Pola Hidup New Normal Mengacu pada Kajian Ilmiah

Pola Hidup New Normal Mengacu pada Kajian Ilmiah
Warga menggunakan masker saat menggunakan angkutan TransJakarta, di Jakarta, Minggu, 17 Mei 2020. Terjadinya pandemi Covid-19 telah menurunkan angka pengguna angkutan umum di area Jabodetabek. Penurunan besar terjadi setelah diterapkannya PSBB. Untuk layanan TransJakarta, mengalami penurunah hingga 90%, Padahal di bulan Januari 2020 ketika kondisi masih normal, TransJakarta bisa mengangkut penumpang mencapai 840 ribu orang/hari. ( Foto: Beritasatu Photo / Ruht Semiono )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Senin, 18 Mei 2020 | 23:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Belum ditemukannya kandidat obat dan vaksin yang paling akurat menyembuhkan Covid-19, membuat manusia harus menata dan menjalani pola dan gaya hidup baru (New Normal). Namun agar kondisi New Normal berjalan efektif, penerapannya harus mengacu pada kajian epidemiologi dan riset (kajian ilmiah).

Riset dalam kehidupan New Normal ini menjadi landasan penting, sehingga protokol kesehatan yang diterapkan dilakukan berdasarkan alasan ilmiah yang kuat. Oleh sebab itu, kebijakan juga harus berdasarkan kajian ilmiah.

Menteri Riset Teknologi/Kepala Badan Riset Inovasi Nasional Bambang Soemantri Brodjonegoro mengatakan, dari konsorsium riset percepatan penanganan Covid-19 yang sudah terbentuk dan berjalan, perlu juga fokus melakukan kajian bagaimana protokol New Normal bagi kehidupan masyarakat ke depannya.

Saat ini konsorsium riset terdiri dari gabungan lembaga penelitian, perguruan tinggi, industri berkolaborasi dalam riset alat kesehatan, alat tes cepat, obat dan vaksin untuk Covid-19. Sejumlah prototipe alat tes cepat (rapid test), ventilator, suplemen kesehatan sudah dibuat dan siap diproduksi massal.

"Selain obat dan vaksin, kita juga perlu mempersiapkan paradigma atau norma baru. Bagaimana riset sosial humaniora melakukan hal itu, selagi vaksin belum ditemukan,” katanya dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Senin (18/5/2020).

Bambang menyebut, pandemi dalam sejarahnya terjadi setiap 100 tahun. Semua negara tidak ada yang punya cukup pengalaman menghadapi pandemi baru. Oleh karena itu dengan segala keterbatasan yang ada, riset dan inovasi harus berkontribusi.

Ia menjelaskan, DBD dan HIV sampai dengan saat ini pun belum ada vaksinnya. Tetapi untuk DBD ada terapi dengan transfusi darah dan HIV ada obatnya. Namun untuk Covid-19, vaksin sedang dicari dan butuh waktu.

Ketika ada dorongan New Normal di tengah Covid-19 tentunya implementasinya tidak akan sama di semua daerah. Pola hidup baru itu mengacu pada karakteristik suatu daerah. Banyak riset yang bisa digali terkait riset inovasi untuk menghadapi era baru. Banyak aspek penelitian sosial yang bisa dilakukan, misalnya melihat sejauh mana masyarakat siap menghadapi kenyataan dan kondisi, di mana kondisi normal sebelumnya tidak akan ditemukan lagi.

Bambang mencontohkan tes cepat akan menjadi sesuatu yang penting ke depan untuk mengetahui apakah seseorang positif Covid-19 atau tidak. Kemudian riset terkait menjaga jarak fisik dan sosial di setiap sektor ekonomi juga harus dilakukan mengacu pada kajian epidemiologi. 



Sumber: BeritaSatu.com