Lembar Cerita Baru Awkarin di Palu

Lembar Cerita Baru Awkarin di Palu
Awkarin ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / FMB Minggu, 28 Oktober 2018 | 20:09 WIB

Jakarta - Nama Awkarin (20) mungkin sudah tidak asing lagi bagi para warganet. Dulu, dirinya kerap kali membuat heboh jagad dunia maya karena perbuatan atau karyanya yang dianggap kontroversi. Namun siapa sangka? Kini Awkarin memberanikan diri untuk membuka lembaran baru, dan mengisinya dengan cerita-cerita inspiratif.

Salah satunya adalah mengenai pengalamannya menjadi volunteer atau relawan untuk korban Palu dan Donggala. Pelantun lagu Candu menceritakan dengan detail dan emosional kepada ratusan anak muda di Milenial Festival, pada Minggu (28/10).

“Jadi kemarin itu sebenarnya bukan acara sosial pertama yang aku lakuin, cuma ini pertama kalinya aku jadi relawan. Sesampainya di Palu, keadaan di sana sudah dalam keadaan yang lebih baik, tetapi belum kondusif. Kalian bakal sedih banget. Ada tulisan di depan rumah 'Istana saya sudah jadi gubuk',” ungkap Karin menahan tangis.

Tidak hanya menjadi seorang relawan, tujuan utama lainnya adalah Karin ingin mengantarkan langsung uang donasi yang ia kumpulkan selama kurang lebih satu minggu. "Jadi aku udah menggalang dana lewat Kitabisa.com, dari dana yang aku kumpulin selama seminggu itu mencapai Rp 200 juta. Dan aku merasa punya kewajiban untuk mengantarkannya langsung," kata Awkarin.

Setelah tiga hari di Palu, dari 16 sampai 18 Oktober 2018 dirinya mendapat banyak sekali kisah dan pembelajaran. Kini, dirinya mengaku jadi lebih paham tahap-tahap bantuan yang diperlukan untuk korban bencana.

“Jadi ada tiga tahap, pertama adalah tahap evakuasi, untuk korban jiwa dan luka-luka ringan dan berat. Kemudian, kedua adalah tahap pengungsian, di mana orang-orang bisa membantu membawa korban ke tempat pengungsian sementara, dan memberikan sumbangan berupa pakaian dan kebutuhan pokok. Dan yang terakhir, terkadang luput dari masyarakat adalah tahap recovery, yang justru lebih membutuhkan bantuan dan dana yang lebih besar,” terangnya.

Oleh karena itu, dirinya pun memiliki keinginan untuk kembali ke Palu pada akhir tahun nanti. "Mungkin banyak orang pikir, Karin udah donasi Rp 200 juta sudah cukup banyak, sebenarnya nggak. Tahap ketiga ini bahkan dibagi menjadi tiga, yaitu recovery mental, karena banyak yang masih mengalami trauma dan mata pencaharian, seperti membantu para nelayan dan petani untuk mendapatkan mata penchariannya lagi,” terangnya dengan yakin.

Semua rentetan peristiwa ini pun kemudian menjadi pondasi Karin untuk menyebarkan kebaikan lebih luas lagi. Pasalnya Karin menyadari bahwa, dirinya memiliki kekuatan besar untuk mempengaruhi banyak orang melalui sosial medianya.

“Banyak orang yang menanggapi dan mengakatakan bahwa ini semua semata-mata merupakan pencitraan, perbaikan image, dan bagian dari drama. Memang, kita tidak punya kontrol untuk membuat orang suka terhadap apa yang kita lakukan. Biar aku menjadi tameng, untuk dibilang pencitraan, yang terpenting aku sudah berusaha menyebarkan dan mendorong orang lain untuk melakukan kebaikan,” tukasnya.



Sumber: Suara Pembaruan