UGM Kembangkan Baterai Nuklir

UGM Kembangkan Baterai Nuklir
Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan meninjau purwarupa baterai nuklir yang dikembangkan Tim peneliti Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM pada Jumat (22/11/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani )
Fuska Sani Evani / FMB Sabtu, 23 November 2019 | 11:25 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Tim peneliti Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM membuat purwarupa baterai nuklir yang dapat digunakan untuk peralatan elektronik.

Baterai nuklir itu dikemas dalam bentuk tabung. Daya listrik yang dihasilkan dari baterai itu, jelas dia, berasal dari pancaran radiasi plutonium 238 yang dikonversi menjadi cahaya tampak. Kemudian, cahaya tampak ditangkap dengan foto voltaik atau sel surya menjadi energi listrik.

Penelitian yang dilakukan oleh empat dosen serta enam asisten peneliti tersebut, sempat didanai oleh mantan Menteri BUMN, Dahlan Iskan dan dalam dua tahun terakhir, proyek penelitian ini mendapat pembiayaan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan.

Ketua tim peneliti Ir Yudi Utomo Imardjoko membenarkan, awal penelitian dilakukan saat Dahlan Iskan menjabat selaku Menteri BUMN dan walaupun masih kecil, penelitian ini sudah mempu menterjemahkan teori. “Tinggal scale-up saja atau ditingkatkan,” ujarnya Jumat (22/11/2019).

Meski belum sempurna dan masih memerlukan pengembangan lebih jauh, purwarupa yang dihasilkan menurutnya sudah cukup baik jika dibandingkan dengan hasil penelitian lainnya.

“Ini kan masih kecil. Efisiensinya masih kecil walaupun cukup tinggi jika dibandingkan dengan tempat lain,” kata Yudi.

Penelitian ini, ujarnya, terkendala biaya komponen plutonium 238 yang cukup mahal karena harus diimpor. Untuk membuat prototip tersebut, tim ini harus mendatangkan plutonium dari Rusia dengan harga yang mencapai 8.600 dolar per keping.

“Harga per keping hanya 12 dolar, tetapi begitu sampai sini harganya itu 8.600 dolar per keping,” terangnya.

Terkait kendala tersebut, Dahlan Iskan menuturkan bahwa hal itu bisa diatasi jika Indonesia memiliki reaktor torium sendiri, karena plutonium merupakan limbah dari torium. Selama ini kebutuhan plutonium harus diimpor dari luar negeri dengan harga yang mahal karena Indonesia belum memiliki torium.

“Sebetulnya kita bisa tidak impor lagi kalau kita sudah punya reaktor torium. Reaktor torium itu desainnya sudah jadi, dibuat oleh bapak-bapak ahli nuklir ini, kebetulan itu saya yang mendanai. Desainnya sudah jadi, tinggal bagaimana cara mewujudkannya,” paparnya.

Pada kunjungannya ke Pusat Studi Ilmu Teknik UGM, Dahlan Iskan mendengarkan penjelasan dari tim peneliti terkait komponen serta cara kerja baterai. Selain menggunakan plutonium, baterai ini juga dilengkapi dengan sel surya untuk memperbesar listrik yang dihasilkan.

“Baterai nuklir ini dikonversi secara tidak langsung. Keluarannya kecil, maka digabung dengan sel surya supaya semakin besar output-nya,” terang Elly, salah satu asisten peneliti.

Pengembangan baterai ini, ujarnya, bermula dari ide untuk mencari sumber tenaga yang kecil namun tahan lama.

“Kalau baterai litium setahun dua tahun sudah habis, kalau baterai nuklir bisa sampai 40 tahun,” imbuhnya.

Dengan penelitian lebih lanjut, baterai ini dapat dikembangkan untuk menghasilkan output yang lebih besar dan memiliki ukuran yang lebih kecil, karena baterai berukuran mikro menurutnya dapat dimanfaatkan secara lebih luas.

Dekan Fakultas Teknik, Prof Nizam mengungkapkan, fakultas mendorong para peneliti untuk dapat menghilirkan hasil-hasil riset agar tidak sekadar menjadi makalah, namun sungguh-sungguh menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Untuk itu, menurutnya diperlukan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dari pemerintah maupun masyarakat, untuk mewujudkan pemanfaatan energi nuklir di Indonesia.

“Menurut teman-teman salah satu yang potensial torium. Dari sisi teknologi kita sudah menguasai jadi tidak perlu bergantung kepada impor. Teman-teman juga sudah bisa mewujudkan bagaimana limbahnya nanti bisa dimanfaatkan menjadi baterai,” ujar Nizam.



Sumber: Suara Pembaruan