PBNU Menyebarkan Islam Ramah HAM

PBNU Menyebarkan Islam Ramah HAM
Euis Rita Hartati / ERH Sabtu, 17 Maret 2018 | 21:55 WIB

Jakarta - Dalam rangka pengarusutamaan kultur Hak Asasi Manusia (HAM) di tengah masyarakat luas, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PB NU) dan Foundation for International Human Rights Reporting Standards (FIHRRST) bekerja sama dalam melaksanakan pelatihan HAM bagi para mahasiswa dan santri senior.

“Diskusi seperti ini sangat membantu memperluas pemahaman para mahasiswa dan santri senior atas HAM dan akan memperluas wilayah toleransi bagi orang lain yang memiliki agama atau kepercayaan berbeda dari para santri,” ungkap Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad, dalam siaran pers.

Dia mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Urwatul Wutsqo, Jombang, Jawa Timur. Pelatihan HAM tersebut mengambil tema “Halaqah Islam Ramah HAM: Islam Wa Al-Huquq Al-Insaniyyah Perspektif Hukum dan Aswaja”. HAM adalah hak yang dimiliki manusia sejak lahir, berlaku seumur hidup dan bersifat kodrati sebagai pemberian Tuhan Yang Maha Pencipta. Undang Undang Dasar 45 dan khususnya UU No 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia telah secara jelas menguraikan hak-hak asasi manusia yang dijamin dan dilindungi oleh negara.

Untuk menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya hak asasi manusia di tengah masyarakat, idealnya dapat dimulai dengan pendidikan HAM untuk setiap kalangan. Para santri terlihat antusias berdiskusi mengenai sejarah dan filosofi dasar HAM.

Salah satu pendiri FIHRRST Makarim Wibisono mengatakan, kesediaan beberapa perguruan tinggi Islam dan pesantren di Jombang mengirimkan para mahasiswa santri senior untuk mengikuti pelaksanaan pelatihan HAM menjadi bukti bahwa nilai-nilai HAM dan toleransi yang disebarkan oleh Gus Dur yang lahir di Jombang, telah tertanam dengan kuat di masyarakat Jombang.

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah al-Urwatul Wutsqo (STIT-UW) Jombang, Istibsjaroh sangat mendukung terlaksananya kegiatan pelatihan Islam ramah HAM ini. Dia berpendapat masih banyak masyarakat yang belum mengerti masalah HAM secara mendetail.
"Kegiatan ini sangat diperlukan untuk memberikan wawasan yang luas tentang HAM untuk mahasiswa dan santri, karena itu perlu diadakan secara reguler," ucapnya.

 



Sumber: PR