Dua Remaja Indonesia Temukan Aplikasi Teknologi Nano

Dua Remaja Indonesia Temukan Aplikasi Teknologi Nano
Dua remaja putri Indonesia yaitu Alicia Chan (15 tahun) dan Aileen Bachtiar (16 tahun), siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School melakukan penelitian teknologi nano saat mengikuti sekolah musim panas di Columbia University dan University of Pennsylvania, Amerika Serikat pada Juli 2019 selama 21 hari. ( Foto: Dok )
Indah Handayani / WBP Minggu, 9 Februari 2020 | 07:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Teknologi nano masih belum popular di Indonesia dan masih dipandang sebelah mata. Padahal teknologi nano dapat memberikan kemudahan bagi manusia untuk kehidupan lebih baik di masa depan. Teknologi nano merupakan teknologi yang menggunakan skala nano atau sepersemilyar dengan sifat material pada ukuran nano atau atom.

Meski masih awam bagi kebanyakan orang Indonesia, namun tidak bagi dua remaja putri Indonesia yaitu Alicia Chan (15 tahun) dan Aileen Bachtiar (16 tahun), siswi kelas 11 Jakarta Intercultural School. Alicia dan Aileen melakukan penelitian teknologi nano saat mengikuti sekolah musim panas di Columbia University dan University of Pennsylvania, Amerika Serikat pada Juli 2019 selama 21 hari.

Alicia Chan mengatakan sejak kecil dirinya selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan sains. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, tapi faktanya masih banyak orang yang hidup dalam garis kemiskinan. Selain itu, perkembangan teknologi di Indonesia masih tertinggal jauh dari negara tetangga.

"Pada saat mengikuti sekolah musim panas di Columbia University, saya merasakan perbedaan yang sangat jauh di pemanfaatan teknologi, padahal pemanfaatan teknologi bisa sangat membantu kehidupan masyarakat,” ujar Alicia Chan dalam keteranagn pers Minggu (9/2/2020).

Selama di Columbia University ada satu penelitian yang menarik perhatian Alicia yaitu Superhydrophobicity, yang membuat sebuah benda memiliki permukaan anti-air. Salah satu hasilnya adalah jika cairan spray Superhydrophobicity disemprotkan ke suatu benda, maka benda tersebut memiliki tekstur nano seperti daun lotus.

Nama teknik ini adalah Biomimicry, dimana karakteristik organisme (lotus) ditiru untuk meningkatkan kehidupan sehari-hari. Aplikasi dari cairan spray Superhydrophobicity ini dapat diaplikasikan ke segala permukaan sebagai antibocor termasuk atap rumah.

Alicia menjelaskan dengan menggunakan konsep penelitian “Self-assembling monolayer”, sebuah permukaan bisa dibuat sangat antiair seperti permukaan teflon.

Sementara Aileen Bachtiar menemukan bentuk alternatif lain pengawet makanan yaitu Nanopartikel Perak untuk pembuatan minuman anggur. Aileen sejak lama tertarik dalam bidang makanan dan minuman. Pada saat belajar tentang teknologi nano di University of Pennsylvania, Aileen kagum dengan potensi aplikasi teknologi nano di bidang makanan.

Sulfit yang saat ini banyak digunakan untuk pengawet anggur memiliki efek berbahaya dalam jangka panjang bagi kesehatan seperti hipotensi dan bronkospasme. "Target penelitian saya adalah menemukan bentuk alternatif pengawet lain yang efektif sebagai pengganti sulfit, sehingga dapat mengurangi etek berbahaya bagi kesehatan," kaata Aileen Bachtiar.

Solusi Nanopartikel Perak (yang dibuat dari ion perak) juga bisa diterapkan pada makanan atau minuman lain seperti pada kemasan makanan yang dapat meningkatkan umur simpan, hinga obat (farmasi) yang memungkinkan penyerapan obat oleh tubuh manusia menjadi lebih maksimal.



Sumber: BeritaSatu.com