Fenomena Antariksa Tahun 2020 Tak Seistimewa 2019

Fenomena Antariksa Tahun 2020 Tak Seistimewa 2019
Supermoon. ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / CAH Selasa, 11 Februari 2020 | 06:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tahun 2020 merupakan tahun kabisat. Namun Pusat Sains Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebut tidak ada fenomena antariksa istimewa di tahun ini. Berbeda dengan tahun sebelumnya di 2019, terjadi fenomena gerhana matahari cincin.

Tahun kabisat adalah tahun terkait pembulatan matematika dari revolusi bumi mengitari matahari sebanyak 365,253 hari dalam setahun, sehingga perlu pembulatan setiap 4 tahun. Bedanya di tahun kabisat, kalender di Februari sampai dengan tanggal 29. Sedangkan tahun non kabisat hanya sampai 28 Februari.

Kepala Pusat Sains Antariksa Lapan Clara Yono Yatini mengatakan, berbeda dengan tahun 2019, dimana terjadi gerhana matahari cincin, di tahun 2020 tidak ada fenomena antariksa yang istimewa.

"Beberapa fenomena antariksa yang bisa diamati antara lain hujan meteor, gerhana bulan penumbra dan purnama perigee. Kalau hujan meteor setiap tahun memang terjadi setiap tahun," katanya di Jakarta, Senin (10/2/2020).

Sementara itu, terkait fenomena supermoon menurut Clara, istilah ini menjadi populer di publik, tetapi di astronomi tidak ada istilah ini. Istilah astronomi dari fenomena ini adalah purnama perigee. Peristiwa ini terjadi kalau bulan purnama terjadi pada jarak terdekat dengan bumi (perigee). Purnama perigee kata Clara akan terjadi lagi pada 8 April 2020. Sebelumnya purnama perigee juga terjadi di akhir Januari 2020.

Selain itu, secara rutin Pusat Sains dan Antariksa Lapan juga terus mengamati aktivitas matahari. Ia menyebut, di tahun 2020 matahari lebih banyak tenang dan tidak ada aktivitas berarti.

Clara menjelaskan, jika aktivitas matahari gejolak akan terjadi badai matahari. Kondisi ini akan membuat ledakan yang akan melontarkan partikel berenergi tinggi. Akibatnya bumi akan mendapatkan gangguan.

Jika kondisi itu terjadi, akan menganggu aktivitas satelit sehingga komunikasi frekuensi radio akan terganggu. Selain itu badai matahari juga bisa menyebabkan gangguan geomagnet.

"Geomagnet ini sangat penting bagi seseorang yang sedang melakukan pengukuran berdasarkan medan magnet bumi. Misalnya saja survei, jika ada gangguan medan magnet maka hasilnya tidak akurat," paparnya.

Pusat Sains dan Antariksa Lapan pun akan terus meningkatkan pengamatan matahari seiring dengan dibangunnya pusat observatorium nasional di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tahun 2020 rencana pengadaan teleskop besar akan dilakukan. 

 



Sumber: Suara Pembaruan