Armada Teknologi Modifikasi Cuaca Perlu Diperkuat untuk Operasi Malam Hari

Armada Teknologi Modifikasi Cuaca Perlu Diperkuat untuk Operasi Malam Hari
Personel TNI Angkatan Udara memasukkan penampung garam atau "consul" pada Pesawat CN 295 untuk melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat 3 Januari 2020. (Foto: Antara)
Ari Supriyanti Rikin / CAH Senin, 2 Maret 2020 | 18:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pertumbuhan awan hujan yang masif di malam hari menyulitkan operasi modifikasi cuaca. Sebab saat ini operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) hanya bisa dilakukan pagi hingga sore hari. Padahal, potensi pertumbuhan awan yang kerap memicu hujan lebat hingga ekstrem tumbuh di malam hari.

Untuk bisa memaksimalkan operasi TMC di malam hari, diperlukan tambahan teknologi dan dukungan armada pesawat sehingga TMC bisa menyemai awan hujan pada malam hari. Pada prinsipnya, TMC dilakukan dengan menyemai awan potensi hujan sehingga jatuh di lautan sebelum awan bergerak ke daratan. Kalaupun ada awan yang bergerak ke daratan curah hujan yang ditimbulkan tidak ekstrem.

Baca JugaTMC Jabodetabek Hanya untuk Mengurangi Curah Hujan

Kepala Balai Besar TMC Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan, armada TMC perlu diperkuat agar dapat melaksanakan penerbangan malam hari.

Awan-awan mulai tumbuh secara masif pada malam hari dan terjadi hujan lebat pada malam hingga dini hari bahkan sampai dengan pagi hari. Awan-awan seperti ini di luar jangkauan kemampuan armada TMC yang ada saat ini.

"Keterbatasan operasional tim TMC Jabodetabek selama ini hanya bisa melakukan penyemaian pada awan-awan yang tumbuh pada pagi hingga siang menjelang sore," katanya di Jakarta, Senin (2/3/2020).

Menurutnya pertimbangan keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama sehingga penyemaian awan hanya dilakukan pada saat kondisi visual yang memadai, yaitu rentang waktu setelah terbit matahari hingga menjelang terbenam matahari.

"Mudah-mudahan ke depan, kami berharap armada TMC direvitalisasi agar mampu beroperasi pada malam hari," ucapnya.

Baca JugaKecerdasan Buatan Buat Operasi Modifikasi Cuaca Lebih Akurat

Seto menjelaskan, untuk memaksimalkan operasi TMC di malam hari, armada pesawat hari dilengkapi tambahan teknologi kamera infra red  sistem night vision. Peralatan ini bisa dibeli dan kru TMC diberi pelatihan dalam pengoperasiannya. Untuk pembelian alat tersebut diperkirakan miliaran rupiah. Tapi untuk pesawat yang belum dilengkapi sistem tersebut biaya lebih dari Rp 10 miliar. Saat ini tambahnya, pesawat TNI jenis CN295 sudah dilengkapi sistemnya.

Alternatif lain dalam penyemaian awan hujan di malam hari adalah dengan roket. Nantinya roket diluncurkan dari darat. Saat ini kata Seto, BPPT dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) sudah mengembangkan teknologi tersebut. Tetapi masalah izin operasi tidak mudah mengingat padatnya jalur udara kota-kota di Indonesia apalagi Jakarta.

Untuk armada pesawat pendukung TMC, Seto juga berharap ada revitalisasi. Sebab saat ini BPPT punya pesawat untuk TMC tapi tergolong tua, umurnya lebih dari 25 tahun. Saat ini kondisinya pun rusak. Saat ini BPPT sedang mengusulkan pembelian pesawat baru. Untuk TMC yang saat ini dilakukan, BPPT mendapat bantuan armada dari TNI Angkatan Udara.

Penambahan teknologi dan kondisi pesawat yang prima lanjutnya bisa mengoptimalkan TMC pada malam hari. Apalagi pertumbuhan awan hujan kerap terjadi pada malam hari dan hujan pada dini hari terjadi hampir di setiap musim hujan.



Sumber: BeritaSatu.com