Mushaf Alquran Sulaman Raksasa Bawa Pesan Kerukunan

Mushaf Alquran Sulaman Raksasa Bawa Pesan Kerukunan
Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban, Prof M Din Syamsuddin, bersama Tan Sri Lee Kim Yew, tengah melihat mushaf Alquran. ( Foto: Beritasatu Photo/Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Senin, 4 Juni 2018 | 20:11 WIB

Jakarta - Indonesia baru saja menerima hadiah luar biasa dari seorang penganut Khonghucu berwarganegaraan Malaysia dan bersimpati pada Islam, Tan Sri Lee Kim Yew. Melalui Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban, Prof M Din Syamsuddin, Tan menyumbangkan mushaf Alquran sulaman raksasa kepada umat Islam di Indonesia.

Rencananya, mushaf Alquran sulaman raksasa ini akan diserahkan langsung kepada Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, bertepatan dengan peringatan Nuzulul Quran. Selanjutnya, mushaf Alquran ini akan diserahkan kepada Kementerian Agama. Din pun berharap, mushaf Alquran ini ditempatkan di tempat terhormat dan dibaca oleh umat Islam.

Apa yang dilakukan Tan, lanjut Din menjadi simbolisasi perdamaian dan kerukunan. Sebuah peradaban yang dibangun dalam sebuah dialog yang memang harus dibangun antar-umat beragama.

"Ini menjadi peristiwa bersejarah, ada seorang non Muslim mau menyumbangkan sesuatu yang berharga ini. Tan bahkan menyebut Alquran merupakan vitamin rohani baginya," kata Din di sela-sela Forum Dialog Islam-Khonghucu di Jakarta, Senin (4/6).

Tan Sri Lee Kim Yew adalah seorang pengusaha besar warga negara Malaysia. Ia juga memimpin lembaga sosial yang berbasis di Malaysia, Cheng Ho Multicuture Education Trust.

Mushaf Alquran sulaman raksasa yang dibuat secara manual dengan tangan (hand-made) merupakan produk peradaban yang bernilai tinggi sebagai sumbangan dari masyarakat Tiongkok untuk dunia Islam. Mushaf ini dibuat oleh komunitas Muslim Haiyuan, Ningxia, Provinsi Otonomi Khusus Muslim di Tiongkok, yang memiliki tradisi kuat dalam menyulam.

Mushaf Alquran ini sepanjang 17 meter dan lebar 1,5 meter dalam 1 gulungan sehingga total ada 450 meter. Pembuatannya membutuhkan ketelatenan, ketelitian dan ketrampilan khusus sulam. Total pembuatannya pun memakan waktu hampir 3 tahun.

Din yang sudah mengenal Tan lebih dari 15 tahun mengisahkan, awalnya Tan berniat menyumbangkannya kepada umat Islam melalui Raja Saudi Arabia, yang dikenalnya sebagai pusat Agama Islam. Lantas Din mengusulkan mengapa tidak melalui Presiden Indonesia, negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Tan Sri pun akhirnya setuju.

Din Syamsuddin pun kemudian mengirim ahli penghapal Alquran Dr Ghilmanul untuk memastikan kebenaran penulisan mushaf. Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir berangkat ke Ningxia untuk mengoreksinya, dan diketahui hanya ada beberapa kesalahan minor yang segera diperbaiki.

Din Syamsuddin menjelaskan, dipilihnya Indonesia sebagai pihak untuk menerima Alquran sulaman raksasa merupakan cerminan pentingnya posisi Indonesia bagi dunia Islam. Karenanya, penyerahan Alquran sulaman raksasa tersebut memberikan makna simbolik bagi kerukunan Tionghoa dan Non-Tionghoa untuk menjadi jembatan kebudayaan di Indonesia, serta merekatkan hubungan dan pemahaman budaya Tiongkok dan dunia Islam.

Menurut Din, mushaf Alquran sulaman besar yang dibuat di Tiongkok dan disumbang oleh seorang Tionghoa beragama Khonghucu ini adalah lambang kedekatan Tiongkok/Tionghoa dengan Islam. Penyerahan mushaf ini kepada umat Islam adalah bentuk dialog antar peradaban yang niscaya.

"Bahwa dialog itu menggunakan medium kitab suci adalah karena dialog, antar agama maupun antar-peradaban, haruslah berlangsung dalam kesucian hati dan pikiran," ucapnya.

Lebih lanjut, Din menyampaikan, Tan Sri Lee Kim Yew masih memiliki mimpi besar yang luar biasa. Tan berniat lagi menyumbang sebuah masjid serba tembaga yang akan dibangun di pesantren yang Din asuh, Pesantren Modern Internasional Dea Malela, di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Tan juga ingin membangun patung perdamaian yang tingginya bisa seperti patung Liberty di Amerika Serikat (AS).



Sumber: Suara Pembaruan