Ini Pemicu Perang Dagang AS-Tiongkok

Ini Pemicu Perang Dagang AS-Tiongkok
Ilustrasi perang dagang Amerika-Tiongkok. ( Foto: Asia Financial Publishing )
Heru Andriyanto / HA Jumat, 23 Maret 2018 | 04:37 WIB

Washington - Pemerintah Amerika Serikat resmi menerbitkan ancaman tarif hingga US$ 60 miliar atas impor dari Tiongkok, Kamis (22/3) waktu setempat, yang memicu kekhawatiran adanya tindakan balasan dari Beijing dan pada akhirnya mendorong terjadinya perang dagang skala global.

Sikap tegas pemerintahan Donald Trump atas Tiongkok dimulai Agustus 2017 ketika Utusan Perdagangan AS Robert Lighthizer melancarkan penyelidikan atas dugaan pencurian hak cipta intelektual AS di Tiongkok, meliputi paten-paten perangkat lunak, aplikasi telepon seluler, dan teknologi lainnya.

Perekonomian AS ditopang oleh kegiatan usaha bidang jasa seperti perusahaan teknologi, sehingga pencurian hak cipta intelektual bisa sangat memukul ekonomi negara itu.

Pemerintah AS fokus pada empat tuduhan terhadap Tiongkok yang dilaporkan oleh perusahaan-perusahaan AS, yaitu:

1. Perusahaan-perusahaan Tiongkok memaksa mereka menjalin kemitraan, kemudian mencuri teknologi dan pada akhirnya memutus kongsi.

2. Perusahaan-perusahaan Tiongkok menggunakan dana pemerintah untuk mencuri inovasi dan rahasia teknologi AS.

3. Tiongkok menggunakan "cyber intrusions" ke dalam jaringan perdagangan AS untuk melakukan spionase dagang.

4. Perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di Tiongkok tidak memiliki hak cipta yang sama seperti perusahaan-perusahaan lokal.

Kamis (22/3), pemerintahan Trump mengatakan telah menemukan bukti nyata bahwa Tiongkok bersalah atas setiap tuduhan tersebut.

Trump kemudian menerapkan Undang-Undang Perdagangan tahun 1974 untuk menangani masalah ini. UU tersebut pernah diterapkan 49 kali di era Ronald Reagan, namun kemudian makin jarang dipakai sejak berdirinya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 1995.

Dengan UU tersebut, Trump bisa menyerang negara lain dengan kebijakan tarif tanpa butuh persetujuan Kongres.

Dalam 15 hari ke depan, Robert Lighthizer akan mengumumkan daftar produk-produk yang bisa terkena tarif. Selain itu, Gedung Putih juga berencana menerapkan kebijakan yang bisa membatasi investasi Tiongkok di AS.

Di pihak lain, Tiongkok bisa melakukan tindakan balasan yang juga akan memukul perekonomian AS.

Selasa lalu, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang mengingatkan AS agar menghindari terjadinya perang dagang dua negara tersebut.

"Perang dagang tidak bagus bagi siapa pun. Tidak akan ada pemenangnya," kata Li di Beijing.

Tiongkok adalah salah satu pembeli terbesar produk pertanian AS, termasuk kedelai dan sorghum. Tiongkok bisa membalas dengan pengenaan tarif, atau beralih ke pemasok lain seperti Brasil dan Argentina.

Selain itu, Tiongkok adalah kreditor terbesar bagi AS, dengan cara memiliki obligasi terbitan AS.



Sumber: CNN Money