Toshiba Kembangkan "Hotel Hidrogen” Pertama di Dunia

Toshiba Kembangkan
Sistem sel bahan bakar hidrogen murni 'H2RexTM' yang diterapkan di Kawasaki King Skyfront Tokyu REI Hotel. (Foto: Beritasatu Photo / Dok. Toshiba)
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 29 Juli 2020 | 23:53 WIB

Kawasaki, Beritasatu.com - Polusi dan sampah plastik di laut sekarang menjadi masalah global. Bahkan, kedua hal tersebut dianggap sebagai masalah utama dalam konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 di tahun 2019.

Berawal dari kondisi tersebut, Jepang memiliki solusi alternatif dalam merancang pemafaatan sampah plastik, melalui proses daur ulang menjadi bahan hidrogen, yang bisa mengalirkan energi panas dan listrik.

Metode ini yang dikembangkan oleh Toshiba ini, sekarang sedang dieksplorasi di Kota Kawasaki, yang sering disebut dengan proyek "Strategi Hidrogen Kawasaki"untuk mengimplementasikan dan memanfaatkan energi hidrogen secara efektif.

Satu dari upaya tersebut mengerucut pada "hotel hidrogen" yang secara resmi dikenal sebagai Kawasaki King Skyfront Tokyu REI Hotel, yang pertama kali dibuka pada 1Juli 2020. Proyek ini dinilai sangat inovatif, karena membuat hidrogen dari plastik bekas untuk mendukung sekitar 30 persen kebutuhan energi hotel.

Setelah pembukaannya, hotel ini juga melakukan tes dengan menjalankan proses daur ulang sejumlah perlengkapan kamar hotel seperti sikat gigi, dan sisir rambut, sebagai bahan baku untuk produksi hidrogen. Hotel hidrogen ini dimungkinkan melalui teknologi Showa Denko dan Toshiba.

"Proyek ini mengharuskan kami menghubungkan setiap langkah dalam rantai pasokan, dari plastik limbah ke hotel, secara satu per satu. Yang penting adalah mencari tahu bagaimana menghubungkan rantai pasokan hidrogen ini di Kota Kawasaki," kata Manajer Grup Perencanaan di Pabrik Kawasaki di Showa Denko KK, Shotaro Takayama, seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Rabu (29/7/2020).

Menurut Takayama, Showa Denko mendaur ulang 195 ton plastik limbah sehari, dan telah menerapkan proses pembuatan inovatif yang disebut "Kawasaki Plastic Recycle (KPR)" yang menggunakan limbah plastik sebagai bahan baku untuk produksi amoniak.

"Proses ini mendaur ulang limbah plastik menjadi hidrogen, dan hidrogen dipasok ke hotel. Untuk menyelesaikan rantai pasokan hidrogen, mereka membutuhkan teknologi yang dapat mengubah hidrogen ini menjadi panas dan tenaga listrik," tandas Takayama.

Spesialis Departemen Desain Sistem Divisi Bisnis Energi Hidrogen, Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation, Takahiko Abe, menambahkan, Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation telah mengembangkan produk yang disebut 'H2Rex' yang merupakan suatu sistem sel bahan bakar hidrogen murni, untuk mengubah hidrogen menjadi panas dan tenaga listrik tanpa menghasilkan CO2.

"Pada saat proyek ini dilaksanakan, perusahaan telah menerapkan sistem ini di lebih dari 100 lokasi, termasuk supermarket dan toko serba ada," jelas Takahiko Abe.

Menurut Abe, tidak butuh waktu lama bagi perusahaan untuk menyadari kedua teknologi ini dapat digabungkan menjadi sesuatu yang luar biasa. Namun, membangun rantai pasokan hidrogen yang sebenarnya tidaklah mudah.

"Melalui trial and error, kami menggabungkan pengetahuan yang kami peroleh dari kasus lain. Ada sedikit kekhawatiran tentang apakah kami akan bisa selesai tepat waktu untuk pembukaan. Namun, tim penjualan dan teknologi kami dan tim yang ada di Showa Denko benar-benar datang bersama untuk menyelesaikannya, dan kami dapat membuat sistem sel bahan bakar yang dapat memberikan daya listrik yang stabil ke hotel," tandas Takahiko Abe.

Spesialis Departemen Pengembangan Bisnis Divisi Bisnis Energi Hidrogen, Toshiba Energy Systems & Solutions Corporation, Takayuki Suzuki menambahkan, dengan hotel hidrogen, pihaknya dapat bekerja dengan Showa Denko dan menciptakan sistem yang menghasilkan energi dari sampah.

"Pembuangan plastik limbah sekarang menjadi masalah sosial tidak hanya di Jepang, tetapi di wilayah di seluruh dunia. Kami ingin mengambil pengetahuan yang kami peroleh dari hotel hidrogen ini dan memberikannya secara global sebagai solusi untuk area yang mengalami masalah seperti ini," kata Suzuki.



Sumber: BeritaSatu.com