ltd. Fokus kerja sama dilakukan pada pengembangan teknologi ekstraksi, produksi dan komersialisasi produk.

"Dragon blood banyak dibutuhkan karena mengandung senyawa aktif yang potensial untuk dikembangkan dan digunakan sebagai obat herbal dan traditional Chinese medicine," ucapnya.

Ke depan harga dragon flood ini bisa bersaing dan kompetitif dengan kualitas terjamin. Harga per kilo jernang saat ini mencapai US$ 700-1.000 per kilogram dengan grade A atau teratas.

Enzim
Presiden Direktur PT Nudira Sumber Daya Indonesia Nursyamsu Mahyuddin mengungkapkan, dengan riset ini, kualitas jernang bisa diukur sesuai dengan standar internasional sehingga nilai ekspornya meningkat.

"Saat ini pasokannya juga tidak menentu karena masih mengandalkan sumber di alam. Perlu teknik budidaya sehingga produktivitasnya meningkat," imbuhnya.

Selain itu juga, jernang nantinya bisa diolah sampai tahapan tertentu di Indonesia baru selanjutnya diekspor. Pelibatan mitra industri dalam kerja sama riset ini diharapkan bisa mendorong hilirisasi enzim pakan ternak maupun bahan baku obat.

Sementara itu, dalam kerja sama pengembangan enzim mitra industri yang terlibat antara lain PT Pachira Distrinusa dengan Qingdao Vland Biotech Group Co. Ltd.

Vland Biotech merupakan salah satu industri bioteknologi besar di Tiongkok dengan kompetensi bisnis berupa produk enzim, probiotik, biofertilizer dan kesehatan hewan. Kebutuhan enzim untuk industri di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 7.000 ton per tahun dengan pertumbuhan volume sekitar 4-6% per tahun. Dari jumlah tersebut diperkirakan 40-50% adalah enzim untuk pakan (feed enzymes) yaitu phytase. Hampir semua industri pakan menggunakan enzim phytase ini dan kebutuhannya akan cenderung meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

Asep menjelaskan, saat ini BPPT dan PT Pachira Distrinusa sedang melakukan tes pasar untuk mendapatkan gambaran respon pasar dan prospek bisnis enzim phytase ini.

First Head of Science and Technology Affairs Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok Xie Chengsou mengungkapkan, kolaborasi riset ini sangat strategis dan membawa keuntungan serta dampak positif bagi Indonesia dan Tiongkok.

"Dalam kolaborasi riset ini ada transfer pengetahuan dan pertukaran peneliti," ucapnya.

Selain riset bioteknologi seperti ini, Tiongkok juga mendukung Indonesia dalam pengembangan science technopark dan riset inovasi yang kelak melahirkan suatu produk.



Sumber: Suara Pembaruan