BPOM Jambi Tarik 62.191 Ikan Kaleng Diduga Mengandung Cacing

BPOM Jambi Tarik 62.191 Ikan Kaleng Diduga Mengandung Cacing
Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan Kota Pekanbaru menunjukkan kemasan produk impor ikan makerel kaleng yang terbukti mengandung cacing di Kota Pekanbaru, Riau, Rabu (21/3). Hasil uji laboratorium BBPOM Pekanbaru menunjukkan ada tiga merek produk impor ikan makerel kaleng dari Tiongkok yang mengandung cacing Anisakis sp, sehingga perusahaan importir harus segera menarik semua produk dari peredaran agar masyarakat tidak mengonsumsinya karena berbahaya bagi kesehatan. ( Foto: ANTARA FOTO / FB Anggoro )
Radesman Saragih / JAS Senin, 26 Maret 2018 | 08:53 WIB

Jambi - Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Jambi hingga Minggu (25/3) sudah menarik sekitar 62.191 produk ikan kaleng dari peredaran. Makerel kemasan kaleng yang diduga mengandung cacing tersebut ditarik dari 62 outlet (tempat penjualan) ikan sarden di Kota Jambi dan lima kabupaten di Provinsi Jambi.

“Seluruh ikan sarden kaleng yang ditarik dari peredaran dititipkan di gudang agen atau distributor sarden. Dalam waktu dekat kami akan melakukan penelitian mengenai sarden yang diduga mengandung cacing tersebut. Saat ini kami baru menarik ikan sarden kaleng yang diduga mengandung cacing dari peredaran,”kata Kepala BPOM Jambi, Ujang Haryadi di Jambi, Minggu (25/3).

Menurut Ujang, pihaknya sudah mengeluarkan surat kepada seluruh agen atau distributor ikan makerel di Jambi agar menarik produk yang diduga mengandung cacing dari pasaran. Produk ikan makerel yang harus segera ditarik dari peredaran yakni merek Farmerjack, Hoki, dan IO.

Penarikan produk ikan kaleng tersebut, lanjut Ujang sudah dilakukan di Kota Jambi, Kabupaten Batanghari, Tanjungjabung Barat, Sarolangun, Bungo, dan Tebo. Sedangkan penarikan sarden kaleng dari Kota Sungaipenuh, Kabupaten Kerinci, Tanjungjabung Timur, Muarojambi dan Merangin belum seluruhnya dilakukan.

“Untuk itu tim BPOM Jambi akan turun ke lapangan memeriksa peredaran ikan sarden yang diduga mengandung cacing tersebut. Kami usahakan agar tidak ada sarden mengandung cacing beredar di Jambi,” ujarnya.

Ditemukan Cacing

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi, Ida Yuliati mengatakan, berdasarkan hasil uji sampel sarden kaleng di Kota Jambi, Sabtu (24/3), ditemukan ikan mengandung cacing. Ikan kaleng yang mengandung cacing tersebut bermerek LSC.

“Kami memeriksa isi beberapa sarden kaleng berbagai merek, yakni ABC, Bantan, Mackerel, dan LSC. Cacing yang kami temukan hanya dalam sarden merek LSC. Empat kaleng sarden LSC yang kami periksa mengandung cacing. Karena itu kami langsung meminta pengusaha toko menarik sarden tersebut. Temuan tersebut juga langsung kami laporkan ke BPOM Jambi,”katanya.

Dijelaskan, makerel merek LSC yang mengandung cacing tersebut produk PT Srijaya Raya Perkasa, Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Makerel kaleng tersebut beredar luas di toko-toko dan pasar swalayan. Para pengusaha toko, pasar swalayan dan warung makanan di Jambi diminta tidak lagi menjual ikan kaleng yang mengandung cacing tersebut.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi II (bidang kesra) DPRD Kota Jambi, Sutiono meminta BPOM Jambi, pemerintah provinsi, kota dan kabupaten di Jambi bertindak tegas menghentikan peredaran ikan yang diduga mengandung cacing.

“Jangan diberi lagi toleransi terhadap agen, distributor, dan pedagang untuk menjual sarden yang diduga dan sudah terbukti mengandung cacing. Bila peredaran sarden ini dibiarkan, masyarakat semakin resah,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Jambi, Ibnu Kholdum. Menurut Ibnu, adanya temuan mengenai kaleng mengandung cacing di Kota Jambi menjadi salah satu bukti bahwa peredaran sarden mengandung cacing di Jambi cukup luas hingga ke pelosok.

“Karena itu BPOM Jambi dan pemerintah daerah segera menarik produk ikan sarden yang diduga mengandung cacing di seluruh kota dan kabupaten. Gudang para agen, distributor dan pedagang yang menjualsarden juga harus diperiksa agar mereka tidak menyembunyikan produk sarden tersebut,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan